Detail

Blog Image

MENGENAL WORLD LEPROSY DAY

Alek Gugi Gustaman, SKM

Pada Tanggal 25 Januari 2021 Dunia memperingati Hari Kusta Internasional (World Leprosy Day). Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Kusta, kusta adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae, lebih lanjut dalam angka 2 disebutkan, penderita kusta adalah seseorang yang terinfeksi kuman Mycobacterium Leprae yang disertai tanda dan gejala klinis.

Dalam pertimbangan Permenkes RI Nomor 11 Tahun 2019 tersebut kusta masih menjadi masalah kesehatan di indonesia karena menimbulkan masalah yang sangat kompleks, bukan hanya dari segi medis tetapi meluas hingga masalah sosial, ekonomi, dan budaya karena masih terdapat stigma di masyarakat terhadap kusta dan disabilitas yang ditimbulkannya.Untuk itu di Indonesia perlu upaya penanggulangan secara berkesinambungan demi menurunkan beban Kusta.

Upaya pencegahan dan pengendalian kusta yang diatur dalam Pasal 6 Ayat (2) Permenkes RI Nomor 11 Tahun 2019 terdiri dari promosi kesehatan, surveilans, kemoprofilaksis, dan tata laksana Penderita Kusta.

Kegiatan promosi kesehatan pada Pasal 7 Ayat (2) Permenkes RI Nomor 11 Tahun 2019 dilaksanakan dalam bentuk; a.memberikan informasi kepada masyarakat tentang tanda dan gejala ini Kusta, serta teknis kegiatan Penanggulangan Kusta; b. mempengaruhi individu, keluarga, dan masyarakat untuk penghapusan stigma dan menghilangkan diskriminasi pada Penderita Kusta dan orang yang pernah mengalami Kusta; c. mempengaruhi pemangku kepentingan terkait untuk memperoleh dukungan kebijakan Penanggulangan Kusta, khususnya penghapusan stigma dan diskriminasi, serta pembiayaan; dan d. membantu individu, keluarga, dan masyarakat untuk berperan aktif dalam penemuan dan tata laksana Penderita Kusta, pelaksanaan Kemoprofilaksis, dan kegiatan penelitian dan pengembangan.

Untuk kegiatan Surveilans berdasarkan Pasal 9 Ayat (2) dilaksanakan dalam bentuk pengumpulan data, pengolahan data, analisa data, dan diseminasi informasi. Selanjutnya Kemoprofilaksis dilaksanakan dalam bentuk pemberian obat rifampisin dosis tunggal pada orang yang kontak dengan Penderita Kusta yang memenuhi kriteria dan persyaratan berdasarkan Pasal 12 Ayat (2) Permenkes RI Nomor 11 Tahun 2019.Sedangkan upaya tata laksana Penderita Kusta sebagaimana dimaksud Pasal 14 Ayat (2) dilakukan dalam bentuk penegakkan diagnosis, pemberian obat dan pemantauan pengobatan, serta pencegahan dan penanganan disabilitas.

Sejarah Hari Kusta Internasional

Minggu terakhir Januari dipilih oleh kemanusiaan Prancis Raoul Follereau sebagai penghargaan atas kehidupan Mahatma Gandhi yang memiliki belas kasihan kepada orang-orang yang menderita kusta serta bertepatan dengan peringatan kematian Mahatma Ghandi pada 30 Januari 1948.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap hari hampir 600 lebih orang didiagnosis dan memulai pengobatan kusta. Pada tahun 2014 saja, 213.899 orang didiagnosis sakit kusta dan diperkirakan jutaan lainnya tidak terdiagnosis.

 

Dikutip dari MedIndia, sejarah pertama penyakit kusta disebutkan ada di India pada awal 600 SM, di mana itu dilambangkan dengan istilah Sansekerta 'Kushtha', yang secara harfiah berarti 'menggerogoti'.

Laporan keberadaan kusta juga dapat ditemukan dalam tulisan kuno dari Jepang (abad ke-10 SM) dan Mesir (abad ke-16 SM).

Penulis kuno telah mengemukakan beberapa teori tentang asal mula dan penyebaran penyakit kusta, seperti infeksi yang berasal dari sungai Nil, kebiasaan makan masyarakat yang tidak higienis dan sebagainya.

Penderita Kusta harus menghadapi kritik dan perlakuan yang ketat bahkan di masa lalu. Mereka diharuskan mengenakan pakaian khusus dan selanjutnya harus membawa genta kayu untuk memperingatkan orang lain bahwa mereka sedang bergerak.

Mereka juga dilarang mengunjungi tempat-tempat umum seperti pabrik, rumah kue atau gereja dan harus menjaga jarak agar tidak menyentuh orang sehat lainnya atau makan bersama mereka.

Para penderitanya tidak diperbolehkan berjalan di jalan setapak yang sempit atau mencuci di sumber air biasa seperti sumur, sungai, dan sebagainya.

 

Penyakit kusta adalah suatu penyakit kulit yang dapat berkembang dan mempengaruhi saraf ekstremitas. Adapun penyebab dari penyakit ini adalah infeksi yang ditimbulkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang dapat menular melalui cairan yang keluar dari hidung atau mulut pengidap kusta. Meskipun demikian, penyakit ini tidak gampang menular.

Gejala – Gejala Kusta

Seperti penyakit lainnya, kusta juga memiliki gejala – gejala awal. Gejala penyakit kusta dapat dikatakan tidak nampak begitu jelas. Dalam beberapa kasus, bakteri kusta dapat terlihat setelah berkembang biak selama 20 hingga 30 tahun dalam tubuh penderita.

Berikut adalah gejala – gejala yang dapat dirasakan oleh penderitanya:

  • Kulit mati rasa (tidak dapat merasakan sakit, suhu, tekanan dan sentuhan).
  • Muncul luka yang tidak terasa sakit
  • Pembesaran saraf di siku dan lutut
  • Munculnya lesi yang berwarna terang, pucat dan menebal pada kulit
  • Melemahnya otot tangan dan kaki
  • Hilangnya bulu mata dan alis
  • Mata kering dan jarang berkedip
  • Mimisan atau kehilangan tulang hidung

Kusta juga dapat menyerang sistem saraf, hal ini mnyebabkan hilangnya kemampuan untuk merasakan sakit. Hilangnya kemampuan untuk merasakan sakit, tentunya sangat berpengaruh pada kehidupan penderitanya. Mereka bisa secara tidak sadar mengami cedera atau luka, bahkan bisa muncul gejala hilangnya jari pada kaki dan tangan.

 

 

Penyebab Kusta

Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae. M. leprae berkembang biak dengan lambat dan masa inkubasi penyakit rata-rata adalah lima tahun.

Dalam beberapa kasus, gejala dapat muncul dalam waktu satu tahun, tetapi bisa juga membutuhkan waktu hingga 20 tahun.

Penyakit ini terutama menyerang kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernapasan bagian atas, dan mata, di mana orang yang menderita penyakit ini merasa sulit untuk menutup mata.

Tanda pertama kusta biasanya berupa bercak kulit yang berubah warna dan jika tidak diobati, kusta menyebabkan hilangnya sensasi, kelumpuhan, bisul dan infeksi, yang dapat menyebabkan kebutaan dan amputasi.

Saraf yang membesar juga bisa menjadi tanda kusta. Saraf ulnaris, di bagian belakang siku, adalah yang paling sering terkena serta saraf peroneal di bagian luar kaki, tepat di bawah lutut.

Selain itu, kusta terkadang menyebabkan bintil atau benjolan pada kulit.

Pengobatan Kusta

G.A. Hansen pertama kali mengidentifikasi bakteri ini pada tahun 1873, menjadikannya kuman pertama yang diidentifikasi sebagai mikroorganisme penyebab penyakit. Ini juga disebut sebagai penyakit Hansen.

Perkembangan Dapson pada tahun 1941 menandai tonggak sejarah dalam pengobatan kusta. Clofazimine dan Rifampicin merupakan obat lain yang paling umum digunakan.

 

Penggunaan obat secara luas selama tahun 1970-an mengakibatkan perkembangan resistensi, sehingga tidak efektif bila diresepkan sendiri.

Pada tahun 1985, kusta dipandang sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama di hampir 122 negara. Pengenalan kombinasi Rifampisin, Clofazimine dan Dapsone (MDT) dalam bentuk 'blister pack' merevolusi pengobatan kusta untuk kedua kalinya.

Pemberian MDT gratis ke beberapa negara di dunia oleh WHO, membatasi penyebaran dan kejadian penyakit lebih lanjut.

 

Penerapan terapi MDT yang efektif di daerah yang sebelumnya tidak terjangkau, pengenalan dini kerusakan saraf dan manajemen kekambuhan setelah MDT jangka pendek mewakili beberapa tantangan yang harus diatasi untuk memastikan pemberantasan kusta secara tuntas.

Pencegahan Kusta

Hingga saat ini, vaksin untuk kusta belum berhasil diciptakan. Diagnosa dini dan pengobatan yang tepat adalah pencegahan yang terbaik untuk saat ini. Gerakan – gerakan untuk memberikan informasi serta cara untuk mencegah penularan kusta harus terus diterima oleh masyarakat. 25 Januari: Hari Hari Kusta Internasional adalah salah satu peringatan untuk mengingatkan kembali semua informasi – informasi terkait kusta atau leprosy. Mari putuskan rantai penularan dan hindari kontak dengan hewan – hewan liar, karena merupakan sumber dari penyakit – penyakit endemik.

 

Tak dapat dipungkiri bahwa stigma – stigma negatif penyakit kusta masih ada di benak masyarakat. Bahkan ada beberapa yang menganggap bahwa penyakit ini adalah kutukan, karena kurangnya sosialisasi untuk menambah wawasan mereka.

 

Informasi tentang penyakit kusta haruslah terus diberikan kepada masyarakat luas. Tidak hanya pada peringatan 25 Januari: Hari Kusta Internasional saja, leaflet kusta adalah media sosialisasi yang harus tetap ada di rumah sakit atau dibagikan kepada masyarakat luas.

Kenali, cegah, dan hapus stigma negatifnya!

 

 

 

  • Disadur dari berbagai sumber

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials