Detail

Blog Image

Makanan Sehat Bergizi Seimbang, Cegah Obesitas dan Stunting Pada Anak

Ayu Bulan Febry KD, SKM, MM

Setiap fase pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan momen yang luar biasa dan menjadi kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Peran orang tua lah untuk memberikan asupan gizi yang terbaik dan mendampingi anak dalam setiap fase kehidupannya. Fase kehidupan anak menurut usia yaitu 1-3 tahun (todler), 4-6 tahun (pra sekolah), 6-12 tahun (sekolah), dan 13-16 tahun (remaja).

Ibarat sebuah bangunan, diantara fase-fase tersebut, 1000 hari kehidupan anak merupakan pondasi bangunan tersebut . Bangunan akan berdiri kokoh apabila pondasinya kuat. Begitu pula dengan anak-anak kita. Pemenuhan asupan gizi di 1000 hari kehidupan mereka, menjadi pondasi yang menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan anak di fase-fase kehidupan selanjutnya. Mereka akan menjadi generasi yang kuat dan berkualitas bila memiliki fisik yang sehat dan cerdas. Semua itu bisa diwujudkan dengan asupan gizi yang sehat dan seimbang. Makanan sehat bergizi seimbang memiliki makna bahwa susunan hidangan yang dikonsumsi anak sehari-hari hendaknya mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktifitas fisik, perilaku hidup bersih, dan mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah - masalah gizi pada anak seperti berat badan lebih/ obesitas, gizi kurang/ kurang energi protein, tubuh pendek/ stunting, kekurangan vitamin A, anemia, gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY).

Seperti apa sih gambaran pola makanan sehat bergizi seimbang itu? Pola makanan  sehat bergizi seimbang terdiri dari :

  1. Sumber zat tenaga (karbohidrat dan lemak), misalnya nasi, roti putih, roti gandum, suun, bihun, jagung, ubi, singkong, tepung-tepungan, gula, dan minyak.
  2. Sumber zat pembangun (protein), misalnya daging ayam, daging sapi, ikan, susu, telur, kacangan-kacangan, tahu, dan
  3. Sumber zat pengatur (vitamin dan mineral), misalnya sayur dan buah terutama yang berwarna hijau dan
  4. Air, mempunyai fungsi penting dalam tubuh, antara lain sebagai pelarut, katalisator berbagai reaksi tubuh dan lain-lain.

Perlu diketahui bahwa pertumbuhan fisik seorang anak dimulai sejak usia konsepsi di dalam kandungan. Pertumbuhan fisik anak akan menghasilkan perkembangan kemampuan yang optimal bila pertumbuhan berlangsung secara normal dan proporsi. Proporsionalitas pertumbuhan anak dapat dinilai dari beberapa parameter yaitu berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala. Nilai normal pertumbuhan fisik anak tergantung dari usia dan  jenis kelamin. Berat badan bayi akan mengalami penurunan sekitar 5-10% dari berat badan lahir selama1-2 minggu setelah kelahirannya, tetapi akan mulai bertambah konsisten setelah usia 2 minggu. Pada usia 4-6 bulan, berat badan bayi diharapkan telah mencapai 2 kali berat badan lahir. Setelah itu secara berturutan akan mencapai 3 kali pada usia 1 tahun, 4 kali pada usia 2 tahun, 5 kali pada usia 3 tahun.

Sedangkan untuk penambahan tinggi badan, akan berlangsung cepat sejak dalam kandungan hingga 2 tahun pertama, kemudian melandai pada usia 2-6 tahun, relatif stabil pada usia 4-6 tahun, mengalami percepatan kembali pada masa pubertas atau remaja dan stabil pada usia 18 tahun ke atas.

Kondisi Indonesia saat ini menunjukkan fakta yang unik, dimana Indonesia disaat bersamaan mengalami masalah gizi ganda pada anak yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Seperti yang dilansir dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 :

  • Sekitar 10,2% anak di Indonesia tergolong gemuk/obesitas.
  • Proporsi balita yang tergolong gizi kurang dan buruk sekitar 9,6%.
  • Terdapat 10,2 % bayi di Indonesia dilahirkan dengan berat badan
  • Angka nasional bayi lahir pendek kurang dari 48 cm sekitar 20,2%.
  • Masalah stunting/pendek pada balita 37,2%.

Dengan kondisi pertumbuhan fisik pada usia awal diatas, maka tidak mengherankan apabila masalah gizi lebih /obesitas dan pendek / stunting pada balita menjadi masalah yang serius untuk ditangani bersama termasuk di wilayah Jawa Timur.

Pemenuhan gizi di awal kehidupan anak tidak hanya diperlukan untuk tumbuh kembang optimal semata, namun juga akan mempengaruhi insiden berbagai penyakit dimasa dewasa nanti. Bisa dikatakan, bahwa penyakit masa dewasa, sejatinya telah diprogram sejak awal kehidupan. Anak yang cenderung gizi lebih (obesitas), dewasanya kelak akan cenderung obesitas juga, lebih berisiko untuk menderita penyakit jantung koroner, tinggi kolesterol dan lain-lain. Jika sejak balita mengalami stunting atau pendek , maka dewasanya  juga  cenderung pendek. Oleh sebab itu, pemberian asupan gizi yang sehat dan seimbang bagi anak-anak kita hendaklah diperhatikan. Tentunya ini membutuhkan peranan kita sebagai “Orang tua yang cinta sehat” supaya anak-anak Indonesia lebih baik kedepannya.

Nah upaya apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah masalah gizi lebih/ obesitas dan stunting/ pendek pada anak ? Sebaiknya dipahami dulu berapa angka kecukupan gizi (khususnya energi dan protein) untuk bayi dan anak (per orang per hari) untuk mendukung pertumbuhan fisik anak.

Angka Kecukupan Energi dan Protein yang Dianjurkan untuk Bayi dan Anak

(per orang per hari)

 

Umur

BB (kg)

TB (cm)

Energi

(kkal/ kg BB)

Protein

(g/ kg BB)

0 - 6 bulan

6

61

91

2

7 - 11 bulan

9

71

80,5

2

1 - 3 tahun

13

91

86,5

2

4 - 6 tahun

19

112

84,2

1,8

7 - 9 tahun

27

130

68,5

1,8

Laki - laki

 

 

 

 

10 - 12 tahun

34

142

61,8

1,7

1]3 - 15 tahun

46

158

53,8

1,6

16 - 18 tahun

56

166

47,8

1,2

Perempuan

 

 

 

 

10 - 12 tahun

36

145

55,6

1,7

13 - 15 tahun

46

155

46,2

1,5

16 - 18 tahun

50

158

42,5

1,2

Sumber : Permenkes RI, 2013

Untuk pengaturan makanan sehat 1000 hari kehidupan anak, tentunya dimulai sejak janin dalam kandungan. Asupan gizi pada 280 hari pertama di dalam kandungan, sepenuhnya tergantung dari suplai makanan dari ibu melalui plasenta. Sepanjang kehamilan kebutuhan zat-zat gizi mengalami peningkatan terutama pada trimester pertama saat terjadi pembentukan organ-organ vital, kemudian trimester kedua sewaktu janin mengalami pertumbuhan, dan trimester ketiga di kala semua fungsi tubuhnya mengalami pematangan dan pertumbuhan sangat pesat. Ibu harus selalu berada pada status gizi yang baik pada saat sebelum dan selama hamil supaya dapat menjamin pemenuhan gizi untuk janinnya. Makanan yang dikonsumsi ibu tidak harus mahal, tetapi hendaknya cukup kuantitasnya dan berkualitas.

Dengan asupan gizi yang sehat dan bergizi seimbang dapat menyokong bagi pertumbuhan dan perkembangan janin.

Hati-hati, bagi ibu hamil sebaiknya juga mengontrol asupan gula dan makanan berlemak seperti gorengan, makanan bersantan, Ini akan berdampak pada penambahan berat badan ibu hamil, yang tentunya akan berdampak pula pada berat badan bayi lahir yang cenderung besar yaitu 4 kg lebih. Bayi yang memiliki berat badan lahir 4 kg berisiko kelak mengalami obesitas dan diabetes melitus/ kencing manis.

Berikut ini zat-zat gizi yang dibutuhkan pada masa kehamilan untuk tumbuh kembang janin optimal sehingga lahir dengan sehat, berat badan lahir normal, dan tidak lahir dengan panjang lahir kurang dari 48 cm :

  1. Energi

Energi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, plasenta, jaringan payudara, cadangan lemak serta untuk metabolisme. Pada 3 bulan pertama kehamilan, ibu hamil membutuhkan tambahan energi 180 kkal. Di trimester ini, pada umumnya ibu mengalami gejala Morning Sick yaitu mual dan muntah di pagi hari. Akibatnya asupan gizinya kurang karena nafsu makan ibu turun, lelah sering karena mual dan muntah. Yang diperlukan oleh ibu dengan gejala seperti ini adalah makanan yang padat gizi dengan porsi kecil tetapi sering. Sedangkan pada trimester kedua dan ketiga, tubuh anda membutuhkan tambahan energi 300 kkal per hari dibanding sebelum hamil. Pertambahan energi ini disebabkan karena peningkatan laju metabolisme basal, pertambahan kebutuhan serta cadangan protein. Pertambahan energi ini terutama diperlukan pada 20 minggu terakhir dari masa kehamilan yaitu         ketika         pertumbuhan         janin         berlangsung                                    sangat pesat.

  1. Protein

Protein dibutuhkan selama kehamilan untuk membentuk jaringan tubuh, tulang, dan otot. Protein ini juga dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang janin agar dapat berlangsung optimal dan untuk pembentukan sel- sel darah merah baru di dalam tubuh janin. Wanita yang sedang hamil membutuhkan kurang lebih 17 gram protein lebih banyak dari wanita yang tidak hamil. 2/3 bahan makanan sumber protein yang dikonsumsi sebaiknya bahan makanan sumber protein yang bernilai biologi tinggi seperti daging tak berlemak, ayam, ikan segar, telur, susu dan hasil olahannya, ikan teri, udang, dan hati. Protein nabati yang berasal dari tumbuhan mempunyai nilai biologi lebih rendah dibanding protein hewani, oleh sebab itu konsumsinya cukup 1/3 bagian saja. Contohnya kacang ijo, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, tahu, tempe, dan susu kedelai.

  1. Lemak

Lemak merupakan sumber energi yang vital untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Cadangan lemak yang tersedia dalam tubuh ibu hamil bermanfaat untuk membantu proses pembentukan ASI. Lemak juga dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan. Pada kehamilan yang normal, kadar lemak dalam aliran darah akan meningkat pada trimester ketiga. Akan tetapi kebutuhannya tetap hanya 20-25 % dari total kebutuhan energi tubuh. Konsumsi lemak yang berlebihan bisa menyebabkan berat badan ibu hamil meningkat. Sumber lemak antara lain telur ayam, telur bebek, daging ayam, daging sapi, sosis, bebek, dan mentega.

  1. Karbohidrat

Tambahan energi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan berasal dari karbohidrat. Di masa kehamilan dianjurkan untuk mengkonsumsi karbohidrat kurang lebih 50-60% dari total kebutuhan energi tubuh. Karbohidrat yang dianjurkan untuk di konsumsi adalah karbohidrat kompleks seperti roti, serealia, nasi, kentang, singkong, jagung, dan pasta. Kandungan seratnya dapat mencegah sembelit (susah buang air besar) pada saat kehamilan.

  1. Vitamin

Semua vitamin yaitu vitamin A, B, C, D, E, dan K dibutuhkan ibu selama masa kehamilan, berfungsi sebagai zat pengatur dan menjaga kesehatan ibu. Buah dan sayur merupakan bahan makanan yang kaya berbagai macam vitamin dan serat yang dibutuhkan ibu hamil. Khusus vitamin A bermanfaat untuk pertumbuhan janin, pergantian sel baru pada semua jaringan tubuh dan sel saraf, pembentukan tulang dan gigi janin, mencegah terjadinya kelainan bawaan pada bayi, serta meningkatkan daya tahan tubuh ibu hamil. Di masa kehamilan, kebutuhan vitamin A meningkat kurang lebih 300 RE dari kebutuhan wanita tidak hamil. Contoh makanan sumber vitamin A yaitu hati sapi, daging sapi, daging ayam, telur ayam, jagung kuning, wortel, bayam, daun singkong, mangga, pepaya, semangka, dan tomat matang.

  1. Mineral

Mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin agar tidak panjang lahir kurang dari 48 cm, antara lain kalsium, zink, yodium, dan zat besi. Kalsium yang dikonsumsi ibu hamil, 99% akan digunakan untuk pembentukan tulang dan gigi janin. Contoh bahan makanan sumber kalsium adalah tempe, kacang merah segar, teri kering, teri segar, kerang, keju, yogurt. Kebutuhan zink meningkat 50% selama kehamilan terutama di trimester ketiga karena mineral ini dibutuhkan untuk mengembangkan jaringan tisu di otak agar perkembangan otak berjalan optimal. Adapun kekurangan zink di saat hamil dapat menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan terjadi kasus cebol (kretin) pada bayi yang dilahirkan. Contoh bahan makanan sumber zink yaitu tiram, daging sapi, gandum, wijen, kuning telur, keju, daging ayam, dan tepung terigu. Sedangkan kekurangan yodium pada janin merupakan dampak dari kekurangan yodium pada ibu. Yodium sangat dibutuhkan di masa hamil karena ini merupakan bahan dasar untuk hormon tiroksin yang berfungsi dalam pertumbuhan dan juga mendorong perkembangan otak bayi. Selama kehamilan, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi suplemen kapsul yodium agar janin yang dikandung pertumbuhan dan perkembangan otaknya normal. Bagi ibu hamil dianjurkan untuk menambah asupan yodiumnya sebesar 50 µg dari  kebutuhan sebelum hamil yaitu 150 µg. Contoh bahan makanan sumber yodium yaitu udang lobster, kerang, tiram, ikan sarden, susu, telur, minyak ikan cod, ganggang laut kering, dan garam beryodium. Adapun sumber zat besi bisa diperoleh dari hati sapi, daging, ayam, telur, sayuran hijau dan berwarna merah, tempe, dan wijen.

Selanjutnya pada 180 hari pertama setelah lahir yaitu usia 0-6 bulan, gizi terbaik dipenuhi melalui pemberian ASI eksklusif. Ibu dianjurkan mengkonsumsi makanan yang cukup kuantitasnya dan berkualitas, sarat dengan karbohidrat, protein, mineral, vitamin, lemak. Jangan lupa perbanyak juga asupan air minum, baik air putih, jus buah dan sayuran, susu. Dengan demikian volume ASI untuk bayi bisa selalu memenuhi kebutuhan bayi dan tentunya berkualitas karena sarat zat gizi yang berguna untuk tumbuh kembang bayi. Satu hal lagi yang jangan sampai terlewatkan, “Dukungan suami” berperan penting memberikan efek memenangkan dan memotivasi ibu di masa-masa menyusui.

Pada 180 hari kehidupan bayi berikutnya yaitu usia 6-12 bulan, selain dipenuhi dari ASI, juga didukung juga dengan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI), dengan beberapa waktu transisi (dari bentuk cair-lumat-lembek-semi padat-padat). Ini merupakan masa melatih bayi makan dan memperkenalkan makanan padat pada bayi. Jika fase ini terlewati dengan bayi, tidak hanya tumbuh kembang bayi optimal, tetapi juga tidak akan mengalami masalah sulit makan atau gerakan tutup mulut pada saat balita. Orang tua hendaknya selalu memberikan bahan makanan yang segar untuk si kecil. Selain lebih sehat, bayi juga kita perkenalkan dengan rasa asli makanan.

  1. Saat bayi berusia 6-7 bulan, bisa kita berikan makanan dalam bentuk cair-lumat. Dalam bentuk cair antara lain sari buah jeruk, sari brokoli, sari wortel. Sedangkan dalam bentuk lumat bisa diberikan dalam bentuk pure buah yang diblender contohnya pure apel, pure melon, pure pisang, pure pepaya, pure semangka, pure pir, pure labu kuning. Mengapa disini yang dianjurkan adalah buah dan sayur ? Karena ini merupakan bahan makanan yang mudah diserap oleh pencernaan usus bayi. Perlu diingat diawal pemberian MP-ASI, pencernaan bayi belum sempurna masih berdaptasi untuk mencerna makanan sehingga pemberian makanan mempertimbangkan sisi tidak terlalu memperberat pencernaan bayi. Pilihlah juga buah yang matang, tidak terlalu asam, dan tidak mengandung gas, karena bisa menyebabkan gangguan pencernaan pada bayi seperti diare atau
  2. Menginjak usia 7-8 bulan, MP-ASI teskturnya mulai diberikan lebih padat yaitu dalam bentuk lumat. Mulai diberikan tepung-tepungan dalam bentuk bubur susu. Adapun tepung- tepungan sumber karbohidrat dan protein yang bisa diberikan adalah, tepung beras putih, tepung beras merah, tepung kacang hijau, tepung jagung, tepung kacang merah, tepung kacang kedelai. Kita bisa membuatnya sendiri, atau bisa membeli dalam bentuk tepung organik. Variasi bubur susu yang bisa kita buat, misalnya bubur susu beras putih sari melon, bubur susu jagung, bubur susu beras merah pisang, dan masih banyak lagi variasinya lainnya. Untuk campuran susunya, alangkah lebih baik yang digunakan adalah ASI. ASI ditambahkan setelah bubur matang agar tidak merusak komposisi gizi yang terkandung dalam ASI. Frekuensi pemberian makan bayi usia 6-8 bulan yaitu 2-3 kali per hari, ASI tetap diberikan. Tergantung nafsu makannya, dapat diberikan 1-2 kali makanan selingan. Makanan selingan yang bisa diberikan pada bayi usia ini, seperti biskuit bayi, buah, bubur sum - sum. Adapun jumlah rata-rata per kali makan yaitu mulai 2-3 sdm per kali makan, ditingkatkan bertahap sampai ½ mangkok.
  3. Usia 8-9 bulan, bayi mulai diperkenalkan dengan bentuk makanan seperti bubur saring. Variasi bahan makanan mulai lebih banyak diperkenalkan, seperti tahu, tempe, berbagai macam sayuran, berbagai sumber protein seperti kuning telur, ikan, daging ayam, daging sapi. Hati-hati, untuk pemberian seafood (makanan laut) dan kacang-kacangan yang bisa menyebabkan alergi perlu dipantau terlebih dahulu. Jika bayi alergi, sebaiknya jangan diberikan pada usia ini. Baru bisa dicoba diberikan lagi setelah bayi berusia 1 tahun, menunggu daya tahan tubuh bayi lebih kuat terhadap bahan makanan sumber alergen atau bahan makanan yang memicu alergi. Untuk membuat bubur saring, semua bahan makanan seperti beras, sumber protein nabati dan hewani, sayuran, kaldu dimasak seperti membuat bubur, kemudian setelah itu disaring atau
  4. Pada usia 9-12, bayi mulai diperkenalkan makanan kasar (lembek) dalam bentuk makanan tim. Frekuensi pemberian makan bayi usia 9-12 bulan yaitu 3-4 kali per hari, ASI tetap diberikan.Tergantung nafsu makannya, dapat diberikan 1-2 kali makanan selingan. Makanan selingan yang bisa diberikan pada usia ini, seperti biskuit bayi, pudding buah/susu. Adapun jumlah rata-rata per kali makan yaitu ½ - ¾ mangkok per kali

Pembuatan MP-ASI untuk usia 6-12 tahun, dianjurkan tidak menggunakan gula, garam, apalagi penyedap rasa buatan seperti kaldu instan atau MSG (Monosodium Glutamat). Mengapa demikian? Pertama; karena kita ingin mengenalkan rasa asli berbagai variasi bahan makanan sehingga pada masa balita tidak ada masalah sulit makan misalnya anak tidak suka makan sayur atau makanan lainnya, Kedua; Gula bisa menyebabkan gigi gigis pada bayi dan penambahan gula yang berlebih bisa memicu peningkatan berat badan pada bayi, Ketiga; Konsumsi garam pada bayi bisa memperberat kerja organ ginjal, dimana organ bayi belum bekerja sempurna. Keempat; Penggunaan bahan – bahan penyedap rasa buatan sebaiknya dihindari karena bisa berdampak gangguan penyakit pada anak di masa yang akan datang.

Selanjutnya 360 hari terakhir yaitu usia 1-2 tahun, ASI diteruskan dan didukung oleh berbagai variasi makanan yang kaya zat gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pada usia ini bentuk makanan anak sudah makanan keluarga, nasi beserta lauk pauk, sayur dan buah. Semakin bervariasi bahan makanan yang dikonsumsi, maka anak makin mudah terpenuhi kebutuhan gizinya. Sebaliknya jika terbatas hanya jenis bahan makanan tertentu yang dikonsumsi anak, akan berisiko kekurangan zat gizi tertentu. Selain itu dapat menyebabkan anak hanya memilih dan menyukai makanan tertentu (picky eaters). Secara umum jadual pemberian makan anak adalah 3 kali makanan utama (pagi, siang, dan malam) dan 2 kali makanan selingan (diantara dua kali makan utama).

Bila dalam rentang total waktu 1000 hari pertama tersebut, anak mendapatkan asupan gizi yang optimal maka gangguan gizi bisa dicegah sejak awal. Karena, fakta menunjukkan bahwa justru pada periode tersebut mulai terjadi berbagai permasalahan pemenuhan gizi pada anak. Insiden gangguan gizi cenderung dimulai saat anak memasuki usia 1 tahun pertama, dan mulai melandai saat memasuki usia 18 bulan. Keadaan tersebut masih akan berlanjut hingga memasuki periode usia 5-6 tahun. Berdasarkan fakta tersebut, maka pemenuhan gizi pada periode 1000 hari pertama (sebelum usia 2 tahun) lebih efektif untuk mencegah gangguan gizi dibandingkan ketika anak telah mencapai usia di atas 2 tahun. Pemenuhan gizi yang optimal seimbang pada periode 1000 hari pertama kehidupan, tidak hanya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik anak baik berat badan maupun tinggi badan, kecerdasan seorang anak, tetapi juga berpengaruh terhadap pencegahan munculnya berbagai penyakit di usia dewasa nantinya yang dikenal dengan istilah Non Communicable Diseases (NCDs), yaitu sekelompok penyakit tidak menular yang didalamnya termasuk penyakit- penyakit metabolik seperti: penyakit jantung – pembuluh darah, diabetes melitus, obesitas, alergi, asma, dan kanker.

