Detail

Blog Image

KISAH INSPIRATIF - PEKERJAAN MULIA

Tidak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi seorang perawat. Cita-citaku sendiri di masa kecil adalah astronot, sederhana saja alasannya, karena aku ingin pergi ke luar angkasa dan melakukan hal hebat yang diingat oleh orang banyak. Jenis pekerjaan yang bergengsi. Menurut pandanganku kala itu, perawat adalah pekerjaan dengan beban tinggi dan minim penghargaan. Sering dianggap second class profession di bawah dokter. Semua berubah setelah kakekku menceritakan sebuah kisah.

Mendiang kakekku adalah seorang perawat. Beliau bekerja di sebuah rumah sakit umum daerah di kota kelahiranku. Suatu saat di salah satu dinas malamnya, beliau berangkat seperti biasa. Ditemani sepeda onthel tua yang dikayuh dengan santai sambil sesekali bersenandung. Perjalanannya terhenti oleh kerumunan orang yang berteriak marah pada seorang pria gelandangan renta dengan luka robek menganga di dahi. Rupanya pria tersebut telah mencuri makanan di warung dan sedang dihakimi. Kakekku segera turun dari sepeda, mencoba menenangkan dan menghentikan tindak kekerasan warga. Gelandangan itu nampak bingung terdiam, tak bisa diajak bicara, tak mengenali namanya siapa. Kakek berkata kepada mereka “Maklumi saja, mungkin dia pikun atau gangguan jiwa, biar saya yang bayar apa yang dia curi.” Setelah memberikan sejumlah uang pada pemilik warung, kakek membonceng pria tersebut, membawanya ke rumah sakit tempat beliau bekerja. Setelah sampai, segera ia mendaftarkan pria tua itu untuk mendapat pemeriksaan. “Siapa nanti yang jadi penanggung jawab, sampean itu kok suka cari repot,” kata seorang temannya. Kakekku hanya tersenyum, sambil menandatangani berkas sebagai penanggung jawab serta membayar uang biaya pemeriksaan. Kakek melapor ke unit gawat darurat tempat ia bertugas, bahwa ia membawa seorang pria dengan luka kepala, serta menceritakan kejadian yang dialami pria tersebut. “Oalah pak, wong edan iki pak, walaupun ditolong dia tidak akan bisa berterimakasih. Bapak itu cuma perawat, bukan dokter yang uangnya banyak. Pakai saja untuk keperluan sendiri. Toh juga bapak lagi butuh buat bayar sekolah.” Kata temannya yang lain. Sekali lagi kakekku hanya menjawab dengan senyuman. Malam itu kakek merawat luka di kepala pria itu, lalu memandikannya hingga bersih, memakaikan baju, serta memberinya makan dan mengistirahatkan pria itu di salah satu tempat tidur di IGD. Esok paginya kakek pula yang mengantarnya ke kantor polisi untuk dicari asalnya dari mana dan siapa keluarganya.

Bulan berlalu sejak kejadian itu. Kakek juga sudah tidak memikirkannya lagi, maklum putra kakek banyak dan semuanya sekolah, sehingga pikiran kakek tersita untuk memikirkan biaya sekolah putra putrinya. Suatu hari seorang pemuda datang ke rumah, mencari kakek. Ia mengatakan mendapat informasi dari polisi, bahwa kakek telah menyelamatkan dan merawat ayahnya yang pikun dan pergi dari rumah. Menurut pemuda tersebut, ayahnya menderita sakit pikun, sering keluar rumah namun lupa jalan pulang. Setelah beberapa minggu perawatan barulah ayahnya bisa bercerita siapa yang menolongnya dan di rumah sakit mana ia dibawa. “Saya tidak bisa bayangkan kalau bapak tidak menolong ayah saya. Beliau bilang, beliau lupa nama bapak, namun tidak bisa lupa wajah bapak yang sedang tersenyum saat merawat ayah,” ujar pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. Berkali-kali ia berterima kasih seraya memaksa kakekku menerima sejumlah uang dalam amplop yang ditolak kakekku dengan halus. “Jangan begitu nak, sudah tugas saya sebagai manusia untuk menolong mereka yang membutuhkan.” Pemuda itu tetap memaksa dan memberikan amplop berisi uang itu pada salah satu putra kakek dan bergegas pamit, sehingga kakek tidak bisa menolaknya.

Aku bertanya pada kakekku, kenapa kakek menolongnya, tidak ada jaminan bahwa orang itu akan mengingat kakek, dan uang yang dikeluarkan kakek untuk biaya berobat belum tentu juga diganti. “Kakek adalah seorang perawat, sejak kakek mengucap janji bakti, kakek sudah bersiap untuk mengedepankan rasa kemanusiaan di atas ego dan untung rugi.” Aku bertanya lagi, untuk apa mengambil risiko sedang yang lain mencemooh kakek, merendahkan kakek karena kakek seorang perawat. Pelan beliau menjawab “Nduk, mulia atau hinanya seseorang bukan karena profesinya, tapi tergantung dari sikap, attitude seseorang saat menyandang sebuah profesi. Apakah dia bersikap semulia profesinya atau tidak. Sejatinya semua profesi yang memberikan manfaat bagi orang lain adalah mulia. Kakek tidak pernah malu atau merasa rendah karena perkataan teman kakek. Kakek justru akan malu jika kakek hanya diam saat orang lain membutuhkan, padahal kakek bisa saja melakukan sesuatu. Bekerjalah dalam senyap, biar dunia gempar dengan karyamu, bukan celotehmu.”  

Aku terdiam dan terpana. Usiaku masih 8 tahun saat itu, berusaha mengolah pernyataan yang masih berat untuk otakku. Namun seiring dewasa aku sadar penuh dan mengerti, serta selalu mengingat moral dari kisah kakek. First, there is no second class professionals or workers. It would be in a place, only if they who own a profession are not as competent and noble as they should. Tidak ada pekerjaan kelas rendah, yang rendah adalah sikap seseorang yang tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, tidak kompeten, berhenti belajar, tidak jujur dan tidak amanah. Misalnya sebagai perawat, seseorang tidak lagi mulia saat kehilangan rasa empatinya, welas asihnya pada sesama. Tindakannya semata berdasar untung rugi dan apakah akan bermanfaat bagi karirnya atau tidak. Second, what goes around comes around. Berbuat kebaikan atau keburukan sekecil apapun, akan selalu kembali pada kita. Seringnya dengan cara yang tidak kita duga. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk membuat keadaan kita dan sekitar lebih baik. Sisanya serahkan pada Yang Maha Kuasa. (Arini Eka Fitria)

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0