Detail

Blog Image

DARI MAS ALDEBARAN DAN MBAK ANDIN KITA BELAJAR

Arini Eka Fitria, S.Kep.Ns

 

            Belakangan banyak dari kita terheran-heran dengan banyaknya masyarakat yang begitu terpikat pada sinetron “Ikatan Cinta”. Bahkan tidak sedikit yang emosional karena begitu larut dalam jalannya cerita. Para ibu ikut menangis ketika karakter Andin mendapat kemalangan, ikut gemas dan bahkan mengutuk ketika karakter antagonis bernama Elsa melakukan tipu muslihatnya. Sampai-sampai seorang bapak yang begitu cinta pada Andin mencium televisinya ketika gambar Andin muncul di layar kaca. Beberapa dari kita mungkin terheran, mengapa mereka begitu “lebay”?  Eits, jangan terlalu cepat menghakimi ya kawan. Hal ini bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan kok.

            Sebuah adegan dalam film bisu Charlie Chaplin di tahun 1917 berjudul “The Immigrant” dimana karakter Chaplin diceritakan menyeberangi Samudra Atlantik berdesakan dalam kapal penuh dengan imigran dari Eropa. Sesampainya di Amerika mereka digiring ke belakang pembatas layaknya hewan ternak. Karakter Chaplin, yaitu The Tramp menjadi frustasi dan menendang pantat salah satu petugas. Awalnya Chaplin khawatir bahwa adegan ini terlalu provokatif, ia pun berkomunikasi dengan direktur humas nya, Carlyle Robinson. Namun fakta yang terjadi justru sebaliknya. Film ini menjadi hits. Adegan tendangan di pantat membantu penonton berempati atas kerasnya kehidupan para imigran. Contoh lain adalah film “Black Swan”, dimana sang sutradara berusaha menarik kita untuk masuk dalam dunia psikotik dan mencicipi bagaimana rasanya menjadi seorang dengan skizofrenia. Nampaknya sang sutradara berhasil, mengingat meledaknya film ini dan banyaknya penghargaan yang berhasil diraih. Hal yang sama terjadi pada sinetrom “Ikatan Cinta”. Penonton berempati pada tokoh Andin yang hidupnya penuh dengan ketidakberuntungan dan kehilangan akibat pengkhianatan orang terdekatnya. Penonton juga turut berempati pada kisah cinta klise Aldebaran dan Andin yang penuh perjuangan dan hambatan. Pada kenyataannya sesuatu yang sederhana seperti menonton film dan berempati dengan karakter fiksi menghasilkan lebih banyak kasih sayang dan pengertian di dunia nyata.

Roger Ebert dalam "Life Itself," sebuah film dokumenter tahun 2014 tentang kehidupan dan karier kritikus film mengatakan, “Tujuan peradaban dan pertumbuhan adalah untuk dapat menjangkau dan sedikit berempati dengan orang lain, dan bagi saya, film itu seperti mesin yang menghasilkan empati. Ini memungkinkan Anda memahami sedikit lebih banyak tentang harapan, aspirasi, impian, dan ketakutan yang berbeda." Sains mendukung teori ini. Dr. Jim Coan, seorang profesor psikologi klinis dan direktur Laboratorium Ilmu Saraf Afektif di Universitas Virginia, mengatakan bahwa dengan membenamkan diri dalam perspektif orang lain, kita secara perlahan mulai menambahkan perspektif tersebut ke dalam alam semesta kita sendiri dan begitulah empati dihasilkan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Paul Zak (seorang ahli saraf yang mempelajari pengambilan keputusan manusia) dan William Casebeer (seorang ahli neurobiologi yang mempelajari bagaimana cerita mempengaruhi otak manusia), menunjukkan bahwa menonton narasi yang menarik dapat mengubah kimia otak. Responden dalam penelitian ini diperlihatkan film tentang seorang ayah yang membesarkan seorang putra dengan kanker stadium akhir, otak mereka merespons dengan menciptakan dua zat kimia saraf yaitu kortisol dan oksitosin. Kortisol memusatkan perhatian dengan memicu rasa tertekan, sementara oksitosin menghasilkan empati dengan memicu rasa kepedulian kita. Semakin banyak oksitosin dilepaskan, semakin besar empati peserta terhadap karakter dalam sebuah cerita. Studi tersebut juga menemukan bahwa mereka yang menghasilkan lebih banyak kortisol dan oksitosin saat menonton film lebih cenderung menyumbangkan uang untuk amal terkait dengan penderita kanker sesudah menonton film tersebut. Kemungkinan yang patut dipertimbangkan adalah, responden dalam penelitian Zak dan Casebeer dengan mudah berempati pada karakter film karena mereka merasa terhubung dengan karakter fiksi tersebut dalam beberapa cara. Coan mengatakan bahwa kita lebih mudah berempati kepada seseorang yang familiar, misalnya teman, tokoh fiksi, atau publik figur. Jauh lebih sulit bagi kita untuk memperluas empati kepada mereka yang tampak sangat berbeda dari diri kita sendiri. Di sisi lain Coan juga mengatakan empati itu seperti otot, dan semakin sering kita menggunakannya, semakin kuat jadinya.

Studi lain, yang diterbitkan dalam Journal of Applied Social Psychology pada tahun 2014, menemukan bahwa menonton film dan membaca buku juga dapat membangkitkan empati bagi orang yang kita anggap sangat berbeda dari diri kita sendiri. Setelah membaca buku “Harry Potter”, responden penelitian menunjukkan tanggapan empati yang lebih besar kepada orang-orang kelompok minoritas dan tertindas. Para peneliti menyimpulkan bahwa karakter Harry Potter yang bekerja keras  untuk mengatasi prasangka dan mencari tempat untuk menyesuaikan diri, membantu responden untuk lebih memahami sudut pandang orang lain. Pemahaman tersebut penting untuk membangun dunia yang penuh kasih.

Pemaparan di atas menjelaskan bagaimana fenomena sinetron “Ikatan Cinta” yang berhasil membuat penontonnya mengadakan syukuran di dunia nyata, ketika karakter Mas Al dan Mbak Andin kembali rujuk bisa terjadi. Meskipun bagi beberapa dari kita ini berlebihan namun sains membuktikan hal ini berdasar pada sesuatu yang sifatnya ilmiah. Pada akhirnya kita bisa belajar dari fenomena Mas Al dan Mbak Andin, bahwa di dunia yang masih sangat membutuhkan lebih banyak toleransi, pengertian, dan empati, menonton sinetron mungkin saja menjadi langkah pertama kita untuk mencapainya.  Karena dengan lebih banyak mengerti, bertoleransi dan berempati, pintu-pintu berkah dan kesempatan baru dapat saja terbuka untuk kita menjadi lebih berbahagia.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials