Detail

Blog Image

MELIHAT BUNUH DIRI DENGAN EMPATI

Daisy Prawitasari, M.Psi (Psikolog)

Berdasarkan observasi PBB sekitar 1 juta orang bunuh diri setiap tahun. Jumlah ini jauh lebih besar daripada jumlah kematian akibat perang dan pembunuhan.  Menurut WHO jumlah ini juga  berarti ada kasus bunuh diri setiap 40 detik. Jumlah percobaan bunuh diri bahkan 20 kali lebih tinggi. WHO mensinyalir bahwa sekitar 5% orang di seluruh dunia pernah mencoba bunuh diri sekurang-kurangnya satu kali selama hidup mereka . Di Indonesia sendiri, sepanjang kurun waktu 2011 WHO mencatat angka bunuh diri mencapai 1.6 – 1.8 per 100.000 jiwa. Pada  Januari - Juni  2012 tercatat  23 kasus percobaan bunuh diri, antara lain gantung diri, menggunakan senjata, terjun dari ketinggian dan menenggak racun. 17 dari mereka meninggal dunia. Sementara sebab-sebab yang mempengaruhi antara lain putus cinta, frustrasi ekonomi, disharmoni dalam keluarga dan permasalahan di lingkungan / sekolah.(sumber : Harian Terbit online, 10 September 2012).

Perilaku bunuh diri pada hakekatnya adalah merupakan sebuah kondisi keputus asaan yang kronis. Orang yang melakukan upaya membunuh dirinya adalah orang yang merasa tidak ada harapan dalam hidupnya (hopeless) baik itu harapan terhadap dirinya sendiri maupun harapan terhadap lingkungan sekelilingnya.

Harapan adalah suatu imajinasi positif yang memotivasi kehidupan manusia untuk bertahan dan berusaha untuk terus hidup. Saat manusia kehilangan harapan, ia akan menjadi orang yang lemah. Dunia dengan segala kompleksitasnya menjadi terlalu berat untuk dipikul dan diterima sebagai suatu realitas.

Memiliki harapan hidup berarti memiliki tujuan hidup dan dengan demikian menjadikan hidup  bermakna (Frankl, 1968). Hidup tanpa  harapan adalah hidup yang tidak bertujuan dan tidak lagi bisa memberikan makna bagi seseorang.  Tidak adanya makna dalam kehidupan itu membuat kehidupan seorang manusia menjadi sangat kecil, tidak berharga sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidup atau membiarkan sesuatu yang buruk terjadi agar bisa meninggalkan kehidupan yang pahit.

Disini muncul pikiran-pikiran dan niat untuk bunuh diri. Bahwa kematian lebih baik daripada kehidupan. Bahwa mati menjadi solusi bagi segala kesulitan dan kompleksitas dunia. Juga bahwa kematian bertujuan untuk menghilangkan kesakitan. Niatan yang demikian sesungguhnya berlawanan dengan sifat alamiah manusia. Sigmund Freud, pendiri psikoanalisas menyebutkan bahwa manusia memiliki 2 instink, yaitu instink hidup (eros) dan instink kematian (thanatos) . Instink hidup selalu membawa manusia untuk melindungi dirinya sementara instink kematian akan membawa manusia pada perusakan diri, tindakan-tindakan yang merugikan, menyakitkan atau menghancurkan diri sendiri.

Diantara kedua instink tersebut, instink hidup-lah yang lebih menguasai manusia sehingga tercipta masyarakat dengan nilai, norma dan budayanya. Dalam struktur kepribadian, dorongan untuk hidup  pasti lebih kuat terletak pada orang-orang dengan kekuatan ego yang baik. Hal ini mutlak karena ego adalah inti diri manusia, dan merupakan kendali dari dua elemen lain kepribadian yaitu id dan superego.  

Dalam dinamika antara id, ego dan superego, serta melihat fakta-fakta dimana terdapat pergesaran-pergeseran nilai sosial, yang menguraikan banyak kenyataan yang mengarah kepada ketidak adilan, pendewaan terhadap status, materi dan penindasan terhadap orang lain dalam bentuk kekerasan, penipuan dan penyalahgunaan wewenang, maka tidak heran apabila dalam diri manusia semakin terbentuk karakter ego yang lemah. Tuntutan-tuntutan sosial dimana membuat id menjadi mendesak keluar dan mengalahkan superego. Terbentuklah karakter yang menjadi mudah cemas, tegang,impulsive (terlalu menurutkan kata hati sesaat), bertindak agresif, kurang menghargai orang lain, dan menginginkan mendapatkan kebutuhan material  secara instant tanpa melalui proses yang seharusnya. Selainitu juga terbentuk karakter yang depresif dan mudah putus asa menghadapi realitas. Akibatnya ketika ketidakberhasilan dan ketidakcocokan muncul, serta ketidakberdayaan yang dirasakan, maka bunuh diri menjadi pilihan yang ekstrim dan mengabaikan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Upaya pencegahan bunuh diri  sejatinya dapat dilakukan baik dari orang-orang terdekat, keluarga dan lingkungan sekitar maupun masyarakat umum. Upaya pencegahan dari orang-orang terdekat  dan keluarga terutama dengan mengenali gejala signifikan yang muncul sebelum upaya bunuh diri dilakukan. Gejala tersebut muncul dalam bentuk perilaku dan dalam bentuk perubahan fisik. Gejala dalam bentuk perilaku, antara lain sering menangis, mengajak bertengkar atau berkelahi, menyakiti diri sendiri, impulsivitas, sering menulis atau bicara tentang ide-ide bunuh diri. Sedangkan dalam bentuk bentuk perubahan fisik, antara lain  lesu, selalu ingin tidur atau sebaliknya tidak bisa tidur (insomnia), dan perubahan penampilan. Keluarga atau orang-orang terdekat bisa membantu menguraikan permasalahan, mengurangi beban  pikiran dan membantu memberikan harapan dan optimisme.  Selain itu keluarga dan lingkungan sekitar dapat melakukan pengawasan terhadap perilaku dan tindakan seseorang yang disinyalir berusaha melakukan upaya bunuh diri serta berusaha menjauhkan benda-benda yang membahayakan, misalnya racun, obat-obatan dan senjata tajam.

Adapun masyarakat umum pada dasarnya memiliki tanggung jawab besar dalam pencegahan bunuh diri. Masyarakat perlu membangun mekanisme pertahanan sosial untuk upaya mencegah bunuh diri, antara lain dengan kampanye pencegahan bunuh diri  melalui media-media lokal serta mendirikan dan mempublikasikan hotline yang memberikan pelayanan konsultasi  selama 24 jam dengan akses yang terjangkau. Upaya bunuh diri  sering terjadi di beberapa tempat khusus, antara lain rumah sakit, penjara maupun hotel / penginapan. Untuk itu perlu dikembangkan mekanisme pencegahan upaya bunuh diri di tempat-tempat tersebut.

Sumber :

  • Nevid, et al, Abnormal Psychology in Changing World, ed.5, 2003
  • Zaveira, Teori Kepribadian Sigmund Freud, 2007
  • Evie Nurlyta Hafiah, Psikologi Kekerasan, dimuat di Kompas 13 Desember 2007

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials