Detail

Blog Image

KESEHATAN JIWA DI TEMPAT KERJA PENGARUHI PRODUKTIVITAS KINERJA

Dr. Nur Aida, Sp.KJ

Sumber daya manusia menjadi salah satu faktor  penting atau  bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. Pada hakikat-nya, sumber daya manusia di sebuah organisasi sebagai penggerak, pemikir dan perencana untuk mencapai tujuan organisasi, oleh karena itu sumber daya manusia (SDM) merupakan aset atau modal paling penting bagi sebuah organisasi atau perusahaan.

Sebagai motor kesuksesan, idealnya karyawan dan perusahaan memiliki ikatan kuat untuk bersama mencapai tujuan perusahaan.  Bagaimana membuat hubungan yang ideal antara tujuan tenaga kerja dengan tujuan perusahaan (organisasi) yang secara bersamaan menjadi tugas pokok di dalam suatu perusahaan. Dalam hal ini adalah bagaimana agar produktivitas tenaga kerja di dalam perusahaan dapat memberikan dampak langsung bagi peningkatan profit perusahaan dan peningkatan income bagi tenaga kerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja adalah kondisi kesehatan jiwanya.

Sebelumnya, kenali diri sendiri secara lebih baik.

Ciri Orang yang Sehat Jiwa :

  1. Merasa Nyaman terhadap diri sendiri.
  2. Merasa Nyaman berhubungan dengan orang lain.
  3. Mampu memenuhi kebutuhan hidupnya serta keluarga/orang yang menjadi tanggung jawabnya.

 

Sehat Jiwa adalah Perilaku, Pikiran dan Perasaan sehat & Bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup

Kesehatan Jiwa Meliputi

  1. Bagaimana perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri.
  2. Bagaimana perasaan seseorang terhadap orang lain.
  3. Bagaimana cara mengelola STRES yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Perasaan

  1. Kesehatan Jiwa seseorang sangat dipengaruhi oleh Perasaan.
  2. Perasaan dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku.
  3. Cara mengelola perasaan mempengaruhi derajat kesehatan jiwa seseorang.

Cara Mengelola Perasaan

  1. Kenali perasaan anda, seperti marah, takut, sedih, iri, cemas, senang dll pada setiap situasi.
  2. Coba untuk mengerti apa yang menyebabkan perasaan tersebut.
  3. Perhatikan apa yang anda lakukan terhadap diri sendiri maupun orang lain ketika timbul perasaan tidak enak tersebut.
  4. Ketahuilah kemampuan anda & keterbatasan anda dalam menghadapi situasi tersebut.
  5. Kenalilah cara anda dalam mengatasi perasaan & masalah tersebut; apakah berhasil atau tidak.
  6. Tanyakan pada diri sendiri : Mengapa saya marah? Kepada siapa saya marah? Apa yang biasa saya lakukan ketika marah? Apa saja yang dapat saya lakukan untuk mengatasi rasa marah?
  7. Pelajari cara baru yang dapat memuaskan & memenuhi kebutuhan, dalam mengatasi perasaan tak enak tersebut, tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
  8. Rencanakan cara yang positif untuk mengatasi perasaan ini, selangkah demi selangkah.
  9. Lakukan rencana tersebut.
  10. Bila hasilnya tidak memuaskan, cari cara lain.

Setelah mengenali diri sendiri, bagaimana cara meningkatkan produktivitas?. Dewasa ini, umumnya perusahaan terbentur pada banyak kendala dalam upaya peningkatan produktivitas kerja sehingga memerlukan suatu pendekatan khusus yang dapat meningkatkan produktivitas kerja, terutama dari karyawan perusahaan itu sendiri. Meningkatkan produktivitas berarti bekerja lebih giat dan cepat, meningkatkan mutu barang, kerja dan kehidupan.

Tingkat produktivitas yang dicapai merupakan suatu indikator terhadap efisiensi dan kemajuan ekonomi untuk ukuran suatu bangsa maupun suatu industri. Dalam hal ini fungsi pemimpin sangat diperlukan, karena merekalah yang memiliki daya kemampuan mempengaruhi dan menggerakan manusia lainnya untuk bekerja mencapai tujuan. Peranan pimpinan dalam setiap organisasi atau perusahaan sekecil apapun tingkat kepemimpinannya, sangatlah dominan dalam mengembangkan dan meningkatkan produktivitas organisasi atau perusahaan tersebut.

 

Unjuk kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi. Kecakapan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan, keduanya tidak dapat menghasilkan keluaran yang tinggi. Perilaku seorang tenaga kerja dapat berubah karena perubahan yang dialaminya secara pribadi. Jalannya perubahan tersebut dapat cepat atau lambat, tergantung kepada sifat individu yang bersangkutan. Jadi kaitan motivasi dengan produktivitas kerja tidak selalu tetap, tetapi akan mengalami perubahan sesuai dengan situasi atau kondisi setempat.

 

Dimensi dan indikator motivasi kerja dapat dikelompokan sebagai berikut:

  • Motivasi internal, diantaranya : tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, melaksanakan tugas dengan target yang jelas, memiliki tujuan yang jelas dan menantang, ada umpan balik atas hasil pekerjaannya, memiliki rasa senang dalam bekerja, selalu berusaha mengungguli orang lain, diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya.
  • Motivasi eksternal, diantaranya: selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhaan kerjanya, senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya, bekerja dengan ingin memperoleh insentif, bekerja dengan harapan ingin memperoleh perhatian dari teman dan atasan.

Produktivitas kerja dapat diartikan sebagai usaha atau upaya yang dilakukan individu dalam kerjanya untuk menghasilkan barang dan jasa secara efektif dan efisien namun berkualitas sehingga dapat memaksimalkan keuntungan bagi perusahaan.

Faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum yakni: motivasi, kedisiplinan, etos kerja, keterampilan dan pendidikan.

Lima hambatan utama bagi produktivitas kerja, yaitu:

  • Seleksi awal yang kurang baik
  • Training yang kurang memadai
  • Beban kerja yang berlebihan
  • Ketidaksesuaian antara tujuan Perusahaan dan tujuan pribadi
  • Kelelahan mental.

Faktor-faktor yang digunakan dalam pengukuran produktivitas kerja meliputi :

  1. Kuantitas kerja, yaitu merupakan suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam jumlah tertentu dengan perbandingan standar yang ada atau ditetapkan oleh perusahan.
  2. Kualitas kerja, merupakan suatu standar hasil yang berkaitan dengan mutu dari suatu produk yang dihasilkan oleh karyawan dalam hal ini merupakan suatu kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan secara teknis dengan perbandingan standar yang ditetapkan oleh perusahaan.
  3. Ketepatan waktu merupakan tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang ditentukan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. Ketepatan waktu diukur dari persepsi karyawan terhadap suatu aktivitas yang disediakan diawal waktu sampai menjadi output.

Kami dari RS Jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang memiliki Tim Psikiatri Industri, dimana kami berkomitmen dalam kelola kesehatan mental karyawan secara menyeluruh dari awal bergabung dengan instansi/perusahaan sampai akhir menjelang pensiun melalui program-program yang telah kami sediakan:

  • Psikotes: Seleksi, Rekrutmen dan Replacement
  • Capacity Building: Team buiding, leadership, motivational training, managemen stres
  • Psychological support melalu pre retirement training

Sebagai penutup di dalam jiwa yanag sehat terjadi sinergi antara pekerjaan dan produktifitas

Dengan hasil akhir keuntungan pada kedua belah pihak yaitu karyawan dan perusahaan/intansi yang bersangkutan

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials