Detail

Blog Image

Adiksi Gawai Berakibat Klinis

Dr. Tiwik Koesdiningsih SpKJ (K)

(Psikiater Anak dan Remaja RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang )

 

Adiksi gawai adalah pemakaian gadget yang secara terus-menerus sampai berakibat secara klinis, misalnya gangguan emosional, sosial, perilaku, wicara dan motorik hingga memengaruhi kehidupannya sehari-hari.

Perlu diketahui, penggunaan gawai itu bisa berdampak positif dan negatif, tergantung bagaimana kita memanfaatkan teknologi gawai sesuai kebutuhan.

Terkadang orang tua saking sayangnya sama anaknya atau memang tidak ingin diganggu, lalu mereka memberikan gawai secara sukarela. Jika anak menguasai gawai tanpa pengawasan, maka akan memicu dampak yang tidak baik.

Dampaknya bisa memengaruhi perubahan fisik, emosional secara kognitif, memori dan komunikasi seperti anak susah atau tidak bisa bicara dibandingkan anak seusianya. Sebenarnya fenomena adiksi gawai ini sudah lama ada, sejak empat tahun yang lalu.

Sekarang smartphone juga banyak, sehingga fenomena anak-anak kecanduan gawai menjadi meningkat oleh adanya teknologi yang lebih canggih. Antisipasinya bisa dilakukan diet gadget terhadap anak-anak,  yang artinya memberikan sesuai kebutuhannya.

Harus ada kontrak waktu, misalnya anak menggunakan gawai asalkan didampingi orang tuanya, bisa ibu ataupun ayahnya.

Terpenting, ibu yang membawa gadget sedangkan anaknya tidak boleh pegang hanya melihat saja. Misalnya mau buka video kartun dari kanal YouTube, ya boleh asalkan hanya lima menit. Atau saat wekeend liburan sekolah, tidak lebih dari 30 menit.

Kalau sudah waktunya tidur juga harus stop. Orang tua juga tidak boleh pegang ponsel saat ada anaknya yang terindikasi adiksi gawai.

Adiksi gawai juga bisa memengaruhi deformitas tangan, bahkan bisa membuat tremor tangan. Selain itu, bisa mengarah ke obesitas, karena kebanyakan mereka duduk sambil melihat handphone.

Kemudian, adiksi gawai juga bisa memengaruhi emosional, mudah tersinggung atau mudah baper.  Perilaku menjadi agresif, apa-apa tidak suka, bicara tidak bisa pelan atau selalu teriak.

Secara sosial, mereka yang terpapar adiksi gawai tidak ada rasa simpati dan empati. Cenderung merasa dirinya diasingkan dari lingkungannya dan kognitif kurang berkembang.

Kriteria kecanduan atau adiksi gawai untuk anak-anak dalam durasi dan frekuensi kalau taraf masih rendah, penggunaan gadget sekitar 5 atau 20 menit setiap hari, taraf sedang 60 menit, dan taraf berat yaitu lebih dari 60 menit.

Jika kondisi anak sudah melampui hingga ketergantungan saat penggunaan gadget,  maka segera konsultasi pada ahlinya. Orang tua jangan melarang penggunaan gadget saja tetapi juga harus mencari solusinya.

Berikut pedoman memperkenalkan gadget pada anak anak

( American Academy of Pediatrics )

  1. Sebaiknya tidak mengenalkan gadget pada usia kurang dari 18 bulan, kecuali sedang video call dengan ayah/ibu/keluarga lainnya.
  2. Usia 18 bulan – 2 tahun, batasi penggunaan gadget. Pilih program yang mendidik dan berkualitas. Dampingi anak – anak dengan tujuan membuat anak – anak paham apa yang mereka lihat.
  3. Usia 2-5 tahun, batasi penggunaan gadget 1 jam sehari. Orang tua harus memeperhatikan sebaik mungkin untuk memastikan pemahaman dan pengaplikasian terhadap dunia mereka.
  4. Anak berusia lebih dari 6 tahun, orang tua sebaiknya menempatkan batasan apa yang konsisten pada waktu penggunaan gadget dan jenis media yang dikonsumsi. Jangan sampai gadget mengganggu jam tidur, dan kegiatan lain.
  5. Orang tua harus mendampingi anak saat bermain gadget, karena mereka menirukan hal buruk dari apa yang dilihat di gadget, seperti games yang menayangkan kekerasan.
  6. Kecanduan gadget termasuk dalam kategori Orang dengan Gangguan Jiwa ( ODGJ ), bukan Orang dengan Masalah Kejiwaan ( ODMK ).

 

 

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul NEWS ANALISIS - Adiksi Gawai Berakibat Klinis, https://surabaya.tribunnews.com/2019/10/25/news-analisis-adiksi-gawai-berakibat-klinis.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials