Detail

Blog Image

RSJRW LAKUKAN ADAPTASI PELAYANAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

“COVID-19 will reshape our world. We don’t yet know when the crisis will end. But we can be sure that by the time it does, our world will look very different” -Josep B

COVID-19 sebagai pandemi global perlu direspon dengan adanya penyesuaian aspek-aspeK kehidupan untuk mencegah penyebarannya. World Health Organization (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020. Penetapan itu didasarkan pada persebaran virus yang telah mencapai 114 negara. Sebelumnya, COVID-19 menjangkiti penduduk kota Wuhan, Cina pada Januari 2020. Di Indonesia sendiri penemuan kasus COVID-19 pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020 sebanyak 2 kasus. Indonesia kemudian menetapkan COVID-19 sebagai bencana nasional pada tanggal 13 April 2020. Tercatat sebanyak lebih dari 35.000 kasus terjadi di Indonesia sejak Maret hingga awal Juni 2020. Angka ini masih dapat terus berekskalasi jika rantai penyebarannya tidak dihentikan.

Penyesuaian atau adaptasi terhadap penyebaran COVID-19 sangat perlu dilakukan pada berbagai sektor dan aspek kehidupan. RSJRW sebagai fasilitas layanan kesehatan tingkat lanjut menya dari pentingnya hal tersebut dan telah melakukan langkah-langkah adaptasi baik secara umum maupun dalam layanan yang diberikan. Langkah penyesuaian ini semata-mata dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19, melindungi pelanggan setia serta seluruh pegawai RSJRW dengan tetap melaksanakan layanan prima kepada masyarakat. Langkah tersebut diambil dalam manajemen rumah sakit dengan tujuan mengedapankan kesehatan, keamanan, serta kenyamanan pegawai rumah sakit jiwa tanpa mengurangi produktivitas maupun kinerja pegawai.

COVID-19 ditularkan oleh virus nCov-2019 melalui droplet saluran napas (WHO, Maret 2020). Penularan melalui droplet terjadi ketika seseorang berada dalam jarak 1 meter dengan penderita yang memiliki gejala klinis seperti batuk atau bersin. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui lingkungan atau barang-barang yang terkontaminasi virus. Penularan dapat masuk melalui organ pernapasan (hidung dan mulut) juga melalui konjungtiva mata.

Upaya pencegahan secara umum yang dilakukan di lingkungan RSJRW dilakukan sejak awal masuk lingkungan rumah sakit. Semua pegawai dan pengunjung diukur suhu badannya. Suhu tubuh 37.3?C adalah cut-off atau batas atas suhu tubuh normal sehingga pegawai atau pengunjung dengan suhu tubuh >37.3?C akan dilakukan screening lanjutan di tenda tak jauh dari gerbang.

Upaya pencegahan berikutnya adalah kewajiban menggunakan masker di lingkungan rumah sakit. Instalasi rehabilitasi mental melakukan produksi masker kain secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan masker pasien rawat inap. Pembuatan masker kain untuk dipakai pasien di ruangan rawat inap jiwa ini sebagai bukti nyata bahwa RSJRW melindungi dan mengayomi serta menggunakan sumberdaya yang dimiliki untuk menjawab tantangan wabah COVID-19 ini. Dengan demikian pasien dapat memiliki dan menggunakan masker untuk pencegahan penularan COVID-19.

Upaya selanjutnya adalah peningkatan sosialisasi protokol kesehatan seperti cuci tangan pakai sabun. Hal ini ditunjukkan dengan penyediaan kran air dan tersedianya sabun cuci tangan di luar Gedung A (Klinik Jiwa) dan Gedung B (Poliklinik Umum) sehingga setiap pengunjung dapat mencuci tangan sesering mungkin.

Protokol Physical Distancing juga diterapkan pada kursi Ruang tunggu klinik yang telah diberi tanda dan diberi jarak sehingga pengunjung dapat menjaga jarak minimal 1 meter dengan pengunjung lain. Pelayanan klinik dan UGD juga telah dilengkapi dengan alat pelindung berupa kaca pembatas antara petugas dan pasien. Hal ini semata-mata digunakan agar mengurangi pajanan percikan ludah atau cairan tubuh tidak langsung mengenai petugas ataupun sebaliknya. Seluruh petugas kesehatan telah dibekali dengan APD sesuai level masing-masing untuk mencegah tertularnya penyakit kepada petugas kesehatan.  

Wabah COVID-19 dan masa inkubasinya juga membuat alur pelayanan pasien rawat inap jiwa juga berubah. Seluruh pasien yang akan dirawat inap diadmisikan ke ruang Intensif atau IPCU untuk mendapatkan perawatan intensif psikiatrinya. Setelah dinyatakan melewati masa krisinya, pasien tidak langsung dialihrawat menuju ruang intermediate, namun akan masuk  ke ruang ‘transit’ selama 14 hari untuk diobservasi lebih lanjut tentang gejala COVID-19 yang mungkin muncul, baru kemudian dapat dipindahkan ke ruang perawatan intermediate.

Jam besuk pasien selama pandemi juga telah ditiadakan untuk memininalisir kontak dengan lingkungan luar. Selain itu juga dilakukan peniadaan kegiatan yang dapat mengumpulkan banyak pasien dalam satu tempat seperti kegiatan di ruang rehabilitasi mental. Pada kondisi normal, pasien akan berkumpul di balai latihan untuk melakukan terapi rehabilitasi mentaldi unit rehabilitasi. Namun selama pandemi pasien tetap di ruang rawat sedangkan terapis yang akan datang ke ruang rawat untuk memberikan terapi.

Upaya-upaya tersebut akan dilakukan selama pandemi dan tidak menutup kemungkinan akan tetap diberlakukan sebagai safety way against COVID-19. RSJRW akan terus mengupayakan adaptasi seiring perkembangan pandemi COVID-19 untuk mencegah penyebarannya dan agar tetap dapat melakukan pelayanan kesehatan secara prima (Hardini Rahma).

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0