Detail

Blog Image

MEMAHAMI KONFLIK DALAM PERKAWINAN

Yuni Hermawaty, M.Psi

Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Demikian bunyi ketentuan Pasal 1 Undang-Undang 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Ketika seorang pria dan wanita memiliki ikatan perkawinan, maka dimulailah awal dari kehidupan keluarga di unit yang terkecil dalam suatu masyarakat. Meskipun keluarga merupakan unit yang terkecil, masalah yang ada di dalamnya bisa menjadi besar, kompleks dan rumit. Tidak jarang jika masalah bisa muncul seiring berjalannya waktu dalam perkawinan sehingga membutuhkan penanganan yang serius.

Penyebab konflik dalam kehidupan perkawinan contohnya

  1. Aadanya ekspresi emosi yang tidak sesuai antar pasangan sehingga menimbulkan perasaan sakit hati salah satu pasangan
  2. Komunikasi interpersonal antar pasangan yang tidak efektif
  3. Pengelolaan finansial yang tidak sesuai dengan kesepakatan atau tujuan
  4. Penyesuaian dalam kehidupan psikoseksual, pembagian tugas domestik yang tidak merata
  5. Perselingkungan yang terjadi baik dari suami atau istri
  6. Ketidakmampuan seseorang untuk menerima kekurangan pasangan dan membandingkan dengan kelebihan pihak lain
  7. Perbedaan kadar spiritual antar pasangan, perbedaan dalam pola suh anak, perbedaan kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut pada setiap pasangan.

Tentunya ketika pasangan suami istri mengeluhkan tentang masalah dalam kehidupan perkawinan ataupun masalah ketidakbahagiaan dalam rumah tangganya, hal ini bersumber pada hal yang sangat mendasar, yaitu adanya perbedaan kadar keterlibatan setiap individu tersebut (secara subjektif) pada berbagai masalah yang dihadapi.

Perbedaan kadar keterlibatan ini kemudian mengakibatkan munculnya konflik dalam perkawinan. Setiap pasangan akan menilai besarnya masalah dari sudut pandangnya saja dan menyelesaikannya juga dari sudut pandangnya juga. Ketika salah satu pasangan merasa ada masalah, maka ia yang dengan kuat akan membahasnya dan memperjuangkan. Berbeda dengan pasangan yang merasa tidak bersalah, maka ia akan diam saja atau menganggap sesuatu yang tidak penting.

Lantas apakah yang terjadi selanjutnya jika perbedaan kadar keterlibatan dalam masalah ini tidak disepakati? Akan muncul gejala-gejala gangguan komunikasi diantara pasangan. Akan terjadi benturan-penturan pendapat dan akan muncul reaksi emosional tertentu yang menyiksa batin kedua belah pihak. Sikap diam dengan tujuan untuk bersikeras bertahan akan pendapatnya akan muncul, akan ada sikap seperti menurut tetapi menyisakan perasaan kesal berlarut, sikap konfrontatif, spontan dan frontal pada kehidupan rumah tangganya. Akan muncul sikap diam seribu bahasa dengan munculnya ketegangan emosional yang saling menekan perasaan, akan ada bentuk komunikasi yang terjalin melalui perantara anak yang tentunya juga menimbulkan perasan emosional dan tidak efektif.

Masalah yang tidak selesai ini akan mepertinggi atau memperdalam konflik. Argumen tidak terbendung dan akan saling menyerang diantara pasangan suami istri. Bisa saja kemudian akan muncul penurunan harga diri atau sikap respek pada pasangan. Umumnya, ketika masalah tidak selesai akan merambat ke persoalan yang lainnya. Akan ada sikap merendahkan cara berpikir, merendahkan perasaan dan perilaku pasangannya. Sikap menarik diri dan menghindar akan diambil namun terdapat intepretasi negatif di antara keduanya. Percayalah pola penyelesaian konflik yang menggantung dan tidak selesai ini akan membuat konflik semakin besar atau berlanjut. Ujung-ujungnya bisa saja, perceraian tidak dapat terhindarkan.

Untuk mengatasi konflik dalam perkawinan dan menghindari kedalaman konflik, sebaiknya pasangan suami istri mecoba duduk bersama menyelesaikan masalah yang dihadapi, bisa juga mencari bantuan pihak ketiga yang netral dalam membantu menemukan cara berpikir lain dalam konflik perkawinan ini. Perlu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi kepribadian secara psikologis yang dilakukan oleh konselor pernikahan sehingga lebih dipahami kebutuhan, kepribadian dan sikap pasangan suami istri memandang konflik dalam perkawinan. Diam sejenak, introspeksi dan pahami tujuan dasar dalam perkawinan. Komitmen perkawinan perlu dibangun kembali sehingga pasangan suami istri lebih bisa beradaptasi, terlibat penuh dan menyelesaikan masalah yang dihadapi mereka. Rumah tangga bukan hanya terdiri dari satu orang saja, melainkan adanya pihak suami dan istri yang bersama-sama menyelesaikan konflik dalam perkawinannya.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials