Detail

Blog Image

OMAH DIFABEL: OMAH KEBAIKAN & HARAPAN DI TENGAH PANDEMI

Masa pandemi COVID-19 merupakan masa sulit yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan bangsa. Ruparupa bentuk kecemasan, ketakutan bahkan putus asa sering muncul di media masa, media elektronik dan media sosial kita. Namun ada secercah cahaya kebaikan yang ditunjukkan Tuhan pada Omah Difabel yang terletak di Jl Yos Sudarso RT 4 RW 7 Dusun Setran, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Omah difabel merupakan salah satu program Desa Inklusi. Termasuk pula adanya Posyandu Disabilitas yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas yang diresmikan pada November 2019 yang lalu. Posyandu Disabilitas memiliki jadwal rutin yang bekerjasama dengan RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat dan stakeholder lain untuk menyediakan terapis dan tenaga kesehatan lain secara gratis pada penyandang disabilitas.

Hal ini meningkatkan pula akses pelayanan kesehatan pada penyandang disabilitas. Omah Difabel Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) yang bekerja sama dengan RSJRW melalui PKRS dan beberapa instansi terkait, bertujuan untuk menciptakan sebuah program yang berkelanjutan untuk perawatan dan membangun kepercayaan diri, meningkatkan produktivitas dan daya saing saudara kita penyandang disabilitas. Secara tidak langsung program ini mampu membangun kesadaran masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama besarnya dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Program berkelanjutan berbasis masyarakat seperti halnya Omah Difabel merupakan salah satu program yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Tertuang dalam perundang-undangan bahwa yang disebut sebagai penyandang disabilitas adalah penyandang disabilitas fisik, intelektual, sensorik dan disabilitas mental termasuk ODGJ.

Selain itu Kerjasama lintas sektor ini juga merupakan salah satu wujud nyata Langkah RSJRW dalam memberikan continuum of care pada penyandang disabilitas mental seperti prinsip Quality Rights yang digagas oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

Peran serta Omah Difabel di Tengah Pandemi COVID-19

Mengutip manager Omah Difabel, Widi Sugiarti, “Omah Difabel turut serta berdonasi dan berbisnis di tengah pandemi COVID-19, dengan melibatkan kerjasama warga sekitar baik difabel maupun non difabel dengan membuat Hazmat atau gaun pelindung dan masker kain yang memiliki filter”. Widi menambahkan bahwa produk Hazmat dan masker kain berfilter produksi Omah Difabel memakai standar spesifikasi bio security sebagai upaya memutus rantai penularan COVID_19.

Standar tersebut berlaku mulai saat proses produksi yang meliputi kebersihan pekerja, penggunaan APD dan kebersihan tangan. Meski Hazmat dan masker kain berfilter produk Omah Difabel berharga terjangkau, namun bukan berarti memiliki kualitas yang sekedarnya. Kualitas Hazmat yang tidak tembus air dan menggunakan bahan ringan, diklaimnya dapat digunakan 3 hingga 4 kali pakai ulang dengan melalui proses penyucian. Sedangkan kualitas masker kain berfilter memiliki 3 lapis yang terdiri dari dua kain katun pelindung dan satu filter dari bahan nonwoven. Sehingga terjamin kenyamanan dan keamanan pemakainya.

Dampak Sosial yang Berkelanjutan

Menjalankan entrepreneurship di tengah pandemi tanpa mengabaikan kesejahteraan dan stabilitas ekonomi anggotanya, merupakan strategi bertahan Omah Difabel. Sasaran pemasaran masker dan produk Hazmatnya adalah komunitas, instansi pemerintah dan perusahaan. Mereka membeli masker berfilter untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat secara gratis dan sebagai bentuk corporate social responsibity (CSR) perusahaan. Perusahaan besar, instansi pemerintah bahkan masyarakat pun menjadi pelanggan produk Omah Difabel. Ribuan lembar masker dan Hazmat tidak hanya merambah wilayah disekitar Malang saja namun hingga Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Pontianak, Lampung, Tarakan dan daerah lain di Indonesia. Diharapkan program seperti ini mampu menggugah jiwa-jiwa entrepreneur masyarakat untuk juga mengembangkan program serupa di wilayah lain di Indonesia. Guna menghargai hak-hak penyandang disabilitas, meningkatkan kesadaran masyarakat dan membangun daya saing dalam berwirausaha. Sehingga prinsip continuum of care tidak hanya dijalankan oleh penyedia layanan kesehatan namun juga oleh masyarakat itu sendiri (Rendi Yoga S).

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0