Detail

Blog Image

TETAP PATUHI PROKES MESKI SUDAH DIVAKSIN, KENAPA?

Ns. Rendi Yoga Saputra

 

Belum lama terdengar, jagad dunia maya terutama di media sosial Twitter ramai cuitan warganet tentang pesohor Raffi Ahmad yang selang beberapa jam divaksinasi, menghadiri pesta tanpa menggunakan protokol kesehatan. Pro-kontra pun tak dapat dihindarkan di dunia maya baik di Twitter maupun Instagram. Tak sedikit yang ikut beropini tentang tindakan Raffi Ahmad tersebut. Seperti diketahui, Raffi Ahmad dipilih oleh Pemerintah sebagai perwakilan generasi muda untuk mendapat vaksinasi COVID-19 lebih awal.

 

Lalu sebenarnya, apakah setelah divaksinasi tetap harus melakukan 3M?

Jawabannya “IYA!”

 

Mungkin beberapa dari Anda terheran-heran, mengingat Vaksin COVID-19 telah dinantikan oleh banyak orang di Indonesia sejak lama. Apalagi Pandemi COVID-19 telah berlangsung setahun di Indonesia dan dunia Internasional menilai wabah ini belum terkendali. Tak sedikit pula negara lain memberlakukan kembali lockdown di beberapa wilayahnya demi memutus rantai penularan.

 

Beberapa hari yang lalu, Presiden Jokowi menjadi WNI pertama dalam penyuntikan vaksin COVID-19 dan beliau pun mendukung program vaksinasi demi keselamatan bersama. Penyuntikan tahap pertama memang ditujukan untuk tenaga kesehatan yang menjadi garda depan pelayanan kesehatan, lalu selanjunya adalah para pelayan kepentingan publik dan kemudian ditargetkan seluruh rakyat dapat menerima vaksinasi gratis dari pemerintah.

 

Memang tidak serta merta saat ini dapat semua divaksinasi saat ini juga, karena proses panjang dan seluruh dunia pun sedang sama berjuang. Namun Anda harus terlebih dahulu banyak membaca sumber terpercaya agar secara psikologis dan kognitif siap menerima vaksinasi ketika tiba waktunya disuntik vaksinasi.

 

Mengapa Setelah Divaksinasi Nanti Masih Harus Mematuhi 3M?

 

Baik, coba cermati teori yang saya tampilkan dalam ilustrasi di cover artikel ini.  Gambar tersebut adalah sebuah gambaran mudah dari “The Swiss Cheese Respiratory Virus Pandemic Defense” atau Teori Keju Swiss tentang Perlindungan Wabah Virus pada Saluran Nafas yang dicetuskan oleh James Reason, Ph.D. pada tahun 1990. Yang sebenarnya sudah banyak digaungkan sejak awal pandemic oleh banyak orang.

 

Teori ini menunjukkan bahwa masing-masing upaya tidak ada yang 100% sempurna menangkal virus. Masing-masing ada “bolong”nya. Ibaratnya, kita sedang berperang dan kita menggunakan tameng, namun tameng baja kita terbuat dari puzzle. Mulai dari masker, cuci tangan, menjaga jarak, etika batuk hingga vaksinasi merupakan sebuah puzzle baja yang harus kita susun bersama dan saling melengkapi hingga kita mampu bertahan melawan serangan musuh kita.

 

Puzzle-puzzle tersebut tak ada yang mampu bekerja sendiri, semuanya terhubung dan harus dilakukan bersama hingga yang namanya ketahanan diri terbentuk. Perlu diketahui yang namanya penyuntikan vaksinasi memerlukan lebih dari 1 kali suntik. Hal ini bermakna pula bahwa tubuh tidak serta merta membentuk pasukan penangkal virus atau antibodi seketika setelah disuntik vaksinasi. Tubuh memerlukan interaksi dan waktu untuk mengenali bahan vaksinasi. Tak perlu khawatir, BPOM dan MUI telah meyakinkan bahwa vaksinasi dari pemerintah adalah AMAN dan HALAL.

 

Ada Tanggung Jawab Pribadi, Ada Tanggung Jawab Bersama.

Kembali perhatikan gambar di atas, pada bagian bawah gambar keju, terdapat 2 batang dengan tulisan “Personal Responsibilities” dan “Shared Responsibilities”. Personal Responsibilities berarti adalah tanggung jawab pribadi kita masing-masing, yang wajib kita penuhi terlebih dahulu yang meliputi:

  1. Keju lapis pertama: menjaga jarak dan berupaya tetap di rumah
  2. Keju lapis kedua: menggunakan masker
  3. Keju lapis ketiga: kebersihan tangan dan etika saat batuk dan bersin
  4. Keju lapis keempat: hindari memegang area wajah dan kepala tanpa cuci tangan
  5. Keju lapis kelima: perhatikan durasi saat bersama banyak orang apalagi pada ruangan berventilasi buruk atau tanpa ventilasi

Sedangkan, Shared Responsibilities merupakan tanggung jawab bersama, yang wajib dilakukan oleh sebanyak-banyaknya orang disekitar kita. Fungsi edukasi dan sumber terpercaya penting juga pada jenis tanggung jawab ini. Shared Responsibilities meliputi:

  1. Keju lapis keenam: Tes yang akurat dan cepat serta tracing orang sekitar atau kontak erat
  2. Keju lapis ketujuh: Ventilasi dan penyaringan udara, terutama perhatikan saat Anda berada di kantor ber AC.
  3. Keju lapis kedelapan: dukungan pemerintah yang meliputi bantuan sosial dan ketersediaan informasi dan data akurat.
  4. Keju lapis kesembilan: Isolasi dan karantina, ini termasuk kesadaran diri melakukan isolasi mandiri, perlu diingat dalam hati dan pikiran adalah isolasi mandiri memerlukan kedisiplinan diri dan tekad kuat untuk tidak menulari orang tersayang di sekitar.
  5. Keju lapis kesepuluh: vaksinasi COVID-19.

Berdasarkan teori di atas, jelas vaksin bukanlah perlindungan tunggal yang berdiri sendiri dalam melawan pandemi COVID-19. Kita dapat belajar dari kasus Raffi Ahmad. Kita dapat mengambil hikmah dari perilaku tersebut, agar tidak kita contoh, namun tidak untuk kita hujat.

 

Ayo kembalikan semangat juang rakyat Indonesia, dengan memulai dari diri Anda sendiri melakukan 10 perlindungan yang telah disebutkan di atas. Kita mampu dan kita tidak boleh lama-lama lengah dalam  kondisi ini. Harapan itu masih ada. Pandemi ini akan teratasi apabila kita kompak bekerja sama menjalankan peran kita masing-masing. Tuhan pasti memberikan jalan pada bangsa yang berupaya.

 

Sumber:

Noh, J.Y., Song, J.Y., Yoon, J.G., Seong, H., Cheong, H.J. and Kim, W.J., 2020. Safe hospital preparedness in the era of COVID-19: The Swiss cheese model. International Journal of Infectious Diseases98, pp.294-296.

Reason, J., Hollnagel, E. and Paries, J., 2006. Revisiting the Swiss cheese model of accidents. Journal of Clinical Engineering27(4), pp.110-115.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials