Detail

Blog Image

Benarkah Merokok Tidak Buruk Untuk Kesehatan ?

Dr. Eko Djunaedi, Sp.KJ

 

Banyak kita dengar para perokok dan sebagian orang mengatakan bila masih ada unsur manfaat dari merokok. (Setidaknya menambah keuangan negara dari cukai rokok.....)

Pernyataan yang sering disebutkan – dan katanya dari kalangan kesehatan sendiri -  antara lain menambah konsentrasi, melindungi orang dari penyakit parkinson dan menghilangkan stres.

Beberapa pendapat dan fakta-fakta di bawah ini mungkin dapat kiat jadikan bahasan, benarkah ada unsur manfaat yang jelas dari perbuatan merokok :

 

  1. Merokok meringankan Kolitis Ulcerativa. (tapi memperburuk Penyakit Crohn)

Bagi sebagian orang yang menderita penyakit radang usus (inflammatory bowel disease IBD), merokok tampaknya mengurangi gejala terburuk mereka. IBD mengacu pada beberapa penyakit usus kronis. Penyakit Crohn dan kolitis ulserativa, dua bentuk IBD yang paling umum, keduanya terjadi ketika sistem kekebalan seseorang secara keliru menyerang usus orang itu sendiri.

Pakar IBD Dokter Stephen Hanauer telah memperhatikan selama bertahun-tahun bahwa pasien Crohn-nya sering perokok, sedangkan pasien kolitis ulserativa sering mantan perokok. Perokok menderita serangan yang lebih buruk, atau "kambuh", penyakit Crohn dibandingkan non-perokok, jadi dokter dengan senang hati mendorong pasien penyakit Crohn untuk berhenti merokok.

 

  1. Merokok melindungi Penderita Penyakit Parkinson. (namun meningkatkan risiko demensia/pikun).

Pada tahun 1960-an, ahli epidemiologi Harold Kahn menganalisis catatan asuransi kesehatan sekitar 300.000 veteran, Kahn memperhatikan bahwa perokok yang pernah bertugas di militer AS antara tahun 1917 dan 1940, tiga kali lebih kecil kemungkinannya daripada yang bukan perokok untuk kemudian meninggal karena penyakit Parkinson, meskipun sepuluh kali lipat lebih mungkin meninggal karena kanker paru-paru atau emfisema daripada non-perokok.

Dalam kasus penyakit Parkinson, neuron penghasil dopamin di otak tengah merosot dan mati.

Seperti diketahui nikotin menyebabkan meningkatnya jumlah dopamin yang rendah pada Penyakit Parkinson, sehingga terasa meringankan gejala Parkinson. Tetapi dokter masih tidak merekomendasikan penggunaan nikotin (termasuk penggunaan nikotin patch). Nikotin memang meningkatkan aspek-aspek tertentu dari kognisi manusia, dan sedang dieksplorasi tidak hanya untuk mengobati Parkinson, tetapi juga demensia lainnya, dan bahkan kurangnya perhatian sehari-hari. Tetapi hubungan antara Parkinson dan merokok mungkin melibatkan lebih dari sekadar nikotin, yang, sekali lagi, merupakan salah satu komponen dari asap rokok. Sementara yang terakhir diyakini meningkatkan risiko seseorang terkena demensia. Merokok adalah faktor risiko demensia, dan berhenti merokok dapat mengurangi beban demensia. Paparan perokok pasif juga dapat meningkatkan risiko demensia.

Jika Anda merokok, kemungkinan besar Anda terserang stroke daripada seseorang yang tidak merokok. Faktanya, merokok meningkatkan risiko terkena stroke setidaknya 50%, yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan kematian. Dan, dengan merokok, Anda menggandakan risiko meninggal akibat stroke.

Kabar baiknya adalah bahwa dalam dua tahun berhenti merokok, risiko stroke berkurang menjadi setengah dari perokok dan dalam lima tahun akan sama dengan yang non-perokok.

 

  1. Merokok menurunkan risiko kegemukan/obesitas.

Merokok - dan, khususnya, nikotin dalam asap tembakau - adalah penekan nafsu makan. Ini telah dikenal selama berabad-abad, berasal dari budaya asli di Amerika di era pra-Columbus. Perusahaan tembakau diketahui pada tahun 1920-an dan mulai menargetkan wanita dengan godaan bahwa merokok akan membuat mereka lebih kurus.

Seorang pecandu yang memutuskan berhenti merokok secara spontan, umumnya langsung merasakan efek depresi lemah kemauan dan kegalauan pada dirinya.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Physiology & Behavior edisi Juli 2011, menyatakan bahwa kenaikan berat badan yang tak terhindarkan setelah berhenti merokok adalah penghalang utama dalam membuat orang berhenti merokok.

Hubungan antara merokok dan kontrol berat badan sangat kompleks: Nikotin sendiri bertindak sebagai stimulan dan penekan nafsu makan; dan tindakan merokok memicu modifikasi perilaku yang mendorong perokok untuk mengurangi camilan. Merokok juga bisa membuat makanan menjadi kurang enak bagi sebagian perokok, sehingga mengurangi nafsu makan. Walaupun demikian, tidak ada dokter terhormat yang akan merekomendasikan merokok untuk pengendalian berat badan, mengingat gerbong kandungan beracun yang menyertai rokok.

Studi terbaru yang meneliti catatan medis dari ratusan ribu orang telah menemukan bahwa perokok berat (40 batang rokok, atau lebih per hari) sangat terkait dengan peningkatan risiko obesitas, sementara perokok ringan (dengan urutan selusin rokok per hari) memiliki efek sebaliknya.

 

  1. Merokok menurunkan risiko kematian setelah beberapa serangan jantung

Dibandingkan dengan bukan perokok, perokok yang mengalami serangan jantung tampaknya memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dan respons yang lebih baik terhadap dua jenis terapi untuk menghilangkan plak dari arteri mereka: terapi fibrinolitik, yang pada dasarnya adalah obat; dan angioplasti, yang menghilangkan plak dengan memasukkan balon atau stent ke dalam arteri.

Tetapi berdasarkan fakta, alasan mengapa perokok mengalami serangan jantung adalah karena asap rokok merusak arteri, selanjutnya lemak dan plak menumpuk di arteri sejak awal, sehingga mudah terjadi serangan jantung. Para perokok terkenal dalam hal mengalami serangan jantung sebelas tahun lebih awal dalam kehidupannya daripada non-perokok, ketika mereka masih umur muda dan tubuhnya lebih kuat/ulet untuk bertahan hidup.

Sebuah meta-analisis 26 studi baru-baru ini, yang mencakup catatan medis lebih dari 700.000 pasien, menyimpulkan bahwa perokok memperoleh manfaat dari penurunan angka kematian setelah serangan jantung, tetapi hanya selama satu bulan setelah dirawat di rumah sakit. ”Dibandingkan dengan non-perokok, perokok jauh lebih mungkin meninggal segera setelah serangan jantung; kecil kemungkinannya untuk meninggal dalam waktu 30 hari jika mereka dirawat di rumah sakit; dan sama mungkin untuk mati lebih lanjut di masa depan setelah serangan jantung.

 

  1. Merokok mencegah penyakit Alzheimer.

Ini adal;ah Paradoks merokok yang menyesatkan, karena ternyata sebagian besar studi yang mendasari untuk sampai pada kesimpulan ini didanai oleh industri tembakau. Pada tahun 2010, sebuah kelompok dari UCSF membandingkan 43 studi tentang merokok dan Penyakit Alzheimer dan menemukan seperempatnya didanai oleh kelompok tembakau. Studi-studi yang didanai industri tersebut menunjukkan efek perlindungan dari merokok terhadap Alzheimer; studi yang didanai secara independen, di sisi lain, jelas menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

Asap-rokok/merokok dikaitkan dengan neuropatologi Penyakit Alzheimer pada model praklinis dan manusia. Stress oksidatif serebral yang berhubungan dengan merokok adalah mekanisme potensial yang mempromosikan patologi Penyakit Alzheimer dan peningkatan risiko Penyakit Alzheimer.

Empat-belas prosen (14%) kasus penyakit Alzheimer di seluruh dunia berpotensi dikaitkan dengan merokok.

 

Kepustakaan:

Fratiglioni, Laura; Wang, Hui-Xin : Smoking and Parkinson’s and Alzheimer’s disease: review of the epidemiological studies , Behavioural Brain Research 113 (2000) 117–120

https://io9.gizmodo.com/here-are-the-ways-smoking-may-actually-be-good-for-yo-1721438933

https://www.webmd.com/smoking-cessation/features/10-persistent-myths-about-smoking#1

https://www.healthcare-administration-degree.net/10-evil-vintage-cigarette-ads-promising-better-health/

https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/tobacco-and-cancer/is-any-type-of-smoking-safe.html

https://www.lung.org/our-initiatives/tobacco/reports-resources/sotc/by-the-numbers/10-health-effects-caused-by-smoking.html

https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/128041/WHO_NMH_PND_CIC_TKS_14.1_eng.pdf

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials