Detail

Blog Image

Body Images - Body Shaming – Bullying Peran faktor sosio kultural terhadap perkembangan kesehatan mental seseorang

Daisy Prawitasari Poegoeh, M.Si

 

Body image sebagai salah satu dari konsep diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya sendiri secara sadar dan tidak sadar Body image  adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu(Honigman&Castle, 2006)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan body image adalah jenis kelamin, usia, media massa, keluarga, dan interpersonal. Pada dasarnya jenis kelamin adalah faktor paling penting dalam perkembangan body image seseorang (Classer, 2000; Deacey&Kenny, 2001) dimana diketahui bahwa wanita lebih negatif memandang body image dibandingan pria (Davidson & McCabe, 2005) Body image yang diproyeksikan tidak selalu positif karena apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang tentang bentuk dan ukuran tubuhnya belum tentu benar-benar mempresentasikan keadaan yang sebenarnya. Body image lebih kepada hasil penilaian dan evaluasi diri yang subjektif. (Rozin & Fallon, 1988 dalam Hubley & Quinlan, 2005) Misalkan ada orang yang bentuk tubuhnya sudah ideal, tetapi ia selalu merasa dirinya gemuk,  karena orang-orang di sekelilingnya sering menyebutnya gemuk, meskipun semasa kanak-kanak.

Menurut statistik yang dilakukan oleh Walker&Company New York (2012), di Amerika Serikat 80% perempuan tidak puas dengan penampilannya dan 34% laki-laki tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Lebih dari 50% orang tidak bahagia dengan  berat badannya saat ini 70% perempuan dengan berat badan normal ingin menjadi lebih kurus. (Bulik, 2012. )Dari sini dapat dilihat bahwa body image bisa menjadi suatu permasalahan besar pada masyarakat kita, dan dapat mengarah pada gangguan-gangguan mental antara lain depresi, kecemasan sosial maupun gangguan makan.

Tahapan perkembangan Body Image

Menurut perkembangannya, Usia 6 tahun adalah saat pertama kali faktor sosio-kultural mulai mempengaruhi ketidak puasan terhadap tubuh. Pada saat sekolah dasar, 40% anak perempuan dan 25% anak laki-laki, sudah ingin menjadi lebih  kurus. Hal itu menunjukkan adanya perhatian terhadap bentuk tubuhnya dan perbandingan diri diri dengan orang lain. Hal tersebut karena pada masa sekolah dasar adalah masa terjadinya perubahan pada bentuk tubuh laki-laki dan perempuan. Pada akhir masa sekolah dasar, 50% anak perempuan tidak puas dengan berat badan atau bentuk tubuhnya, dan mulai mengembangkan pervasive negative body esteem, yaitu ungkapan negatif terhadap bentuk tubuhnya sendiri (Bulkin, 2012). Tahapan berikutnya adalah pada masa remaja awal. Pada masa ini sebagian anak perempuan mulai menarik diri dari beberapa aktivitas yang biasa dia lakukan, misalnya olah raga atau pertemuan di sekolah, karena mereka merasa malu dengan penampilan mereka. Namun kemudian ia mulai secara aktif mengelola penampilan mereka agar dapat tampil dalam kehidupan sosial dengan baik. Disini, resiko mengalami, depresi, kecemasan, menyakiti diri sendiri, gangguan makan, mulai muncul (Gullivan, 2018).  Faktor resiko Ketidak puasan terhadap bentuk tubuh adalah Body Mass Index, dan diperkuat dengan adanya faktor-faktor sosio-kultural yaitu komentar-komentar yang ada di media (medsos, film, acara televisi), atau oleh teman-teman, dan orang tua.

Fenomena Body Shaming dalam Kehidupan

Adapun tindakan-tindakan orang di sekitar kita yang seringkali mengomentari penampilan fisik dan bentuk tubuh kita, biasa disebut dengan body shaming. Body shaming adalah bentuk menyakiti seseorang dengan mengkritik atau memberikan komentar buruk mengenai bentuk tubuhnya (Binar, 2018). Body shaming dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengkritik bentuk fisik seseorang (wajah, tubuh, kulit, dan sebagainya), membandingkan fisik antara satu orang dengan orang lain, menjelek-jelekkan penampilan orang lain dengan atau tanpa sepengetahuan dirinya. Menariknya, komunikasi dan interaksi sehari-hari sangat kental dengan body shaming secara tidak disadari. Misalnya :

  • Mengungkapkan keprihatinan terhadap bentuk tubuh seseorang.

Seseorang yang mengungkapkan perkataan kepada orang lain seperti “Aduh, kamu kok kurus sekali...seperti orang kurang gizi. Makan dong...” atau “Wah, kok gemuk banget, coba deh diet biar lebih langsing”. Ungkapan ini seperti  sekilas seperti suatu ungkapan bentuk perhatian namun sesungguhnya ini menunjukkan prasangka dan ketidak pekaan terhadap orang lain.

  • Ekspresi kaget pada saat ada orang yang gemuk berolah raga

Menunjukkan ekspresi terkejut atau lebih parah memberi ucapan selamat pada saat mengetahui orang yang kelebihan berat badan berolahraga, secara tidak sadar merupakan suatu perilaku body shaming atau lebih detailnya fat shaming.

Body Shaming dan Bullying

Para pelaku body shaming ini biasanya jarang menyadari bahwa tindakannya bisa menyakiti orang lain, karena menganggapnya hanya sebuah gurauan. Disini, pada dasarnya Body shaming termasuk bullying yang akan memberi dampak negatif pada korbannya dalam jangka waktu yang panjang. Body shaming bisa menyebabkan rasa malu terhadap bentuk tubuh begitu tinggi sehingga sampai pada keasaan depresi.  Walden Eating Disorders Treatment menyebutkan body shaming seakan menjadi bukti, keberadaan seseorang semata-mata hanya dinilai secara fisik dan tidak dilihat kualitas lainnya.

Body shaming bisa memunculkan perilaku tidak sehat bagi korbannya, karena seseorang yang terlalu sering dicela cenderung memiliki keinginan untuk mengubah bentuk tubuhnya dengan segala cara, misalkan dengan diet mati-matian, minum obat pelangsing, dan hal-hal lain yang malah menjadi kebiasaan buruk bagi dirinya. Body shaming juga bisa membuat korbannya mengalami gangguan makan (eating disorder) seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Selain itu, body shaming bisa membuat seseorang tidak percaya diri dengan tubuhnya sendiri dan membuat ia tidak mau bergaul dengan orang lain. Dampaknya, ia akan menjadi orang yang menutup diri dan menghindari  bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Salah satu contoh konkret korban body shaming adalah seorang perempuan berusia 17 tahun yang berasal dari Inggris bernama Harriet Walsh, ia tewas gantung diri setelah tidak sanggup menerima ejekan teman sekolahnya (Glitz Journal, 2017). Sepanjang hidupnya ia selalu mendapatkan komentar negatif akan paras wajah dan bentuk tubuhnya yang gemuk, ia mengalami depresi kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Body shaming selain memiliki dampak kepada korbannya, ternyata juga memiliki dampak negatif pada pelakunya. Hal ini bisa kita lihat dari hasil riset unik yang dilakukan oleh Florida State University, yang menyimpulkan bahwa orang yang sering mengomentari orang lain gemuk, pada umumnya cenderung akan mengalami kenaikan berat badan sebanyak 2,5 kali lipat (Lifestyle, 2018). Penyebabnya adalah  semakin sering mengomentari orang lain gendut, maka akan semakin membuat dirinya merasa langsing, aman, dan baik-baik saja. Akibatnya, ia merasa tidak perlu menjaga pola makan dan jadi lebih banyak makan. Sikap lupa diri inilah yang pada akhirnya membuat tubuhnya menjadi gemuk.

                Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa body shaming merupakan tindakan yang memiliki banyak dampak negatif, baik bagi korban maupun pelakunya Saat ini  perilaku body shaming bahkan dapat dilaporkan kepada pihak kepolisian. Layaknya laporan dugaan pencemaran nama baik, yang melakukannya terancam jeratan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) maupun delik pidana umum. Laporan itu dapat diterima apabila bentuk dari perilaku body shaming itu mengandung unsur penghinaan, menjatuhkan harkat dan martabat, serta diketahui oleh orang banyak. Jadi stop body shaming, sekarang juga!

Referensi

Binar, R. (2018, Agustus). Body shaming dan mengapa harus dihilangkan. Psikologi. Diunduh  dari http://binakarir.com.

Glitz Journal. (2017, Agustus). Body shaming tindakan bullying verbal yang mengganggu psikologis anda. Glitzmedia. Diunduh dari http://glitzmedia.com.

Honigman, R. & Castle D.J. (2007). Living with your looks. Perth: University of Western Australia Press.

Jessi Julianti (2015) Hubungan Antara Body Image dengan Self Esteem Remaja Putri yang Aktif dalam Peilaku Gimnastik. Universitas Bina Nusantara

Gullivan, H. (2018) Teens, Social Media and Body Image. Park Nicholeet Melrose Center, diunduh dari http://www.slideshare.net

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials