Detail

Blog Image

Penyakit Jantung Koroner

dr. Hanif Muchdy Hendarto,Sp.PD

Definisi dan epidemiologi di Indonesia

Penyakit jantung koroner (PJK) juga disebut penyakit arteri koroner. Penyakit arteri koroner berarti penyempitan arteri koroner, penyempitan ini disebabkan plak (penumpukan material lemak) merusak arteri koroner-suatu proses yang disebut aterosklerosis (pengerasan otot arteri), jika plak menjadi halus dan pecah maka trombosit (sel pembekuan darah) dapat menempel pada area yang rusak tersebut, menyebabkan penyumbatan aliran darah. Hal ini dapat menyebabkan iskemia(kekurangan oksigen pada sel-sel otot jantung) atau infark miokard (kematian area otot jantung yang dipasok oleh arteri yang tersumbat), sering disebut sebagai serangan jantung.

Penyakit jantung koroner (PJK) yang juga disebut penyakit arteri koroner adalah salah satu penyakit penyebab kematian terbanyak di dunia, bukan hanya di negara-negara maju, tetapi juga di negara-negara berkembang. Survei Sample Registration System (SRS) pada 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit antung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9%.  Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan, prevalensi tertinggi untuk penyakit Kardiovaskuler di Indonesia adalah PJK, yakni sebesar 1,5%. Dari prevalensi tersebut, angka tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (4,4%) dan terendah di Provinsi Riau (0,3%). Menurut kelompok umur, PJK paling banyak terjadi pada kelompok umur 65-74 tahun (3,6%) diikuti kelompok umur 75 tahun ke atas (3,2%), kelompok umur 55- 64 tahun (2,1%) dan kelompok umur 35-44 tahun (1,3%).  Sedangkan menurut status ekonomi, terbanyak pada tingkat ekonomi bawah (2,1%) dan menengah bawah (1,6%). Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskuler 7,4 juta (42,3%) di antaranya disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3%) disebabkan oleh stroke. Pembiayaan penyakit katastropik (penyakit-penyakit yang membutuhkan biaya tinggi dalam pengobatannya serta memiliki komplikasi yang dapat mengancam nyawa) menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan tahun 2016, menghabiskan biaya hampir 14,6 Triliun Rupiah. Sedangkan tahun 2015, menghabiskan biaya hampir 14,3 Triliun Rupiah. Paling besar biaya adalah untuk penyakit jantung, dimana terjadi peningkatan pembiayaan dibanding tahun 2015, yakni sebesar 6,9 Triliun Rupiah (48,25%) menjadi 7,4 Triliun Rupiah (50,7%) pada 2016.

Faktor risiko

  • Usia (Laki-laki > 40 tahun, wanita >45 tahun).
  • Jenis kelamin laki-laki.
  • Riwayat keluarga menderita penyakit jantung koroner.
  • Diabetes
  • Dislipidemia (Kolesterol total tinggi, kolesterol high density lipoprotein (HDL) rendah, kolesterol low density lipoprotein (LDL) tinggi, trigliserida tinggi.
  • Aktifitas fisik kurang.

Gejala

  • Dapat terjadi perlahan tanpa gejala.
  • Angina : nyeri dada yang bisa menjalar ke bahu, lengan, atau Angina bisanya berlangsung beberapa menit dan mungkin terkait dengan aktifitas, olahraga, dingin, atau stres. Bila angina berlangsung >15 menit maka kemungkinan terjadi serangan jantung.
  • Gejala serangan jantung meliputi nyeri dada hebat, sesak napas, berkeringat, dan mual. Gejala dapat berbeda pada laki-laki dan perempuan, perempuan lebih mungkin mengalami kelelahan yang tidak biasa setelah aktifitas dibandingkan nyeri dada.

Diagnosis

          Beberapa tes dapat dilakukan di instalasi gawat darurat untuk menentukan diagnosis infark miokard. Tes darah dapat mendeteksi zat-zat tertentu dalam darah yang dilepaskan saat terjadi infark miokard. Elektrokardiografi (EKG) dapat mendiagnosis infark miokard dan masalah irama jantung.

Terapi

  • Obat nitrat (seperti nirogliserin) dapat digunakan untuk membantu menghentikan serangan angina.
  • Obat pengencer darah, seperti aspirin, dapat membantu mengurangi risiko pembekuan darah.
  • Statin (obat penurun kolesterol) dan beta bloker (sejenis obat penurun tekanan darah) dapat mencegah serangan jantung dan kematian dini.
  • Percutaneous coronary intervention (PCI) : balon tipis dimasukkan ke dalam arteri yang tersumbat , kemudian balon tersebut dikelembungkan, menekan plak dan memperluas arteri sehingga meningkatkan aliran darah ; stent (tabung fleksibel kecil) kemudian ditempatkan di arteri untuk membuatnya tetap terbuka.
  • Coronary artery bypass graft (CABG) – menggunakan vena dari bagian lain tubuh untuk melewati arteri koroner yang mengalami sumbatan parah.

Komplikasi

  • Gagal jantung

Gagal jantung dapat menyebabkan masalah yang berbeda : jika mengenai jantung bagian kanan, maka darah menumpuk di pembuluh darah yang biasanya mengangkut darah dari organ dan jaringan kembali ke jantung. Peningkatan tekanan di dalam vena dapat mendorong cairan keluar dari vena ke jaringan di sekitarnya, hal ini dapat menyebabkan edema (pembengkakan) di kaki, dan jika semakin memberat maka terjadi abdomen di perut atau hati.

Jika terjadi gagal jantung bagian kiri maka darah akan menumpuk di pembuluh darah, sehingga menyebabkan sesak napas , terutama pada saat beraktifitas.

  • Detak jantung tidak teratur (aritmia)

Bila jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup, bagian dari jantung yang mengatur denyut jantung akan rusak, hal ini dapat menyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur, atau jantung berdetak lebih cepat maupun lebih lambat. Masalah-masalah irama jantung semacam ini dapat menyebabkan jantung berdebar atau berdetak kencang, kelelahan, atau pusing. Elektrokardiografi (EKG) digunakan untuk mendignosis aritmia.

  • Serangan jantung (infark miokard akut)

Serangan jantung terjadi jika arteri koroner tersumbat total. Penyumbatan mengakibatkan sebagian otot jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup, jika situasi ini berlangsung terlalu lama, bagian dari otot jantung itu bisa mati sehingga mengancam nyawa.

Pencegahan

  • Berhenti merokok.
  • Berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari dalam seminggu.
  • Obati hipertensi.
  • Kontrol gula darah jika menderita diabetes melitus.
  • Menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan yang sehat melalui diet dan olahraga.
  • Makan banyak buah berserat tinggi, sayuran, dan biji-bijian.
  • Batasi asupan lemak hewani, lemak jenuh, gula, dan pati.
  • Penurunan kolesterol melalui diet, olahraga, dan obat-obatan.

 

Solusi CERDIK

Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang bisa dicegah, upaya yang telah dilakukan kementerian kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah diantaranya dengan mesosialisasikan perilaku CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet yang sehat dan seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola stres). Masyarakat juga diimbau melakukan pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan kolesterol rutin atau minimal sekali dalam setahun di pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular / fasilitas pelayanan kesehatan. Sesuai dengan Instruksi Presiden nomor 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), diharapkan seluruh komponen bangsa berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Diharapkan, dapat meningkatkan produktifitas sehingga dapat menurunkan biaya pelayanan kesehatan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Quertermous T, Ingelsson E.2016. Coronary Artery Disease and its Risk Factors Leveraging Shared Genetics to Discover Novel Biology, Circulation Research ; 118 : 14-16.

Parmet S, Glass TJ, Glass RM.2004. Coronary Artery Disease, Journal of the American Medical Association ; 292 : 20.

Torpy JM, Burke AE, Glass RM.2009. Coronary Heart Disease Risk Factors, Journal of the American Medical Association ; 302 : 21.

Kementerian Kesehatan. 2017. Penyakit Jantung Penyebab Kematian Tertinggi, Kemenkes Ingatkan CERDIK. Available : http://www.depkes.go.id/article/view/17073100005/penyakit-jantung-penyebab-kematian-tertinggi-kemenkes-ingatkan-cerdik-.html. Last accessed 24th September 2019.

Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG). 2013. Complications of Coronary Artery Disease. Available : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK355309/. Last accessed 24th September 2019.

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials