Detail

Blog Image

Apa itu Halu, Parno, Waham dan Delusi ?

(dr. Eko Djunaedi, SpKJ)

            Minggu-minggu belakangan ini sering kita dengar istilah “halu” yang dikaitkan dengan beberapa kejadian menghebohkan di dunia MedSos (Media Sosial, Internet). Ada orang mengaku dirinya seorang “Raja” dan tiba-tiba ‘ujug-ujug’ punya kerajaan ataupun kekaisaran. Ada yang mengaku kaya raya dan mempunyai kemampuan dan kekuasaan lebih diatas gubernur atau presiden, padahal sebelum ini tidak ada orang yang mengenalnya sebagai orang berdarah biru. Tahun lalu orang-orang lebih mengenalnya sebagai pedagang bakso, dan rumahnya –sampai saat ini – diketahui hanya rumah kontrakan.

            Apabila ‘halu” ini dimaksudkan sebagai kependekan istilah HALUSINASI, maka kata ini tidak tepat untuk menggambarkan situasi di atas. Halusinasi dalam dunia psikiatri dikenal sebagai gangguan persepsi (pengindraan) tanpa adanya rangsang nyata terhadap indra, dialami dalam keadaan sadar (tidak sedang bermimpi, berfantasi atau ilusi). Misalnya ada seseorang mendengar suara (dapat berupa bisikan, suara yang nyata, atau suara-suara tidak jelas seperti ada yang bergunjing, atau sekedar suara) yang pada kenyataannya tidak ada sumber bunyinya tapi dapat didengar oleh orang yang berhalusinasi tersebut.

            Selain suara, seseorang dapat merasakan seperti ada semut merambat di tangannya (tidak ada semut yang merambati tangannya), merasakan bau wangi sedangkan orang disekitarnya tak satupun merasakan bau tersebut, melihat ular di depannya padahal kenyataannya di depannya tidak ada apa-apa, hanya ada tembok putih.

            Ilusi dibedakan dengan halusinasi karena ilusi adalah kesalahan mempersepsi (distorsi indra) yaitu ada rangsang yang dipersepsi keliru ( misalnya daun pisang yang bergerak kena angin di lihat sebagai hantu pocong). Bahasa gampangnya halusinasi itu “ tidak ada apa-apa tapi merasa”, dan ilusi itu “ salah merasa,  salah mengindra”.

Penderita gangguan halusinasi seringkali memiliki keyakinan kuat bahwa apa yang mereka alami adalah persepsi yang nyata dan akan menunjukkan perubahan emosi atau perilaku sesuai dengan sensasi yang ia rasakan, sehingga tak jarang menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pemikiran berlebihan seperti yang di atas, lebih tepat dikatakan sebagai WAHAM atau DELUSI, yaitu suatu keyakinan yang dipertahankan (secara kuat) walaupun tidak akurat (dan terbukti salah !). Apabila wahamnya kuat, maka pendapat  itu akan (“ngeyel”) dipertahankan terus, walaupun bukti-bukti menunjukkan dengan jelas pendapatnya itu tidak memiliki dasar yang realistis. (Misalnya mengatakan dirinya “Ironman” yang bisa terbang karena ada “super komputer besi” di kepalanya. Mengatakan biasa menerbangkan pesawat F-16, padahal tubuhnya renta dan sakit-sakitan.)

Istilah waham diambil dari bahasa Arab WAHAM ???dan delusi dari kata bahasa Inggris DELUSION. Waham di atas adalah waham kebesaran atau delusi kebesaran yang umumnya biasa ditemukan pada penderita skizofrenia dan dapat juga dijumpai pada penderita gangguan bipolar episode manik yang berat.

Parno” adalah istilah untuk waham PARANOID, yaitu seseorang yang mempunyai waham curiga berlebihan. Istilah “parno” biasa kita temukan pada para pengguna narkoba (junkies) yang menderita gangguan ini akibat penyalah gunaan zat.

Gangguan halusinasi dapat dipicu oleh beberapa hal seperti Gangguan Mental Skizofrenia, Gangguan Mental Organik (misalnya kerusakan otak), penyalah guna Zat/Narkoba (ganja, morfin, LSD, Kokain), keracunan (jamur, alkohol), tumor, trauma kepala dan penyakit fisik yang serius.

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials


Deprecated: Directive 'track_errors' is deprecated in Unknown on line 0