Detail

Blog Image

CATCALLING PICU GANGGUAN MENTAL, JANGAN DIAMKAN DAN LAWAN

Yenny Auli Diana H.

Catcalling kerap menjadi pembicaraan publik, namun banyak yang tidak benar-benar menanggapi karena pemahaman masyarakat masih rendah dan dianggap sebagai sebuah pewajaran. Catcalling kerap dialami oleh kaum hawa, sering diasumsikan catcalling diakibatkan karena pakaian, namun fenomena saat ini membuktikan bahwa dengan memakai pakaian tertutup pun tidak bisa terhindar.

Persepsi masyarakat catcalling adalah hal yang wajar, menyebabkan catcalling tidak pernah hilang bahkan menjadi kebiasaan. Masyarakat juga terkadang tidak menyadari kalau dirinya menjadi pelaku atau bahkan menjadi korban catcalling. Lebih miris lagi saat ini catcalling bukan hanya dilakukan di ruang tertutup namun juga banyak ditemui di ruang publik atau terbuka. Hal inilah yang membawa dampak buruk  dan perlu diwaspadai.

Apa sebenarnya catcalling ini?

Catcalling bukanlah diartikan dengan panggilan kucing, namun ternyata catcalling ini masuk ke dalam salah satu pelecehan seksual secara verbal dan salah satu bentuk gangguan di jalan (street harrasment). Dalam Oxford Dictionary, catcalling diartikan sebagai bebunyian tidak sopan seperti siul-siulan, panggilan dan perkataan atau komentar yang bersifat seksual, bahkan terkadang disertai dengan tatapan mata yang bersifat melecehkan sehingga membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Catcalling di Indonesia lebih mengarah ke kalimat godaan secara verbal dan masuk ke dalam kategori tindak pidana yang bertentangan dengan hukum dan kesusilaan. Catcalling biasanya dilakukan di tempat umum oleh orang asing atau yang tak dikenal.

Beberapa bentuk catcalling yang sering tidak disadari antara lain :

  1. Catcalling pujian, contoh yang sering dialami perempuan misalnya kata-kata seperti “kamu cantik sekali hari ini”, “kamu cocok sekali memakai baju itu” dll
  2. Catcalling nasihat, contohnya “senyum donk, jangan sedih”, jangan manyun terus dong” dll. Hal ini bisa membuat seseorang merasa makin tidak nyaman bahkan menimbulkan perasaan marah.
  3. Catcalling pembuat keributan, contohnya adalah saat sedang berjalan tiba-tiba ada seseorang yang membunyikan klakson bahkan berteriak dari dalam mobil dan bertujuan ingin mencari perhatian.
  4. Catcaller yang gampang tersinggung. Hal ini dilakukan ketika seseorang berniat menggoda dengan kata-kata mereka (seperti di atas) namun tidak mendapat tanggapan hingga akhirnya malah mengeluarkan kata-kata hinaan.
  5. Catcalling sok baik. Contohnya adalah apabila ada seorang penggoda yang mendekat ketika sedang berjalan dan memberikan tawaran untuk sampai ke tempat tujuan. Bahkan apabila kita menolaknya, mereka akan bersikeras dan bahkan mengikuti kita beberapa langkah.

Pelecehan verbal seperti catcalling ini lebih berdampak pada kondisi psikologis korbannya.  Hal ini dikarenakan korban catcalling dapat merasa  tidak nyaman, tidak dihargai, merasa jijik dalam waktu yang bersamaan dan ketakutan yang berlebihan bahkan trauma.

Dampak yang paling diwaspadai adalah memicu terjadinya gangguan pada mental seperti:

  1. Menurunnya harga diri dan kepercayaan diri
  2. Perasaan ketakutan terhadap orang lain
  3. Mudah marah
  4. Timbul bayangan masa lalu
  5. Timbulnya perasaan terhina
  6. Tidak berdaya
  7. Menurunnya motivasi dan produktivitas karena adanya perasaan atau timbulnya pembatasan gerak akibat dari ketakutan untuk bepergian keluar
  8. Hilangnya rasa nyaman dan aman ketika beraktivitas

Sebuah studi di Norwegia menyebutkan bahwa catcalling dapat meningkatkan potensi gangguan pada mental seseorang. Mulai dari timbulnya depresi, kecemasan berlebihan, rendah diri dan citra negatif terhadap tubuhnya. Dampak yang lebih parah dapat menimbulkan perubahan perilaku seperti gangguan tidur, gangguan makan dan timbulnya kecenderungan untuk bunuh diri.

Lalu bagaimaa cara yang tepat untuk menghentikan catcalling ini, caranya hanya satu yaitu jangan dibiarkan dan konfrontasikan secara langsung. Banyak orang yang merasa takut untuk menghadapi catcalling ini,  ketakutan yang timbul diantara mereka adalah apabila pelaku pelecehan membalas dendam atau bahkan melakukan hal yang lebih buruk lagi.

Namun hal ini tidak bisa dibiarkan dan dibutuhkan keberanian yang kuat untuk memutus rantai catcalling ini. Menghadapi secara langsung dapat memberikan efek yang lebih positif daripada hanya membiarkanya. Sebuah studi yang dilakukan oleh Kimberly Fairchild dkk (2008), menyatakan bahwa mereka yang berani mengkonfrontasi pelecehanya tidak merasakan dampak negatif yang sama dengan mereka yang melaluinya begitu saja. Mereka yang berani mengkonfrontasi pelecehan ini merasakan kepuasan karena mampu membela diri dan mempertahankan harga dirinya.

Apabila Anda merasa ketakutan untuk mengkonfontasi secara langsung, anda bisa meminta bantuan kepada pihak berwajib. Untuk menyelesaikan kasus catcalling terdapat beberapa KUHP dan UUD yang bisa digunakan untuk melindungi korbanya, antara lain pasal 281 KUHP, Pasal 9 UU no.4 tahun 2008 dan  pasal 35 UU no.4 tahun 2008. Jadi tidak perlu takut untuk mengkonfrontasi, karena sudah ada perlindungan dari negara

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials