Detail

Blog Image

DUKUNGAN PSIKOSOSIAL BAGI WARRIOR DAN SURVIVOR KANKER

  1. Nindita Pinastikasari, SpKJ, S.H., M.H

 

Di awal bulan Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia dan tema peringatan tahun 2021 “Saya Adalah dan Saya Akan (I Am and I Will). Tujuan tema ini adalah meningkatkan dukungan pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan dan sumber daya terkait serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam melaksanakan upaya penanggulangan dan pengendalian kanker dalam rangka mengurangi beban akibat kanker.

 

Kita banyak melihat dan mendengar kisah-kisah inspiratif para warrior dan survivor kanker yang berhasil melalui proses adaptasi menghadapi kondisi yang membuat tidak nyaman.

 

Umumnya orang dengan kanker memiliki dua sebutan yang berbeda, yaitu warrior atau fighter dan survivor.  Seseorang yang sudah terdiagnosa kanker kerap disebut sebagai warrior dan bagi mereka yang sudah berhasil sembuh disebut survivor,. Meski sudah sembuh para survivor tetap harus awas mereka harus tetap melakukan kontrol dan waspada.

 

Hidup dengan kanker bukan pekara mudah, selain mengalami gangguan kesehatan fisik, secara mentalpun mereka diuji. Menurut Elisabeth Kubler-Ross dalam bukunya On Death and Dying dikemukakan adanya teori yang terkenal yaitu The Five Stages of Grief. Individu dalam menghadapi kondisi yang menimbulkan kesedihan atau kedukaan melewati lima tahapan “Kubler-Ross Model” sebagai pola penyesuaian diri terhadap kondisi yang dialaminya, antara lain:

 

  1. Denial (Penyangkalan): Kondisi yang bisa muncul antara lain rasa takut, kebingungan, penghindaran.
  2. Anger (Kemarahan): Kondisi yang bisa terjadi antara lain kecemasan, frustrasi.
  3. Bargaining (Tawar menawar): Kondisi yang bisa terjadi antara lain timbulnya perasaan tak berdaya, kewalahan, sikap permusuhan
  4. Depression (Depresi): Pada tahap ini, individu sudah mulai mencari makna kehidupannya, mencari bantuan dari individu lainnya.
  5. Acceptance (Penerimaan): Pada tahap ini, individu mulai mengeksplorasi pilihan tindakan yang bisa dilakukan, memiliki rencana baru dan siap melangkah untuk beradaptasi dengan keadaannya.

Waktu untuk mencapai tahapan-tahapan ini bisa berbeda-beda pada setiap individu tergantung pada kondisi fisik dan mental dari masing-masing individu. Pada kondisi yang tidak nyaman dan penuh tekanan seperti ini dapat memunculkan kondisi distres. Distres adalah suatu kondisi individu yang tidak dapat mengatasi stresor dalam kehidupannya sehingga individu tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik dan berpotensi mengalami gangguan fisik atau mental.

 

Kondisi ini berkebalikan dengan kondisi eustres. Eustres adalah kondisi seseorang yang dapat menghadapi stresor kehidupan sehingga individu dapat berfungsi sehari-hari dengan baik dan tidak menimbulkan gangguan fisik atau mental. Kondisi eustres ini menunjukkan kemampuan individu dalam beradaptasi dengan kehidupan dan lingkungannya. Pada proses adaptasi ini juga memerlukan beberapa aktivitas yang dapat meningkatkan kesehatan mental.

 

Menurut Life Skills Education Depkes tahun 2006, ada beberapa aktivitas yang bisa digunakan untuk mengelola kondisi stres antara lain:  

  1. Latihan fisik seperti berjalan, berlari, berenang, bersepeda.
  2. Memperluas pertemanan dan dukungan sosial dari lingkungannya.
  3. Mendapatkan konseling dari tenaga profesional di bidang kesehatan jiwa.
  4. Peregangan antara lain senam peregangan.
  5. Tertawa dengan bercanda melibatkan teman atau keluarga, menonton film lucu.
  6. Tarik nafas panjang dengan cara bernafas yang benar yaitu tarik nafas panjang 2 detik lalu keluarkan perlahan sambil berkonsentrasi pada udara yg keluar dari paru-paru selama 5 detik (lakukan 5 kali pada pagi hari dan lima kali sore hari).
  7. Mendengarkan musik yang menenangkan.
  8. Menikmati matahari pagi dengan cara merasakan sinar matahari pagi meresap ke setiap pori-pori tubuh.
  9. Konsumsi makanan sehat.
  10. Menghitung anugerah yang kita miliki dengan cara membuat daftar hal-hal baik dalam kehidupan kita.
  11. Ekspresikan stres kita dengan cara mengalirkan kemarahan, kesedihan, ketakutan, frustrasi agar keluar dari diri kita melalui tulisan, pembicaraan, puisi dan aktivitas fisik yang bermanfaat sehingga pikiran menjadi lebih terang dan tubuh lebih bertenaga.
  12. Bertanggung jawab terhadap hidup kita dengan cara bereaksi secara terampil terhadap stres, memperbaiki reaksi terhadap suatu kejadian, mengurangi tuntutan terhadap diri sendiri, meningkatkan kapasitas untuk menghadapi kesulitan.

Berbagai pilihan aktivitas di atas dapat digunakan oleh warrior, survivor dan caregiver seperti keluarga yang turut mendampingi pada saat proses pengobatan berjalan. Caregiver bertindak sebagai penolong dan pendamping juga perlu memperhatikan kebutuhan dirinya agar pelaku rawat tidak mengalami kondisi burn-out (kelelahan atau kejenuhan berlebihan). Apabila kita membantu orang lain dengan tetap memperhatikan diri sendiri maka kita akan menjadi penolong yang efektif. 

 

Upaya pengelolaan stres yang baik bisa membuat kita semakin optimis dan mampu beradaptasi menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan. Kemampuan beradaptasi ini akan menurunkan kecemasan, kesedihan, ketakutan dan akan meningkatkan kebahagiaan individu. Perasaan bahagia ini akan meningkatkan imunitas tubuh sehingga kualitas hidup warrior, survivor dan caregiver akan semakin optimal.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials