Detail

Blog Image

Aktifitas Pencegah Demensia

Alek Gugi Gustaman, SKM

Anggota PPPKMI JATIM

Apakah demensia itu?

Demensia adalah kumpulan penyakit dengan gejala-gejala yang mengakibatkan perubahan pada pasien dalam cara berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Demensia dapat disebabkan oleh kematian sel otak secara gradual.  Seringkali, memori jangka pendek, pikiran, kemampuan berbicara dan kemampuan motorik juga terpengaruh.

Penurunan kemampuan kognisi atau kemampuan berpikir yang terjadi pada pasien dengan demensia menyebabkan gangguan memori, gangguan dalam atensi, bahasa. Perencanaan, pengambilan keputusan dan gangguan perilaku. Sebagian besar pasien demensia adalah pasien geriatric atau orang lanjut usia, tetapi demensia bukan bagian dari penyakit penuaan, karena pada beberapa kasus demensia disebabkan oleh penyakit otak. Penyakit otak yang paling sering menyebabkan demensia adalah penyakit Alzheimer.

Penyebab Demensia

Demensia disebabkan oleh rusaknya sel saraf dan hubungan antar saraf pada otak. Berdasarkan perubahan yang terjadi, ada beberapa jenis demensia, yaitu:

Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi. Penyebab Alzheimer masih belum diketahui, namun perubahan genetik yang diturunkan dari orang tua diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Selain faktor genetik, kelainan protein dalam otak juga diduga dapat merusak sel saraf sehat dalam otak.

 

Demensia vaskular

Demensia vaskular disebabkan oleh gangguan pembuluh darah di otak. Stroke berulang merupakan penyebab tersering dari demensia jenis ini.

Kondisi lain yang menimbulkan gejala demensia

Selain penyakit Alzheimer dan demensia vaskular, terdapat juga kondisi-kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala demensia, namun sifatnya sementara. Kondisi tersebut meliputi:

  • Kelainan metabolisme atau endrokrin.
  • Multiple sclerosis.
  • Subdural hematoma.
  • Tumor otak.
  • Efek samping obat, seperti obat penenang dan obat pereda nyeri.
  • Kekurangan vitamin dan mineral tertentu, seperti kekurangan vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12, vitamin E, dan zat besi dalam tubuh.
  • Keracunan akibat paparan logam berat, pestisida, dan konsumsi alkohol.

Faktor Risiko

Terdapat faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko demensia, yaitu pertambahan usia, adanya riwayat demensia dalam keluarga, serta gaya hidup yang tidak baik, seperti pola makan tidak sehat, tidak rutin berolahraga, merokok, dan kecanduan alkohol.

Selain itu, ada beberapa penyakit yang juga berisiko menimbulkan demensia, antara lain:

  • Sindrom Down
  • Depresi
  • Sleep apnea
  • Kolesterol tinggi
  • Obesitas
  • Hipertensi
  • Diabetes

Gejala Demensia

Gejala utama demensia adalah penurunan memori dan perubahan cara berpikir, sehingga tampak perubahan pada perilaku dan cara bicara. Gejala tersebut dapat memburuk seiring waktu. Agar lebih jelas, berikut adalah tahapan gejala yang muncul pada penderita demensia:

Tahap 1

Pada tahap ini, kemampuan fungsi otak penderita masih dalam tahap normal, sehingga belum ada gejala yang terlihat.

Tahap 2

Gangguan yang terjadi pada tahap ini belum memengaruhi aktivitas sehari-hari penderita. Contohnya, penderita menjadi sulit melakukan beragam kegiatan dalam satu waktu, sulit membuat keputusan atau memecahkan masalah, mudah lupa akan kegiatan yang belum lama dilakukan, dan kesulitan memilih kata-kata yang tepat.

Tahap 3

Pada tahap ini, mulai terjadi gangguan mental organik. Penderita dapat tersesat saat melewati jalan yang biasa dilalui, kesulitan mempelajari hal baru, suasana hati tampak datar dan kurang bersemangat, serta terjadi perubahan kepribadian dan menurunnya kemampuan bersosialisasi.

Tahap 4

Ketika memasuki tahap ini, penderita mulai membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berpakaian dan mandi. Penderita juga mengalami perubahan pola tidur, kesulitan dalam membaca dan menulis, menjadi apatis, menarik diri dari lingkungan sosial, berhalusinasi, mudah marah, dan bersikap kasar.

Tahap 5

Ketika sudah masuk ke tahap ini, seseorang dapat dikatakan mengalami demensia berat. Demensia pada tahap ini menyebabkan penderita tidak dapat hidup mandiri. Penderita akan kehilangan kemampuan dasar, seperti berjalan atau duduk, tidak mengenali anggota keluarga, dan tidak mengerti bahasa.

Apakah aktifitas fisik dapat mencegah demensia?

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia, salah satunya adalah aktifitas dan latihan fisik. Dalam banyak penelitian terbukti bahwa aktifitas dan latihan fisik dapat mencegah timbulnya degradasi sel otak yang menyebabkan demensia. Aktifitas fisik adalah bagian penting dari gaya hidup yang berperan dalam peningkatan kebugaran, melatih gerakan dan koordinasi otot dan peningkatan tingkat kesehatan secara keseluruhan. Aktifitas fisik mempertahankan aliran darah menuju otak  dan memungkinkan adanya perbaikan sel otak dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Suatu studi gambaran otak menunjukkan bahwa orang dengan aktifitas fisik intensitas sedang yang teratur mempunyai peningkatan volume otak pada area yang penting untuk memori, pembelajaran, konsentrasi dan area perencanaan dibandingkan dengan orang tanpa aktifitas fisik. Disamping itu mereka juga mempunyai fungsi kognitif yang lebih baik.

Orang orang yang melakukan latihan atau aktifitas fisik secara teratur mempuntyai factor resiko lebih rendah mengidap penyakit jantung dan stroke yang merupakan salah satu factor terjadinya demensia. Aktifitas fisik juga sangat penting dalam mengurangi resiko tekanan darah tinggi, diabetes tippe 2 dan obesitas yang merupakan factor resiko terjadinya demensia. Dengan demikian, aktifitas fisik menduduki bagian penting dalam pencegahan terjadinya demensia dan merupakan kegiatan yang membantu meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan demensia.

Aktifitas dan latihan fisik yang bagaimana yang dapat mencegah demensia?

Definisi aktifitass fisik menurut WHO adalah semua gerakan tubuh yang dilakukan oleh otot tubuh yang memerlukan sejumlah energi, termasuk di dalamnya adalah aktifitas saat bekerja, bermain, pekerjaan rumah tangga, latihan fisik dan olahraga. Latihan fisik merupakan bagian dari aktifitas fisik yang terencana yang ,mempunyai tujuan tertentu untuk mencapai kebugaran fisik. Secara garis besar, latihan fisik dapat dibagi menjadi empat kategori yaitu aerobik atau endurance exercise (latihan ketahanan), strength or resistance training (latihan penguatan otot), flexibility exercises (latihan kelentukan) dan balance exercises (latihan keseimbangan).

Latihan aerobic atau ketahanan adalah aktifitas fisik yang meningkatkan nafas dan denyut jantung. Melakukannya secara teratur dapat meningkatkan ketahanan fisik dan kebugaran jantung serta pembuluh darah dan pernafasan. Contoh latihan aerobik antara lain jalan kaki, jogging, berenang, bersepeda, bahkan pekerjaan rumah tangga. Rekomendasi untuk orang dewasa dianjurkan dilakukan paling tidak 30 menit setiap hari. American College of Sport Medicine merekomendasikan latihan aerobic dilakukan 30-60 menit pada orang dewasa sehat dengan penurunan kondisi dilakukan 3-5 hari setiap minggu.

Latihan penguatan adalah aktifitas fisik yang menggunakan beban atau tahanan terhadap otot rangka. Bila latihan penguatan dilakukan secara teratur akan meningkatkan kekuatan dan tonus otot, tendon dan sendi. Rekomendasi latihan ini dilakukan minimal dua kali seminggu dengan tahanan atau beban yang diseuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Latihan fleksibilitas atau kelentukan adalah latihan peregangan otot.  Bila dilakukan teratur dapat membantu mempertahankan kelentukan sendi, memperkuat tulang belakang dan meningkatkan koordinasi dan keseimbangan. Contoh latihan ini adalah pilates, yoga dan tai chi. Latihan ini dapat dilakukan bersamaan dengan latihan keseimbangan dan latihan aerobic. Frekwensi latihan antara 2-3 hari per minggu.

Latihan keseimbangan membantu meningkatkan keseimbangan dan koordinasi dan mengurangi resiko jatuh. Tai chi, yoga, latihan penguatan otot anggota gerak bawah merupakan contoh latihan ini. Rekomendasi pada orang dewasa adalah dilakukan minimal 3 kali seminggu.

Yang harus diingat dalam melakukan latihan adalah selalu dimulai dengan pemanasan dan diakhiri dengan pendinginan. Pilih aktifitas yang menyenangkan misalnya jalan kaki, berenang, berkebun, dan aktifitas lain sesuai hobi yang mempunyai komponen latihan di atas. Pada dasarnya semua kegiatan dilaksanakan dengan teratur untuk mencapai kebugaran yang diinginkan. 

Bagaimana latihan otak  mengurangi resiko demensia?

Selain aktifitas fisik, latihan otak juga dapat mengurangi resiko demensia. Otak yang aktif mengurangi sel otak yang rusak. Suatu studi menunjukkan bahwa latihan otak yang dilakukan dapat meningkatkan memori dan pelaksanaan tugas sehari-hari. Latihan otak pada intinya bertujuan untuk tetap mempertahankan aktifitas otak. Belajar sesuatu yang baru, mempelajari bahasa atau instrument music yang baru, memainkan game board dengan anak dan cucu, mengerjakan teka-teki silang, puzzles, memainkan permainan memori, membaca, menulis atau mengikuti kursus yang menyenangkan adalah banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk tetap mengaktifkan otak.

          Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pada dasarnya manusia diciptakan sebagai makhluk yang berkembang, bergerak dan berpikir, dan pada intinya hal inilah yang dapat mengurangi  resiko terjadinya kerusakan otak yang selanjutnya akan mengakibatkan demensia.

Tetap aktif, tetap sehat, dan katakan tidak pada demensia.

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0