Detail

Blog Image

5 CARA MELATIH ANAK BERMENTAL TANGGUH

Nurul Firdausi, M.Psi, Psikolog

 

Semua orang di dunia ini pasti akan mengalami pasang surut kehidupan.  Ada kalanya kehidupan berjalan mulus tidak ada hambatan.  Namun diwaktu yang lain, hidup serasa sulit dan penuh dengan masalah. Semua itu tidak bisa diramalkan kapan akan terjadi sehingga yang paling bisa dilakukan adalah membekali diri untuk menghadapinya.

Begitu juga yang terjadi ketika kita mengasuh anak. Orangtua seringkali ketakutan  terhadap masa depan anak, sehingga ia sibuk menjauhkan anaknya dari  hal buruk yang ada disekitarnya.  Atas nama cinta, anak dimanjakan dan dimudahkan. Namun lupa bahwa suatu saat nanti, anak harus berjuang sendiri.

Ada istilah “helicopter parent” yang merujuk pada orangtua yang selalu mengawasi anak-anaknya dan memberikan bantuan saat anak dalam kesulitan. Seringkali tanpa sadar orangtua melakukan hal itu, contohnya tengah malam masih terbangun untuk mengerjakan PR anaknya atau  datang ke guru ketika nilai anaknya kurang.  Niatan orangtua untuk membantu ini ternyata berdampak pada pembentukan karakter anak.  Disaat anak berhadapan dengan kesulitan maka ia menjadi mudah stres  dan mudah  putus asa

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk membuat anak menjadi tangguh ?

Anak yang tangguh yaitu anak yang dapat mengelola pikiran dan emosinya saat menghadapi suatu masalah  serta dapat menyesuaikan diri untuk menghadapi tuntutan yang ada. Lima cara berikut ini dapat dilakukan orangtua agar dapat melatih anak bermental tangguh :

  1. Memberikan pemahaman kepada anak bahwa kesulitan adalah ruang untuk belajar sehingga ia akan melihat kesulitan dan tantangan sebagai satu hal yang positif. Orangtua juga perlu merespon kegagalan anak dengan cara yang baik, agar anak termotivasi untuk bangkit dan belajar dari kegagalannya.
  2. Ajari anak problem solving atau penyelesaian masalah mulai dari hal yang sederhana, contohnya : ketika ia menjatuhkan gelas berisi air, maka orangtua tidak perlu marah, sebaiknya orangtua membimbing atau membantu anak untuk membersihkan tumpahan air.
  3. Ajari anak mengenal emosi dan penyebabnya. Dengan memahami emosi, anak belajar bahwa emosi tidak menyenangkan hanya sementara dan akan berubah ketika persoalan terselesaikan.
  4. Memberikan ruang kepada anak untuk belajar mengambil keputusan, dari hal kecil seperti memilih baju yang akan dipakai, memilih makanan apa yang akan dipesan. Biarkan anak mendapat konsekuensi dari pilihannya tersebut
  5. Memberikan banyak wawasan tentang orang-orang yang tangguh melalui cerita atau diskusi dengan anak. Penting juga orangtua memberikan teladan yang baik tentang bagaimana menjadi tangguh. Ceritakan riwayat orangtua saat menghadapi masalah di masa lalu, hal ini akan diingat oleh anak dan menjadi bekal berharga baginya.

Perlu kesabaran dan konsistensi bagi Orangtua untuk melatih anak menjadi tangguh, namun hal ini  bukan sesuatu hal yang mustahil untuk dicapai. Orangtua akan memberikan hadiah terbaik untuk anak-anaknya, ketika nantinya anak menghadapi kesulitan dan ia mengatakan “Aku Bisa”.

 

Sumber :

Hendriani, W. (2015). Resiliensi psikologis: Sebuah pengantar. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials