Detail

Blog Image

Bahaya Googling Penyakit, Awas Cyberchondria!

RSJRW Ns. Rendi Yoga Saputra

Kita hidup di era digital, era revolusi industri 4.0, di mana jaringan internet semakin merata di seluruh penjuru negeri. Mudahnya mengakses internet melalui telepon seluler juga semakin membuat kita mudah mendapatkan informasi apapun untuk mempermudah kehidupan sehari-hari. Mulai dari berbelanja, mencari berita, hiburan ataupun terkoneksi satu dengan lain melalui media sosial. Deras dan mudahnya arus informasi tentu memiliki plus minusnya sendiri. Informasi lebih cepat tersebar melalui internet. Minusnya tak semua informasi di internet adalah benar dan sesuai dengan kebutuhan kita.

Pernahkah Anda mendengar orang mengatakan “Semua jawaban ada di Google”. Hanya dengan 1 kali klik kita sudah mendapatkan informasi dan mencari jawaban atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Tak terkecuali dengan saat munculnya gejala penyakit. Terdengar sepele seperti halnya munculnya nyeri kepala, kecenderungan bertanya pada “mbah Google” nampaknya adalah satu hal yang otomatis terlintas dalam pikiran kita. Hanya tinggal mengetik “obat sakit kepala” maka bermacam-macam artikel dari laman akan berjajar di layar ponsel kita. Informasi yang kita lihat di layar mungkin informasi yang benar, namun sekali lagi, apakah itu adalah informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang kita alami?

Mengenal apa itu Cyberchondria?

Cyberchondria merupakan kondisi yang terjadi ketika seseorang berpikiran berlebihan terhadap kondisi kesehatannya, sehingga muncul keinginan mencari gejala suatu penyakit melalui internet dan kemudian mendiagnosa sendiri terkait gejala yang dirasakan.

Setelah mencari informasi yang dirasakan sesuai dengan keluhannya, individu tersebut akan merasa gelisah, khawatir berlebihan bahkan sedih mendalam hingga depresi ketika membaca di internet tentang gejala yang mereka alami. Padahal informasi tersebut belum tentu dapat dipercaya dan seringnya justru tidak sesuai dengan kondisi yang sedang dialami.

Gejalanya apa?

Cyberchondria adalah suatu kondisi yang serius namun seringnya kita sendiri tak menyadari jika sedang mengalaminya. Contohnya, seseorang ibu muda yang sedang menyuapi anaknya kemudian anaknya mual dan muntah-muntah. Sang ibu yang belum berpengalaman ini lebih memilih mencari tahu gejala yang dilihat pada anaknya dengan mengetikkan “muntah-muntah pada anak” dan yang muncul pada layarnya adalah keracunan makanan, seketika ibu cemas dan ketakutan. Bisa jadi sang anak tidak sedang keracunan makanan, namun karena ibundanya percaya akan apa yang dia baca, penanganan pertama pada anaknya dapat salah langkah ataupun terlambat mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Contoh lain adalah:

  • Munculnya perasaan percaya merasa memiliki berbagai penyakit berbahaya, berdasarkan informasi di Internet, bahkan berisiko kematian. Meskipun ternyata gejala yang sedang dirasakan adalah gejala ringan.
  • Adanya kecenderungan membesar-besarkan masalah atau gejala yang sedang dirasakan.
  • Munculnya kecemasan dan ketakutan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari ataupun dapat memperparah perjalanan penyakitnya.

Perlu Anda perhatikan banyak penyakit memiliki presentasi awal atau gejala awitan yang hampir sama, oleh karena itu self-diagnosis pada awal penyakit adalah berbahaya. Anda tetap memerlukan bantuan dokter di pusat pelayanan terdekat untuk menegakkan diagnosis dan mempercepat mendapatkan pengobatan medis.

Mengapa Cyberchondria berbahaya?

Faktanya, Seseorang pasien menemui dokter, dokter akan memberikan pertanyaan terkait gejala, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Selain itu dengan bantuan pemeriksaan penunjang seperti X-ray, Laboratorium, dll. gambaran kondisi suatu penyakit akan lebih jelas dan diagnosa dapat ditegakkan.

Bayangkan jika saat mencari informasi tentang gejala yang Anda rasakan, Anda malah membaca sumber artikel yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, rasa cemas, penolakan dan sedih akan bercampur aduk di benak Anda. Apakah Anda akan berhenti seketika? Rata-rata orang malah akan menyelam lebih dalam di Internet. Hingga kecemasan dan gangguan psikologis dapat mengganggu istirahat dan cara Anda membuat keputusan tentang gejala itu sendiri.

Apa yang harus dilakukan?

Ketika sesuatu terjadi dan Anda merasakan gejala suatu penyakit yang pertama Anda lakukan adalah tidak panik. Anda boleh mencari informasi di Internet namun perlu diperhatikan sumber informasi yang Anda baca adalah sumber terpercaya.

Batasi waktu mengakses internet. Saat gejala muncul yakinkan diri untuk membatasi diri mencari informasi di Internet karena pengidap Cyberchondria akan memiliki hasrat yang kuat untuk terus menyelam di dunia maya.

Diskusikan apa yang Anda alami dan Anda rasakan dengan ahlinya. Keuntungannya adalah Anda mendapat kepastian tentang kondisi, lebih tepat diagnosisnya, semakin cepat mendapatkan pengobatan dan tentu saja berkurangnya rasa cemas. RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat juga memiliki layanan kesehatan jiwa dan umum, melayani saat jam kerja dan di luar jam kerja dengan Klinik ProHealth, sehingga saat Anda merasakan gangguan kesehatan apapun Anda dapat membuat janji dengan dokter umum, dokter spesialis, fisioterapis, dan psikolog kami, informasi dan pendaftaran lebih lanjut klik laman berikut: www.rsjlawang.com/ProHealth

Cyberchondria akan semakin parah dengan adanya kecemasan dan stress berlebihan dalam menghadapi suatu gejala penyakit. Jagalah kondisi pikiran dan hati Anda, tenangkan pikiran dan gunakan koping positif dalam menghadapinya.

Editor : Anggi E.

Refferensi:

Khazaal, Y., Chatton, A., Rochat, L., Hede, V., Viswasam, K., Penzenstadler, L., ... & Starcevic, V. (2021). Compulsive Health-Related Internet Use and Cyberchondria. European Addiction Research27(1), 58-66.

Vismara, M., Caricasole, V., Starcevic, V., Cinosi, E., Dell'Osso, B., Martinotti, G., & Fineberg, N. A. (2020). Is cyberchondria a new transdiagnostic digital compulsive syndrome? A systematic review of the evidence. Comprehensive Psychiatry99, 152167.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials