Detail

Blog Image

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN AGAMA TERHADAP KESEHATAN MENTAL

dr. Liliefna Anthony Y

  1. Pengaruh Pendidikan terhadap Kesehatan Mental

Antara pendidikan dan kesehatan mental terdapat hubungan yang sangat erat. Menurut WHO, World Health Organization (2001), kesehatan jiwa (mental) adalah suatu kondisi mental sejahtera dari individu karena  individu tersebut menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan dalam kehidupan, dapat bekerja secara baik dan produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi kelompoknya.

Dari penelitian yang dilakukan terhadap pasien-pasien yang menderita gangguan dan penyakit jiwa, dan terhadap orang-orang yang tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup, terbukti bahwa penyebab terbesar terletak pada pendidikan yang diterimanya, terutama pendidikan waktu kecil. Pengalaman-pengalaman pada tahun-tahun pertama itulah yang menentukan kesehatan mental seseorang, bahagia atau tidaknya ia di kemudian hari.

Kesehatan mental mempunyai pengaruh atas keseluruhan hidup seseorang, yaitu perasaan, pikiran, kelakukan dan kesehatan. Menurut Darajat (1996) yang dimaksud dengan pendidikan dalam hubungannya dengan kesehatan mental, bukanlah pendidikan yang disengaja, yang ditujukan kepada objek yang dididik, yaitu anak, akan tetapi yang lebih penting adalah keadaan dan suasana dalam rumah tangga, keadaan jiwa ibu bapak, dan hubungan antara satu dengan lainnya.

  1. Pendidikan dalam Rumah Tangga

Menjadi orang tua yang bijak tidaklah mudah, tidak dapat kita pungkiri bahwa keadaan orang tua, sikapnya terhadap si anak sebelum dan sesudah anak lahir, berpengaruh terhadap kesehatan mental si anak. Untuk menjaga rumah tangga selalu damai diperlukan saling pengertian antar suami dan istri, karena suami dan istri adalah dua pribadi yang tumbuh terpisah satu dari lainnya dan mempunyai pengalaman yang berbeda waktu kecil, yang membawa kepada kepribadian, sikap jiwa dan pandangan hidupnya. Si suami atau istri, harus cepat berusaha memahami sungguh-sungguh pasangan hidupnya itu dan selanjutnya menyesuaikan diri, dengan saling menghargai dan saling membantu satu sama lain.

Jadi yang dimaksud dengan pendidikan yang baik, bukanlah hanya pendidikan yang disengaja, latihan kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti kebiasaan waktu makan, tidur, main atau latihan-latihan sopan santun yang harus dibiasakan oleh si manis sejak kecil atau kebiasaan belajar yang baik. Tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah sikap dan cara orang tua menghadapi hidup pada umumnya dan bagaimana cara memperlakukan anak.

  1. Pendidikan Sekolah

Pendidikan dan pembinaan kepribadian anak-anak yang telah dimulai dari rumah tangga, harus dapat dilanjutkan dan disempurnakan oleh sekolah. Sebenarnya tugas sekolah dalam menciptakan mental yang sehat bagi anak-anak adalah tidak ringan. Guru juga harus dapat menjamin kebutuhan-kebutuhan jiwa si anak.

Orang tua harus diajak berdiskusi, barangkali kebodohan dan kenakalan anak-anak itu adalah akibat kegelisahan batin yang dideritanya dalam perlakuan di rumah.

  1. Pendidikan Agama

Dalam negara kita yang berdasarkan Pancasila, sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 alinea IV, maka pendidikan haruslah mempersiapkan anak-anak untuk dapat menerima Pancasila, dan mampu menjadikan Pancasila itu sebagai dasar hidupnya. Menurut Darajat (1996) kalau negara itu berdasarkan kepada ke-Tuhan-an, maka seharusnya anak-anak didik itu dibawa ke arah menumbuhkan jiwa ke-Tuhan-an, artinya kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan kelakuannya dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran-ajaran dan tuntunan-tuntunan ke-Tuhan-an itu sendiri.

  1. Pentingnya Pendidikan Agama

Pendidikan agama pada masa kanak-kanak, seharusnya dilakukan oleh orang tua, yaitu dengan jalan membiasakannya kepada tingkah laku dan akhlaq yang diajarkan oleh agama. Dalam menumbuhkan kebiasaan berakhlaq baik seperti kejujuran, adil dan sebagainya, orang tua harus memberikan contoh, karena si anak dalam umur ini belum dapat mengerti, mereka baru dapat meniru. Apabila si anak telah terbiasa menerima perlakuan adil dan dibiasakan pula berbuat adil, maka akan tertanamlah rasa keadilan itu kepada jiwanya dan menjadi salah satu unsur dari kepribadiannya.

Sesuai dengan dasar negara Pancasila, dimana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka kepribadian tiap warga negara harus berisi kepercayaan dan taqwa kepada Tuhan. Kepercayaan yang menjadi bagian dari kepribadian, bukan kepercayaan yang hanya diucapkan secara lisan atau hanya di mulut saja.

Makna sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak bisa dipisahkan dengan makna agama di Indonesia, karena bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala telah memiliki nilai-nilai agama didalam kehidupan mereka. Jadi pendidikan agama, tidak mungkin terlepas dari pengajaran agama sesuai dengan nilai-nilai agama yang dianut. Jika penanaman jiwa agama tidak mungkin dilakukan oleh orang tua di rumah, maka pengajaran agama harus dilakukan dengan bimbingan seorang guru yang mengetahui agama.

  1. Pendidikan Agama di Sekolah

Pendidikan agama di sekolah sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, karena pendidikan agama mempunyai dua aspek terpenting.

Aspek pertama dari pendidikan agama, adalah yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian. Anak didik diberi kesadaran kepada adanya Tuhan, lalu dibiasakan melakukan perintah-perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Aspek kedua, pendidikan agama di sekolah, harus juga melatih anak didik untuk melakukan ibadah yang diajarkan dalam agama, yaitu praktek-praktek agama yang menghubungkan manusia dengan Tuhan.

  1. Metode Pendidikan Agama

Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis dari anak didik, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah sampai tingkat Universitas. Seorang agama belum cukup kalau ia hanya tahu pengetahuan agama, akan tetapi ia harus pula menguasai masalah-masalah didaktik, metodik dan psikologi, supaya ia dapat mengajar dengan baik.

(Diolah dari: Keluarga Sehat dan Sejahtera dalam buku Psikiatri Islam, karangan Tristiadi Ardi Ardani, penerbit UIN-Malang Press Malang, tahun 2008 dan beberapa sumber lainnya).

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials