Detail

Blog Image

Gejala Baru Covid -19 , DELIRIUM!

Alek Gugi Gustaman, SKM

 

Virus Corona Covid-19 tak hanya menyerang fisik, namun juga mental si penderitanya. Dua studi terbaru menunjukkan, delirium menjadi salah satu gejala awal infeksi baru Covid-19.

Pada 4 November 2011, peneliti Universitas Oberta de Catalunya (UOC) mengeluarkan hasil tinjauan tentang bagaimana Virus Corona mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyarankan bahwa jika disertai demam, delirium harus dianggap sebagai manifestasi penyakit, terutama pada orang tua.

Tinjauan tersebut menemukan bahwa meskipun hingga saat ini banyak penelitian mengenai Virus Corona yang dilakukan sejak kasus pertama Pneumonia yang dilaporkan di China pada 31 Desember 2019 berfokus pada kerusakan yang ditimbulkan di paru-paru dan organ lain, seperti ginjal juga jantung, ada indikasi yang berkembang bahwa virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 pun memengaruhi sistem saraf pusat yang menyebabkan sakit kepala hingga delirium.

Pengertian Delirium

Delirium adalah kondisi yang cukup umum ditemui, khususnya pada penderita usia lanjut di rumah sakit. Delirium merupakan suatu kondisi penurunan kesadaran dengan gejala yang tidak khas. Gangguan ini bersifat akut dan berfluktuatif.

Penyebab Delirium

Delirium merupakan fenomena kompleks, multifaktorial, dan memengaruhi berbagai bagian sistem saraf pusat. Salah satu mekanisme terjadinya delirium adalah defisiensi neurotransmitter. Selain itu, hipoglikemia dan hipoksia juga berperan dalam terjadinya delirium. Defisiensi asetilkolin dapat mengganggu transmisi neurotransmitter di otak.

Delirium juga dapat terjadi sebagai akibat penghentian substansi seperti alkohol, benzodiazepin, atau nikotin. Faktor predisposisi seorang mengalami delirium adalah:

  • Usia sangat lanjut
  • Mild cognitif impairment – demensia
  • Gangguan fungsi beraktivitas
  • Gangguan sensorium
  • Frailty elderly
  • Obat (ranitidin, simetidin, ciprofloxacin psikotropika)
  • Polifarmasi

Faktor pencetus yang sering dijumpai antara lain:

  • Pneumonia
  • Infeksi saluran kemih
  • Hiponatremia
  • Dehidrasi
  • Hipoglikemia
  • CVD
  • Perubahan lingkungan (perpindahan ruangan)

Faktor Risiko Delirium

Beberapa faktor risiko yang memicu delirium, antara lain:

  • Memiliki kelainan pada otak.
  • Berusia lanjut atau di atas usia 65 tahun.
  • Memiliki riwayat mengidap delirium sebelumnya.
  • Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran.
  • Mengidap kombinasi beberapa penyakit.

Gejala Delirium

Gejala delirium sering kali tidak khas. Pengidap akan menunjukkan gejala perubahan kondisi mental dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Beberapa gejala tersebut, antara lain:   

  • Penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya, seperti mudah teralihkan oleh hal yang tidak penting, sulit fokus pada sautu topik pembicaraan, dan sering melamun.
  • Kemampuan berpikir yang buruk (gangguan kognitif), seperti buruknya daya ingat terutama untuk jangka pendek, disorientasi, kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata, bicara bertele-tele, serta kesulitan dalam memahami pembicaraan, membaca, dan menulis.
  • Gangguan emosional, seperti gelisah, takut atau paranoid, depresi, mudah tersinggung, apatis, perubahan mood mendadak, dan perubahan kepribadian.
  • Terjadi perubahan perilaku, seperti gelisah dan menjadi lebih agresif, senang berhalusinasi, menjadi penutup atau pendiam, pergerakan menjadi lambat serta terganggunya kebiasaan tidur.

Delirium juga dapat menunjukkan tampilan psikomotor seperti:

Delirium hipoaktif

    Sebanyak 25% akan memiliki tampilan klinis berupa delirium hipoaktif. Pada delirium tipe ini, penderita akan bersikap tenang dan menarik diri. Penderita akan cenderung tertidur dan memiliki respons yang lambat.

Delirium hiperaktif.

    Penderita akan menunjukkan tampilan gaduh, gelisah dan bicara meracau. Selain itu, penderita juga sering mengalami halusinasi.

Delirium campuran

    Penderita menunjukkan gambaran klinis baik hiperaktif maupun hipoaktif.

Pengobatan Delirium

Langkah utama adalah menilai semua kemungkinan penyebab, menyediakan dukungan suportif, dan mencegah komplikasi. Jagalah kondisi penderita agar tidak terjadi kecelakaan selama perawatan, karena penderita berada pada fase penurunan kesadaran. Penanganan masalah yang mendasari sangat diperlukan –misalkan infeksi, penurunan gula darah, gangguan dapat buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK), dan imobilisasi.

Pencegahan  Delirium

?Pencegahan delirium dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor risiko yang meningkatkan risiko delirium. Orang berusia lanjut (di atas 60 tahun) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami delirium.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0