Detail

Blog Image

Perspektif Hukum Pidana Pada Seorang Psikopat

RSJRW : Devita Suci H., S.H

Pernahkah anda mendengar lirik-lirik ini? “Pretty girl, pretty, pretty girl, cease to exist.....just come and say you love me, give up your world, come on you could be....i'm your kind, oh your kind and i can see......walk on, walk on, i love you pretty girl, my life is yours and you can have my world.” Itu adalah potongan lirik dari salah seorang pria paling terkenal akan kisahnya yang sangat kelam di Amerika serikat pada akhir tahun 60-an.

Saat itu kondisi anak-anak muda Amerika sedang tidak baik-baik saja, pergolakan melawan kapitalisme dan bobroknya demokrasi seakan menambah bumbu diterimanya lirik-lirik tersebut. Tapi siapa sangka di kemudian hari pria asing itu membentuk sebuah sekte bernama “The Family”, sekte brutal pimpinan si pria yang akhirnya kita kenal dengan nama Charles Manson. Manson mampu memanipulasi dan meyakinkan para pengikutnya untuk melakukan kebrutalan-kebrutalan yang ia inginkan.

Kendali Manson atas pengikutnya tersebut begitu kuat, para anggota yang mayoritas adalah anak-anak muda tersesat itu rela mati demi dirinya dan tak menghendaki orang lain di luar sekte menyentuhnya. Apapun yang diperintahkan oleh Manson, seluruh kata-kata yang keluar dari mulutnya bagaikan titah yang wajib untuk dilakukan. Ia tidak membiarkan para anggotanya untuk merenungkan apa yang mereka lakukan, sebuah manipulasi dan kendali emosional dari seorang psikopat yang sangat luar biasa.

Pada akhirnya Manson dan para anggota sekte “The Family” tertangkap dan harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, tapi ternyata kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Amerika, di Indonesia pun sudah ada kasus-kasus yang melibatkan para psikopat dan tidak kalah sadis dibandingkan Charles Manson. Beberapa nama yang masih melekat di benak masyarakat contohnya Dukun AS alias Ahmad Suradji di era 1980-an dan Very Idham Henyansyah alias Rian Jombang di tahun 2008, Suradji mengaku dirinya sudah menghabisi 42 nyawa, sedangkan Rian 11 orang.

Lalu permasalahannya disini apakah dalam pandangan hukum, para psikopat tersebut bisa dijerat pidana? Sebelum berlanjut pada pembahasan tersebut mari kita cermati dulu apa itu psikopat. Menurut Prof. Robert D. Hare, Psikopatik merupakan istilah yang dituju pada penderita gangguan yang dialami oleh para psikopat, dimana mereka memiliki definisi gangguan kepribadian yang merusak hubungan secara sosial, dilihat dari hubungan antar pribadi yang mencakup karakteristik perilaku. Egosentris, manipulatif, kebohongan, kurangnya rasa empati, rasa bersalah atau penyesalan, serta kecenderungan untuk melanggar norma dan pernyataan umum yang legal.

Sedang menurut dr. Muhammad Iqbal Ramadhan dari klikdokter.com, hal yang paling mencolok dari seorang psikopat adalah ia dapat melakukan tindakan yang melanggar norma tapi ia tidak merasa bersalah, mereka juga identik dengan sikap impulsif. Pelaku melakukan suatu tindakan di luar aturan atau norma sosial yang ada, entah itu perusakan atau menyakiti orang lain. Untuk hal-hal yang merugikan pihak lain biasanya mereka tidak pernah merasa bersalah.

Kita ambil contoh Very Idham Henyansyah alias Rian Jombang, kasus ini menggemparkan seantero Indonesia kala itu, bagaimana tidak, Rian yang terlihat kalem, penuh senyum dan terkesan “baik-baik” saja ternyata menyimpan sesuatu yang sangat berbahaya dalam dirinya. Potongan-potongan tubuh yang ditemukan dalam tas dan plastik di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan diketahui adalah Heri Santoso, seorang manajer penjualan di sebuah perusahaan swasta berumur 40 tahun lantas membuka semua kedok Rian. Polisi bergerak cepat lantas berhasil menciduk Rian, dari sanalah terungkap bahwa Heri bukan lah yang pertama, Rian telah menghabisi 10 korban lain di kampung halamannya, Jombang.

Mengutip dari Tirto.id, berdasarkan keterangan yang dikumpulkan pihak kepolisian beberapa motif yang mendasari perbuatannya adalah motif ekonomi, walaupun juga beberapa didasari motif personal seperti cemburu dan rasa trauma masa kecilnya karena kekerasan yang dilakukan oleh ibunya membuat ia mendendam dan menyalurkan hasratnya dengan membunuh. Rian mampu merayu korbannya, mengajaknya bertemu di suatu tempat, lalu membawa mereka kerumahnya. Disana mereka dihabisi, lalu Rian merampas barang-barang berharga korban dan mengubur mereka di belakang rumah.

Dalam Pasal 44 ayat (1) KUHP berbunyi: “Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.”

Untuk itulah dalam ilmu hukum pidana terkait hal-hal yang menyangkut kejiwaan dikenal alasan penghapus pidana salah satunya alasan pemaaf. Menurut Hukumonline.com, alasan pemaaf adalah alasan yang menghapus kesalahan dari si pelaku suatu tindak pidana, sedangkan perbuatannya tetap melawan hukum. Jadi, dalam alasan pemaaf dilihat dari sisi orang atau pelakunya (subjektif). Misalnya, lantaran pelakunya tak waras atau gila sehingga tak dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya itu (Pasal 44 KUHP).

Dalam kasus Rian setelah diadakan pemeriksaan oleh Psikolog diketahui bahwa kepribadian Ryan sangat manipulatif, mudah bohong, agresif, tidak mudah ditebak, egosentrik, dan jika menginginkan sesuatu ia tidak melihat dari sisi moral. Atas perbuatannya maka Rian  mendapatkan vonis hukuman mati yang diputuskan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Depok Nomor : 1036 / Pid / B /2008 / PN.DPK. Tanggal 06 April 2009 dan dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor: 213 / Pid /2009 / PT.Bdg. tanggal 19 Mei 2009.

Walaupun ia sempat melakukan permohonan kasasi akan tetapi semua itu ditolak, keterangannya sebagai berikut yang dikutip dari hukumonline.com, dalam novum Peninjauan Kembali (PK) pada Putusan Mahkamah Agung No. 25 PK/Pid/2012 diketahui bahwa Prof. Dr. Farouk Muhammad dalam tulisannya tentang Kriminologi, Psikopatologi Dan Penegakan Hukum, Tinjauan dari Dimensi Pertanggungjawaban Pidana mengatakan: "Hasil pemeriksaan kejiwaan menyimpulkan tidak ada tanda-tanda gangguan jiwa berat terhadap Rian. Dia dapat dianggap tidak gila karena paham atau menyadari semua perbuatannya. Rian hanya patut disebut psikopat, berkepribadian sangat sensitif, mudah tersinggung, impulsif dan agresif.

Menurut Pakar Hukum Universitas Al-Azhar Supaji Ahmad yang menjelaskan kepada VOI bahwa dalam ranah pidana, psikopat tidak masuk ke dalam kategori gangguan kejiwaan. Sebab, psikopat lebih kepada permasalahan kepribadian. Di mana, masih memiliki akal sehat untuk berfikir atau menentukan suatu hal.

Untuk itulah maka Psikopat tidak mendapatkan alasan pemaaf seperti yang telah disebutkan dalam pasal 44 KUHP. Tidak ditemukannya indikasi-indikasi dalam diri Rian sebagai orang yang sedang mengalami gangguan jiwa berat untuk kemudian dikategorikan ODGJ yang menyebabkan Rian tetap harus menjalankan hukuman yang telah ditetapkan oleh pengadilan. Di Indonesia sendiri harus terus meningkatkan penelitian dalam bidang psikopat, banyak sekali aspek yang bisa dipelajari dan kemudian di sesuaikan dengan sistem hukum yang ada. Karena dengan adanya sistem hukum yang semakin tepat akan sangat berguna bagi penyelesaian kasus-kasus seperti ini. Dan juga untuk menghindari pemakluman masyarakat awam bahwa seorang psikopat tidak dapat diadili.

Editor : Anggi E.

Referensi :

  • Muhammad Iqbal Ramadhan dari klikdokter.com
  • id
  • Pasal 44 ayat (1) KUHP
  • com
  • Putusan majelis hakim PN Depok Nomor : 1036 / Pid / B /2008 / PN.DPK. Tanggal 06 April 2009
  • Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor: 213 / Pid /2009 / PT.Bdg. tanggal 19 Mei 2009
  • Peninjauan Kembali (PK) pada Putusan Mahkamah Agung No. 25 PK/Pid/2012 Prof. Dr. Farouk Muhammad dalam tulisannya tentang Kriminologi, Psikopatologi Dan Penegakan Hukum.
  • Pakar Hukum Universitas Al-Azhar Supaji Ahmad yang menjelaskan kepada VOI

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials