Detail

Blog Image

LET’S TALK ABOUT: DEMENSIA ALZHEIMER | Seminar Online Peringatan Hari Alzheimer Sedunia

Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat (RSJRW) bekerja sama dengan Alzheimer Indonesia (Alzi) chapter Malang telah menyelenggarakan seminar bertajuk “Let’s Talk about Demensia Alzheimer” untuk tenaga professional kesehatan secara gratis. Acara ini diselenggarakan menggunakan platform online menggunakan aplikasi Zoom pada hari Minggu 27 September 2020. Hadir sebagai pembicara dalam Zoominar ini adalah dr. Anasrulloh Sp.S., M.Biomed dan dr Yuniar, Sp.KJ(K)., M.MRS. Acara diikuti oleh 100 orang di ruang Zoom Meeting dan lebih dari 258 profesional kesehatan mengikuti Live Streaming melalui akun YouTube kanal Hukormas RSJ dr. Radjiman Wediodingrat.

Acara ini merupakan puncak peringatan World Alzheimer Month 2020, yang diperingati setiap Bulan September tiap tahunnya, serta Hari Alzheimer 2020 yang jatuh pada 21 September 2020. Terselenggaranya acara ini tak lain merupakan bukti kerja sama lintas sektoral antara RSJRW, sebagai rumah sakit terakreditasi Internasional, dengan Alzi yang merupakan perkumpulan pemerhati dan caregiver serta pasien Alzheimer. Zoominar kali ini secara umum bertujuan untuk me-refresh ingatan dan ilmu tenaga Kesehatan akan gejala awitan Demensia Alzheimer.

Acara dimulai pada pukul 13.00 WIB dibuka dengan pemutaran jingle “Jangan Maklum dengan Pikun”, yang merupakan jargon khas dari Alzheimer Indonesia dalam menyuarakan peningkatan awareness akan penyakit Demensia. Acara dilanjutkan dengan wawancara singkat dengan Ratu Tita Quritama sebagai ketua Alzi Chapter Malang yang menuturkan bahwa fase awal Ayah Tita menderita Alzheimer adalah dibawa ke pusat pelayanan kesehatan. Namun tidak serta merta menghapus kebingungan keluarga pada perubahan perilaku ayahnya, serta stress dalam merawat sang Ayah membuat Tita dan keluarga panik. “Doctor Shopping” pun dilakukan Tita dan keluarga akibat kurangnya informasi yang didapatkan. Kejadian ini tak hanya dialami oleh Tita saja namun hampir seluruh keluarga dan caregiver Orang Dengan Demensia (ODD) merasakannya.

Paparan Materi pertama mengenai aspek neurologi pada pasien Demensia Alzheimer yang disampaikan oleh dokter Anasrullah Sp.S., M.Biomed. Pada paparan sekitar 30 menit itu, dokter Anas menyampaikan bahwa sebagai tenaga kesehatan profesional harus meningkatkan kompetensi dan pengetahuan dalam tatalaksana pasien dengan penyakit yang berhubungan dengan penuaan seperti penyakit degenertif dan demensia. Seiring berkurangnya fungsi organ, maka semakin tinggi risiko yang dihadapi lansia dalam mengalami penyakit tersebut, termasuk dengan gangguan fungsi otak. Penurunan fungsi otak dapat dilihat dari hasil kerja otak yang meliputi: fungsi kognitif (berfikir, menyeleksi, merekam dan memilah informasi), fungsi Bahasa, fungsi perseptual-motor, fungsi belajar dan memori, fungsi complex attention dan fungsi sosial. Selain itu terjadinya gangguan dari hasil kerja otak merupakan hal yang harus dikaji pertama kali menemui pasien. Sebagai seorang tenaga kesehatan profesional harus mendapatkan data Riwayat serta perubahan pola perilaku dan pemenuhan kebutuhan yang terjadi pada pasien.

Dokter Anas juga menekankan bahwa sebagai tenaga kesehatan profesional pun tidak boleh menyepelekan keluhan yang disampaikan oleh keluarga dan pasien. Pada kesempatan tersebut diingatkan kembali definisi, tipe Syndrome Demensia dan penegakan diagnosa Demensia sebagai dasar pembeda gejela pasien yang mengalami Demensia dan pasien yang mengalami Delirium. Beberapa tools juga dipaparkan sebagai dasar pemeriksaan neurologi pada pasien penurunan fungsi kognitif seperti MMSE dan The AD8 yang telah tersedia juga aplikasi smartphones-nya.  Lebih lanjut juga dipaparkan perbedaan beberapa jenis Demensia yang diharapkan semakin memperkaya pengetahuan peserta. Dementia dapat mempengaruhi kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien, sehingga dapat dikatakan sebagai kecacatan kognitif.

Materi kedua disampaikan oleh dr. Yuniar Sp.KJ(K)., M.MRS dengan judul Behavior and Psychology Symptoms of Dementia (BPSD). Mengingat Health Care Provider (HCP) merupakan pintu masuk pertama kali ODD dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Dijelaskan bahwa biasanya ODD dan keluarga baru datang mencari pertolongan tenaga kesehatan saat sudah dalam fase munculnya BPSD. Lebih lanjut  Dementia merupakan gejala fungsi kognitif yang progresif dan mengganggu fungsi sehari-hari. BPSD sendiri merupakan cara komunikasi ODD coba katakan kepada kita tentang dunia mereka. BPSD tergolong dalam 2 kelompok besar yaitu Gejala Perilaku (wandering, agresifitas, perubahan pola makan dan tidur serta sosial) dan Gejala Psikologis (kegelisahan, apatis, depresi dan iritabilitas emosi). BPSD merupakan sebuah tangan yang dilambaikan ODD untuk meminta pertolongan kita.

Poin penting pemicu BPSD sendiri yang perlu diperhatikan antara lain:

  • C: Communication Contohnya adalah mempertimbangkan hubungan person to person, menghormati individu dan pribadi yang sederajat, baik komunikasi verbal dan non-verbal ODD
  • A: Activities Aspek yang perlu dipertimbangkan: apa yang sedang ODD lakukan saat ini. Apa yang perlu distimulasi dan pertimbangkan pula apakah tugas yang diberikan untuk ODD terlalu sulit atau tidak
  • U: Unmet Need Merupakan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi seperti kebutuhan nutrisi, eliminasi, penyakit kronis dan efek samping obat. Termasuk pula rasa nyeri yang dirasakan ODD, sehingga tenaga kesehatan harus mengenali ekspresi non-verbal yang ditunjukkan ODD. Selain itu kebutuhan kasing sayang dan cinta juga merupakan aspek penting dalam perawatan ODD
  • S: Story Meliputi kepribadian, pengalaman / cerita kehidupan, hubungan / Riwayat keluarga, rutinitas, ketertarikan dan hal yang tidak disukai
  • E: Environment Perhatikan lingkungan ODD seperti kebisingan dan hal-hal yang mendukung kenyamanan ODD
  • D: Dementia Aspek kognitif mana yang terganggu pada ODD akibat Dementia.

 

Merancang intervensi terhadap BPSD dapat dilakukan dengan dimulai mengumpulkan informasi (5W + 1H) tentang kebutuhan ODD dan keluhannya, lalu menganalisis informasi tersebut (cari penyebab yang paling mungkin), kemudian putuskan cara terbaik merespon BPSD, lakukan dan review. Siklus ini menurut dapat berulang kembali dari awal untuk mengevaluasi keberhasilannya.

Secara principal, Dokter Yuniar menjelaskan bahwa intervensi terhadap BPSD adalah

  1. Preventif (mengantisipasi kebutuhan ODD) yang meliputi:Observasi dari waktu ke waktu untuk mengidentifikasi pemicu dari perilaku tersebut. Melakukan strategi yang dapat mencegah atau meminimalisir efek dari perilaku.
  2. Suportif (memenuhi kebutuhan ODD saat mereka membutuhkannya) meliputi: Respons intuitif kita atas perilaku tak terduga dan membutuhkan pemahaman atas ODD. Melakukan distraksi dan melakukan intervensi non-farmakologi maupun farmakologi sesuai arahan ahli.

Acara yang berlangsung 2 jam tersebut diikuti oleh tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Riau, Aceh, Sumatera Utara dan Barat, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. Dokter Yuniar berharap tujuan utama acara ini dapat tercapai yakni meningkatkan kepekaan tenaga kesehatan terhadap gejala awal Demensia, sehingga tatalaksana dapat lebih baik lagi, dan kebutuhan ODD serta keluarga terpenuhi dengan baik. (RYS)

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0