Detail

Blog Image

KEGEMUKAN MENGGANGGU FUNGSI OTAK ?

ALEK GUGI GUSTAMAN, SKM

Lemak sebenarnya sangat diperlukan oleh tubuh manusia, antara lain sebagai cadangan energy, pembentuk selaput myelin pada saraf, palarut vitamin A, S, E dan K, pengisi dan pelindung jaringan tubuh, penyekat panas dan sebagainya. Namun kebutuhan tubuh akan lemak ada batas idealnya, jika terjadi penimbunan yang berlebih maka terjadilah apa yang dinamakan obesitas. Dalam hal ini rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Sebagai catatan, wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.

Apa Itu Kegemukan?

Obesitas (kegemukan) adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan. Sementara overweight (kelebihan berat badan) adalah keadaan dimana berat badan seseorang melebihi berat badan normal. Beberapa definisi obesitas menurut para dokter adalah: Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan; Suatu penyakit kronik yang dapat diobati; Suatu penyakit epidemic; Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup; Penanganan obesitas membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi

Dalam hal ini obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) telah diakui sebagai metoda yang paling praktis dalam menentukan tingkat overweight dan obesitas pada orang dewasa di bawah umur 70 tahun. BMI didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Berdasarkan Kalkulator IMT, katagori normal bila IMT berada pada kisaran 18,5 - 25. Jika IMT berkisar antara 25 - 27 maka termasuk katagori gemuk (overweight atau kegemukan), sedangkan jika di atas 27 termasuk sangat gemuk (obesitas). Sedangkan Klasifikasi BMI menurut WHO, batas normal berada pada kisaran 18,5 - 24,9 (kg per meter persegi); overweight 25; pre-obese 25,0 - 29,9 (risiko meningkat); obese I 30,0 - 34,9 (risiko sedang); obese II 35,0 - 39,9 (risiko berbahaya); dan obese III 40,0 ke atas (risiko sangat berbahaya).

Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti: Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa); Tekanan darah tinggi (hipertensi); Stroke; Serangan jantung (infark miokardium); Gagal jantung; Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar); Batu kandung empedu dan batu kandung kemih; Gout dan artritis gout; Osteoartritis (kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi); Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah); Sindroma Pickwickian ((obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk).

Orang yang mengalami obesitas memiliki jaringan otak 8 persen lebih sedikit dibanding pada orang yang berat badannya normal. Sebagai dampaknya, otak mengalami kemunduran hingga 16 tahun, atau 16 tahun lebih tua dibanding orang yang kadar lemaknya dalam kondisi normal. Selain itu diungkapkan, bahwa orang yang masih dalam taraf kegemukan ternyata juga mengalami kemunduran otak. Hasil studi dengan pemindaian otak 94 orang, dengan rata-rata usia 70 tahun tersebut, menunjukkan, bahwa orang gemuk memiliki jaringan otak empat persen lebih sedikit, dan otaknya tampak lebih tua 8 tahun.

Orang yang mengalami obesitas kapasitas jaringan otaknya akan berkurang, hal ini menyebabkan penurunan kemampuan kognitif. Sebagai catatan, kemampuan kognitif mencangkup kemampuan-kemampuan intelektual, kemampuan berpikir maupun kecerdasan. Paling tidak meliputi katagori kemampuan ingatan; pemahaman; aplikasi; analisis, sintesis dan evaluasi.

Berkurangnya kapasitas jaringan otak sebagai dampak obesitas, dapat menimbulkan risiko terjadinya penyakit Alzheimer dan berbagai penyakit yang menyerang otak.

Risiko terkena Alzheimer dapat dikurangi dengan menerapkan pola makan yang sehat dan berat badan selalu terkontrol. Orang yang obesitas akan kehilangan jaringan otak di bagian depan dan bagian temporal lobes, area otak yang sangat penting untuk memori dan perencanaan. Selain itu, area lain yang terganggu adalah anterior cingulate gyrus (berfungsi untuk memusatkan perhatian), hippocampus (memori jangka panjang), dan basal ganglia (untuk pergerakan). Sedangkan orang yang termasuk kegemukan, mengalami kehilangan jaringan otak di area basal ganglia, corona radiata, serta parietal lobe (berfungsi sebagai sensori).

Obesitas bisa dipicu oleh faktor genetik, lingkungan dan psikis. Ternyata obesitas berkaitan dengan faktor genetik yang diturunkan dari orang tua. Namun kebiasaan dan pola makan dalam keluarga (factor lingkungan) ternyata menulari anggota keluarga. Jika si ayah menyukai yang manis-manis, maka akan mudah diikuti oleh anaknya. Faktor piskis, kejiwaan atau mentalitas tertentu ternyata bisa juga menimbulkan obesitas.

Berikut 5 cara obesitas dapat mengubah fungsi otak antara lain:

  1. Obesitas merusak memori

    Kegemukan mungkin dapat merusak memori, setidaknya untuk wanita setelah menopause

  1. Perubahan perilaku makan saat stres

    Ketika memiliki kelebihan lemak dan menjalani diet untuk menurunkan berat badan,  seseorang dapat mengalami stres. Ketika merasa stres maka keinginan makan seseorang akan semakin bertambah. Sehingga keesokan harinya akan semakin banyak makan. Diet dapat mengubah bagaimana respons otak terhadap stres.

  1. Obesitas meningkatkan risiko demensia

    Memiliki timbunan lemak perut lebih dikaitkan dengan penurunan volume otak total dalam orang dewasa setengah baya. Ada kemungkinan bahwa lemak dapat memicu peradangan, yang memberi tekanan pada tubuh dan mungkin mempengaruhi otak.  Lemak visceral adalah lemak yang terletak di antara organ dalam rongga perut. Lemak visceral mungkin memainkan peran dalam mengurangi ukuran otak. Lemak visceral melepaskan profil unik dari hormon, yang dapat mempengaruhi tubuh dalam cara yang berbeda dari hormon-hormon yang dikeluarkan oleh lemak subkutan, atau lemak di bawah kulit. Orang dengan volume otak yang lebih kecil berada pada risiko tinggi untuk demensia, dan cenderung untuk melakukan hal yang lebih buruk pada tes kognitif.

  1. Obesitas dapat membuat lebih impulsif

    Pada anak obesitas, sebuah wilayah otak yang bertugas mengontrol impulsif, yang  disebut korteks orbitofrontal, tampaknya menyusut dibandingkan dengan anak tanpa lemak.

  1. Obesitas menyebabkan kecanduan makanan

    Kenaikan berat badan dapat mempengaruhi otak untuk kesenangan yang didapatkan dari makanan manis dan berlemak. Sehingga obesitas dapat mendorong untuk makan kue lebih banyak. Efek yang sama terlihat pada pengguna narkoba, yang akhirnya membutuhkan lebih banyak kokain atau heroin dalam penggunaan jangka panjang.

 

 

Sumber :

Journal of the American Geriatric Society

Journal of Neuroscience

Annals of Neurology.

Journal of Neuroscience

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1861810/ini-alasan-kenapa-kegemukan-bisa-merusak-otak

https://www.kompasiana.com/atep_afia/5509c531a33311484b2e3a58/waspada-obesitas-bisa-mengganggu-fungsi-otak

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0