Saat usia 2 tahun, ASI biasanya di hentikan atau di sapih. Orang tua hendaknya bertindak bijak saat memilih cara untuk menyapih anak. Cara menyapih dengan menggunakan cara-cara ekstrim bisa meninggalkan trauma pada anak yang bisa menimbulkan masalah sulit makan. Di usia 2-5 tahun ini, kadang timbul masalah sulit makan pada balita. Anak cenderung semakin memilih - milih makanan, apa yang ia suka itu yang ia makan. Tak perlu khawatir, ada trik bagi orang tua untuk menyiasati masalah susah makan pada balita ini.

  1. Beri makanan dalam porsi kecil dan sering, terutama makanan yang baru dikenal/tidak disukai
  2. Jadual makan teratur yaitu 3 kali makan utama dan 2 kali makan
  3. Variasikan bahan makanan dan menu makanan agar anak tidak bosan.
  4. Penyajian makanan harus menarik, misalnya bentuk makanan dan alat makannya
  5. Ikut sertakan anak untuk menentukan menu makanan yang hendak dimakannya, agar anak tertarik untuk
  6. Sediakan makanan selingan/camilan sehat yang setara kandungan gizinya dengan makanan utamanya. Apabila anak menolak makan maka vamilan ini dapat diberikan pada anak sebagai solusi agar asupan gizi anak tetap terpenuhi.
  7. Jangan memberi cemilan pada saat mendekati waktu makan. Ini akan membuat anak kenyang.
  8. Buat suasana yang santai dan menyenangkan saat makan

Menginjak usia pra sekolah, sekolah hingga remaja, konsentrasi anak mulai cenderung ke arah aktifitas fisik seperti bermain dan sekolah, ditambah lagi anak mulai mempunyai kegemaran untuk ngemil atau jajan sehingga masalah makan apalagi makanan yang bergizi cenderung terabaikan oleh anak pada usia ini. Kondisi ini diperparah lagi dengan semakin banyaknya jajanan dalam bentuk makanan ringan dan minuman  kemasan  yang menggunakan bahan-bahan pengawet, pemanis, perasa buatan. Produk – produk makanan cepat saji baik di restoran cepat saji maupun dalam bentuk kemasan beku seperti nugget, sosis, ayam goreng tepung, dan kentang goreng, serta mi instan menjadi makanan favorit

 

anak. Makanan ringan kemasan, minuman kemasan, dan makanan cepat saji ini cenderung minim zat gizi tetapi menawarkan kalori yang tinggi. Padahal di usia sekolah dan remaja ini, zat gizi yang memerlukan perhatian khusus untuk pertumbuhan adalah zat besi, kalsium dan zink. Zat-zat  gizi ini bisa dipenuhi dari konsumsi tempe, kacang merah segar, teri kering,  teri segar, kerang, keju, yogurt, susu, daging sapi, gandum, wijen, kuning telur, daging ayam, sayuran hijau, dan berwarna kuning. Konsumsi makanan cepat saji, makanan ringan dan minuman kemasan inilah menjadi salah satu penyebab obesitas dan stunting/ pendek pada anak. Selain itu ada bahaya mengintai pada anak-anak kita akibat mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut. Kelak di kemudian hari bisa timbul penyakit kanker, penyakit tumor, gangguan ginjal, dan lain-lain akibat konsumsi makanan dan minuman tersebut.

Kita sebagai orang tua tidak hanya harus mengontrol kebiasaan jajan anak , selektif memilih jajanan buat anak, tetapi juga harus semakin kreatif membuat menu sehat untuk anak. Dengan demikian, pemenuhan gizi optimal dengan pemberian makanan sehat dengan gizi seimbang pada anak akan membentuk sebuah pondasi yang mempunyai dampak jangka panjang untuk terciptanya generasi kuat, sehat, dan produktif. Hari Anak Nasional 2019, Ayo bersama melangkah menuju generasi cinta sehat, yang siap membangun negeri !.

 

Referensi :

ASDI, IDAI, PERSAGI. 2015. Penuntun Diet Anak. Edisi ke 3. Jakarta: FKUI.

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Retrieved Nopember 2, 2015, from http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials