Detail

Blog Image

KENALI TANDA ANDA MEMILIKI HUBUNGAN YANG TAK SEHAT DENGAN ALKOHOL

RSJRW - Ns. Rendi Yoga Saputra

 

 

Akhir-akhir ini kita sering membaca berita ataupun menonton televisi tentang pro dan kontra Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minumal Beralkohol. RUU yang diusulkan sejak 2015 tersebut saat ini sedang di’godog’ di Badan Legislasi (Baleg) DPR dan didukung oleh beberapa Fraksi di DPR. Terdapat beberapa ayat yang hingga saat ini masih menjadi pro dan kontra karena sebenarnya beberapa budaya dan adat istiadat di Indonesia sering menggunakan minuman beralkohol dalam ritualnya.

 

Namun di sini kita tak akan membahas segi hukum minuman beralkohol. Penulis ingin membagikan pengalaman bagaimana minuman alkohol dapat mempengaruhi keseharian dan apa saja tandanya bahwa tubuh kita sedang meminta untuk putus hubungan dengan minuman beralkohol?

 

Beberapa orang cenderung mengkonsumsi alkohol sebagai bentuk ‘rekreasi’ setelah melalui hari yang melelahkan. Beberapa orang yang lain menggunakan minuman beralkohol sebagai pelengkap pesta ataupun ritual acara adat. Beberapa lain lagi menggunakan minuman beralkohol sebagai bentuk pelarian masalah. Saat masalah dalam hidup datang, mereka sering melakukan “pengobatan diri”, apapun dilakukan untuk membantu tidur nyenyak, mendapatkan ketenangan jiwa ataupun menghadapi perasaan yang menantang kehidupan kita. Minuman beralkohol bagi beberapa orang memiliki efek meredakan pikiran negatif, menurunkan kecemasan dan gejala gangguan psikologis lainnya.

 

“Perlu diingat, menggunakan minuman beralkohol sebagai solusi dalam menghadapi masalah ibaratnya adalah memberikan plester pada luka lebar yang perlu dijahit. Sifatnya sementara saja.”

           

Mengutip artikel ilmiah oleh Andy Ryan (2020) minuman beralkohol saat ini telah mulai menjadi pelarian dan menjadi strategi koping bagi banyak orang di beberapa negara dalam menghadapi stres, kecemasan dan depresi. Meskipun alkohol dalam jumlah banyak dan frekuensi yang sering justru malah memperberat depresi dan memiliki efek yang buruk bagi kesejahteraan mental.

 

Minum minuman beralkohol dari segi kultural pun sebenarnya sulit dihindari, dalam kehidupan bersosial di masyarakat yang erat kaitannya dengan ritual kepercayaan dan adat istiadat. Namun sekali lagi, frekuensi dan jumlah minuman beralkohol lah yang seharusnya dapat kita kendalikan sendiri.

 

Banyak orang yang telah merasakan bahwa alkohol memberikan rasa rileks dan membuat lebih percaya diri, namun ini merupakan ilusi sementara saja. Karena alkohol hanya akan memberikan perubahan emosi setelah kita minum alkohol sampai efeknya hilang, namun tidak menghilangkan akar masalah yang saat ini kita hadapi. Selain itu selama durasi kita berada dibawah pengaruh alkohol, sering kita kehilangan kontrol diri, sehingga banyak orang merasakan malu dan menyesal atas apa yang telah dia lakukan sesaat setelah pengaruh alkohol itu hilang.

 

Dalam sesi psikoedukasi dengan klien pecandu alkohol, sering saya tanyakan

 

Apa yang alkohol berikan pada diri Anda?

Ketenangan atau percaya diri?”

 Apakah Anda tidak dapat mendapatkan ketenangan apabila tidak minum alkohol?

 

Pertanyaan tersebut terdengar klise, namun pertanyaan tersebut adalah cara saya untuk memotret fenomena. Fenomena kapankah klien merasakan bahwa mereka tidak memiliki solusi atas masalah yang dihadapi, tidak memiliki jawaban atas kesukaran yang didapat. Bahkan dari jawaban tersebut sering saya temukan klien tidak percaya bahwa mereka memiliki kemampuan mengatasi masalah dalam diri mereka sendiri, sehingga meraka mulai mencari solusi eksternal dari masalahnya.

 

Sebut saja Pemuda berinisial A, pernah menceritakan pengalaman bahwa Saya rutin minum alkohol setiap hari. Saya menutupi masalah mental yang muncul dengan minum alkohol, hingga alkohol menjadi mekanisme saya dalam menghadapi setiap masalah hidup”. Setiap setelah meminum alkohol, A merasakan perasaan yang lebih baik dan ada rasa membungkam pikiran-pikiran negatif yang muncul.

 

Secara sadar, A mengatakan pula bahwa “Saya tutupi lubang dalam emosi saya dengan alkohol tapi saya terlena bahwa lubang tersebut harus saya tambal. Hingga pada akhirnya alkohol malah semakin membuat saya semakin depresi dan cemas di hari berikutnya”.

 

Salah satu tip yang dapat dijadikan pedoman memutus hubungan dengan minuman beralkohol adalah dengan tidak minum alkohol sendirian di rumah. Artinya, langkah awal untuk beristirahat atau memutus hubungan dengan alkohol adalah hanya meminum alkohol saat bersama dengan teman atau keluarga. Diharapkan langkah awal tersebut membuat kontrol sosial juga berjalan, meskipun membutuhkan kerjasama sosial dan kontrol diri yang kuat.

 

Wajib diperhatikan, berikut adalah tanda-tanda peringatan Anda sedang memiliki hubungan tak sehat dengan Alkohol:

 

  1. Lebih nyaman minum alkohol sendirian
  2. Senang apabila hadir dalam pesta minuman keras
  3. Bergantung pada minuman keras saat stres, depresi atau mengalami kejadian yang menggangu pikiran.

 

Apabila muncul dalam pikiran untuk meminum alkohol saat ada masalah, jawablah pertanyaan berikut: “Apakah Anda dapat berpegang teguh pada kontrol diri seberapa banyak minuman yang akan Anda minum? Apakah Anda yakin Anda akan tetap mematuhi peraturan dan bersikap sopan selama dalam pengaruh minuman keras?”

 

Terdapat banyak forum untuk berdiskusi sesama pecandu dan peminum alkohol. Atau apabila Anda memerlukan area yang lebih private untuk berdiskusi tanpa dihakimi, gunakanlah fasilitas konsultasi kesehatan jiwa yang tersedia. Karena berhenti meminum alkohol memerlukan dukungan dan pendampingan menjalani program terapi.

 

Untuk Langkah awal, Anda dapat menggunakan 5 tip untuk memutus hubungan asupan alkohol:

  1. Pertama-tama, cobalah untuk mengurangi jumlah asupan yang Anda minum daripada langsung berhenti seketika.
  2. Jika ingin terus minum, cobalah untuk mengatur uang Anda. Batasi jumlah uang tunai di dompet, sehingga Anda dapat membatasi jumlah minuman yang dapat di Apabila menggunakan kartu kredit, gunakan layanan pembatasan pembayaran dengan menghubungi layanan perbankan.
  3. Jangan menghukum diri Anda sendiri apabila kesulitan ‘beristirahat’ dari minuman keras, namun bukan berarti Anda kembali pada kebiasaan lama.
  4. Mulai racik minuman kegemaran Anda sendiri, tentu saja Nol Alkohol, saat akan keluar rumah. Rasakan bahwa saat meminum minuman buatan sendiri adalah hadiah untuk tubuh karena lebih memilih minuman itu daripada kebiasaan yang lama.
  5. Bergabunglah dengan komunitas hobi atau olahraga seperti group penggemar buku, sepakbola dan lainnya, ini menunjukkan bahwa diri kita lebih membutuhkan rasa senang karena sosialisasi dalam komunitas, daripada sekedar meminum alkohol.

 

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials