Detail

Blog Image

HIPERTENSI

Alek Gugi Gustaman, SKM

 

Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua pihak,baik dokter dari berbagai bidang peminatan hipertensi, pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan agar hipertensi dapat dikendalikan.

Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala-gejalanya itu adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet (vertigo), jantung berdebar debar, mudah Ieiah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan.

Faktor resiko Hipertensi adalah umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, genetik (faktor resiko yang tidak dapat diubah/dikontrol), kebiasaan merokok, konsumsi garam, konsumsi lemak jenuh, penggunaan jelantah, kebiasaan konsumsi minum-minuman beralkohol, obesitas, kurang aktifitas fisik, stres, penggunaan estrogen.

Ada pun klasifikasi hipertensi terbagi menjadi:

  1. Berdasarkan penyebab
  2. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial

Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan                 dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi.

  1. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial

        Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita

        hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,

        penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu

        (misalnya pil KB).

 

 

  1. Berdasarkan bentuk Hipertensi

    Hipertensi diastolik {diastolic hypertension}, Hipertensi campuran (sistol dan

    diastol yang meninggi), Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension).

 

Terdapat jenis hipertensi yang lain:

  1. Hipertensi Pulmonal

Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada

pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, pusing dan

pingsan pada saat melakukan aktivitas. Berdasar penyebabnya hipertensi

pulmonal dapat menjadi penyakit berat yang ditandai dengan penurunan

toleransi dalam melakukan aktivitas dan gagal jantung kanan. Hipertensi

pulmonal primer sering didapatkan pada usia muda dan usia pertengahan,

lebih sering didapatkan pada perempuan dengan perbandingan 2:1, angka

kejadian pertahun sekitar 2-3 kasus per 1 juta penduduk, dengan mean survival / sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 2-3 tahun.

Kriteria diagnosis untuk hipertensi pulmonal merujuk pada National Institute

of Health; bila tekanan sistolik arteri pulmonalis lebih dari 35 mmHg atau

"mean"tekanan arteri pulmonalis lebih dari 25 mmHg pada saat istirahat atau

lebih 30 mmHg pada aktifitas dan tidak didapatkan adanya kelainan katup pada jantung kiri, penyakit myokardium, penyakit jantung kongenital dan tidak adanya kelainan paru.

 

  1. Hipertensi Pada Kehamilan

    Pada dasarnya terdapat 4 jenis hipertensi yang umumnya terdapat pada saat

kehamilan, yaitu:

  1. Preeklampsia-eklampsia atau disebut juga sebagai hipertensi yang

    diakibatkan kehamilan/keracunan kehamilan ( selain tekanan darah yang

    meninggi, juga didapatkan kelainan pada air kencingnya ). Preeklamsi

    adalah penyakit yang timbul dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan

    proteinuria yang timbul karena kehamilan.

  1. Hipertensi kronik yaitu hipertensi yang sudah ada sejak sebelum ibu

    mengandung janin.

  1. Preeklampsia pada hipertensi kronik, yang merupakan gabungan

             preeklampsia dengan hipertensi kronik.

  1. Hipertensi gestasional atau hipertensi yang sesaat.

             Penyebab hipertensi dalam kehamilan sebenarnya belum jelas. Ada yang

            mengatakan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah,

            ada yang mengatakan karena faktor diet, tetapi ada juga yang mengatakan

            disebabkan faktor keturunan, dan lain sebagainya.

 

 

Penyebab Hipertensi

 

Penyebab dari tekanan darah tinggi atau hipertensi sangat beragam. Beberapa dari penyebab penyakit ini, bahkan sering terabaikan. Berikut ini, adalah kemungkinan penyebab yang bisa menjadikan seseorang menderita  penyakit yang muncul karena tekanan darah pada dinding arteri tak stabil ini.

 

  1. Kebiasaan Merokok sejak Usia Muda

    Untuk Anda yang punya kebiasan merokok, patut waspada bahwa hipertensi bisa jadi akan lebih mudah terjadi daripada yang bukan perokok. Asap rokok punya kemungkinan besar meracuni darah, yang seharusnya menjadi sarana pembawa oksigen ke seluruh tubuh. Nikotin pada rokok juga berperan besar untuk mempengaruhi pembuluh darah sehingga terjadi pengerasan. Darah yang mengandung nikotin dapat mengganggu kinerja jantung saat memompa darah, akibatnya jantung bekerja lebih keras.

 

  1. Genetika, faktor risiko yang tidak bisa dihindari namun bisa dikontrol

    Riwayat hipertensi pada keluarga juga adalah salah satu sebabnya, tak heran jika anak-anak dari keluarga dengan riwayat hipertensi punya potensi lebih besar untuk mengidap penyakit yang sama.

 

  1. Obesitas, Overweight atau Kegemukan

    Jagalah pola makan Anda, sebab ternyata kelebihan berat badan atau kegemukan adalah salah satu sebab penyakit hipertensi. Kondisi Overweight pada seseorang berpengaruh pada sistem renin-angiotensin-aldosteron, yang berfungsi mengontrol volume darah dalam tubuh. Sistem ini akan rusak, saat terjadi obesitas pada seseorang, sehingga darah yang keluar akan semakin tidak terkendali, dengan demikian maka hipertensi bisa terjadi.

 

  1. Konsumsi Garam Berlebihan

    Garam yang dikonsumsi dalam waktu konstan dan jumlah tak terkontrol akan menumpuk pada pembuluh darah. Akhirnya, dinding pembuluh darah mengalami penebalan, inilah yang menjadikan saluran darah semakin sempit dan menyebabkan tekanan darah kian tinggi.

 

  1. Kebiasan Konsumsi Alkohol Berlebihan

    Saat alkohol dikonsumsi, detak jantung seseorang bisa mengalami peningkatan. Selanjutnya, bila konsumsi tetap dilanjutkan hingga 2-3 gelas pada satu waktu tentunya ada hubungannya dengan detak jantung yang semakin tinggi. Obesitas juga mungkin muncul, akibat kebiasaan konsumsi alkohol berlebih, dan diketahui ini juga adalah penyebab penyakit hipertensi.

 

  1. Faktor Usia, Kontrol dengan Rutin Olah Raga

    Lansia yang berusia diatas 60 tahun dideteksi sebagai kelompok umur terbanyak pengidap hipertensi. Ini terjadi karaena semakin bertambah usia, maka organ tubuh, terutama pembuluh darah dan jantung sering mengalami penurunan fungsi. Terlebih bila ditambah lagi dengan gaya hidup di masa muda yang tidak sehat, peluang hipertensi juga akan semakin tinggi.

 

  1. Tingkat Stess Yang Tinggi, Kontrol dengan Banyak Rekreasi

    Tekanan dari kebutuhan hidup serta pekerjaan, apalagi yang tak terselesaikan dan menumpuk memberikan andil bagi tingginya kinerja jantung. Ujungnya jantung akan memompa darah lebih cepat. Salah satu tAndanya, kepala bagian belakang sering pusing.

 

    Dengan mengenali penyebab hipertensi atau tekanan darah tinggi, setidaknya risiko munculnya penyakit ini dapat ditekan. Terutama dengan mengendalikan factor-faktor ekstrenal seperti, mengurangi atau menghentikan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, juga rokok, menjalankan gaya hidup sehat, dengan pola makan lebih baik, serta berolahraga cukup.

 

Dampak ikutan dari penyakit hipertensi yang ditakutkan adalah terjadinya serangan stroke. Sebab ditengaraii 50% kasus stroke terjadi disebabkan penyumbatan pembuluh darah yang kebanyakan dipicu secara awal karena hipertensi.

 

Mencegah Hipertensi

 

Darah tinggi bila sudah terjadi dan disebabkan faktor internal seperti genetik atau usia maka tindakan yang paling tepat adalah dengan kontrol diri dan pengendalian yang baik. Perubahan gaya hidup paling banyak disarankan oleh dokter. Hal yang demikian dilakukan dengan harapan tidak sampai terjadi struk. Selain itu, upaya penanganan berikut ini juga bisa untuk dicoba.

 

  1. Membatasi Asupan Garam, Perbanyak Sayur

 

    Sifat garam yang mampu mengikat air menjadikan potensi konsumsi makanan yang terlalu asin atau yang diasinkan secara berlebihan tidak pas untuk pengidap hipertensi. Terlebih untuk menghindari terjadinya stroke, konsumsi garam berlebihan malahan depat memicu yang demikian. Oleh karena itu, sangat tepat bagi penderita hipertensi untuk membatasi asupan garam agar tekanan darah tetap normal.

 

 

  1. Perbanyak Olah Raga Kardio seperti Berjalan Secara Rutin, atau Olahraga Jalan Cepat

     Berjalan kaki adalah kebiasan sehat, malahan berjalan dengan langkah yang cepat terbukti menurunkan tekanan darah hingga 8/6mmHg. Selain itu, olahraga ringan dan mudah ini mengefisiensi suplai oksigen ke jantung, dampaknya kinerja jantung jadi lebih stabil. Butuh 30 menit total dalam seminggu, dengan jarak dan kecepatan yang bervariasi agar tekanan darah tetap normal.

 

  1. Banyak Konsumsi Kentang karena Kaya Potassium untuk Kontrol Tekanan Darah

    Beberapa bahan pangan, seperti kentang dipercaya untuk menurunkan tekanan darah. Hal yang senada juga diamini peneliti Linda Van Horn, PhD, RD seorang profesor kedokteran preventif di Northwestern University Feinberg School of Medical yang menyatakan,”buah dan sayuran yang kaya potassium dengan jumlah 2000-4000 mg per hari, menjadi bagian penting dari program penurunan tekanan darah apapun”. Sebagai bahan pangan, kentang tak hanya kaya dengan karbohidrat, tetapi juga punya kandungan potassium yang tinggi.

 

  1. Menambah Asupan Suplemen

    Laporan dari 12 studi, menunjukan bahwa koenzim Q10m punya dampak yang maksimal dalam penurunan tekanan darah sampai 17 mm/Hg. Didalam suplemen ini terkandung, antioksidan, yang diperlukan dalam produksi energi yang secara umum bermanfaat untuk melebarkan pembuluh darah. Karena sifatnya yang bersifat medical, maka perlu untuk konsultasi dengan dokter tentang ukuran berapa milligram sebaiknya suplemen ini harus dikonsumsi untuk setiap harinya.

 

  1. Dark Chocolate, Cara Menyenangkan Tangani Hipertensi

    Konsumsi setengah ons dark chocolate dengan kandungan kakao minimal 70% secara teratut setiap hari dipercaya dapat meminimalisir tekanan darah. Ini karena didalam dark chocolate terdapat kandungan flavanol yang merangsang pembuluh darah untuk jadi lebih elastis. Hal yang senada dibuktikan dengan sebuah penelitian dimana tak kurang dari 18% pasien hipertensi yang rutin mengkonsumsi dark chocolate setiap harinya mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan.

 

Gejala Umum Hipertensi

 

Dengan memahami cara yang tepat, serta tahu tentang penyebabnya diharapkan orang akan lebih waspada dengan gejala hipertensi yang secara umum sering dirasakan oleh pengidapnya. Jika merasakan gejala berikut ini, sebaiknya perlu untuk segera memeriksa tekanan darah ke dokter.

 

  • Pandangan mata sering kabur dan juga jantung terasa berdebar-debar
  • Sakit kepala, akibat meningkatnya tekanan darah
  • Susah berkonsentrasi, intensitas buang air kecil yang semakin sering
  • Cepat lelah menjalani beragam aktifitas kadang diselingi vertigo dengan intensitas hampir setiap hari
  • Mudah marah, atau sensitif terhadap hal-hal yang dirasa tidak menyenangkan atau tidak disukai

 

Bila gejala-gejala awal yang demikian sudah muncul, bisa jadi maka seseorang tersebut terserang hipertensi. Untuk menjaga agar jangan sampai mengarah semakin parah sehingga menyebabkan terjadinya hal-hal seperti stroke dan sejenisnya maka, perlu untuk mengantisipasi dengan melakukan 5 langkah sebagaimana dijelaskan di awal. Tak kurang dari itu, beberapa langkah berikut ini sebaiknya juga dijalankan beriringan agar semakin efektif.

  • Bila terjadi obesitas atau overweight, maka segeralah melakukan pola diet untuk menurunkan berat badan
  • Kurangi asupan garam berlebihan, juga alkohol dan minuman yang mengandung kafein seperti kopi
  • Hentikan kebiasaan merokok, serta mulailah kebiasaan sehat disertai olahraga secara teratur
  • Menurunkan dan menghindari penyebab stress

 

Penatalaksanaan Hipertensi

 

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan ataupun dengan cara modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup dapat dilakukan dengan membatasi asupan garam tidak lebih dari ½ sendok teh          

(6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari minuman berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi penderita hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25 menit dengan frekuensi 3-5 x per minggu. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress. Untuk pemilihan serta penggunaan obat-obatan hipertensi disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter keluarga anda.

 

Ada pun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh penderita hipertensi adalah:

  1. Makanan yang berkadar lemakjenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa,

gajih).

  1. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, crackers, keripikdan makanan keringyangasin).
  2. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta

           buah-buahan dalam kaleng, soft drink).

  1. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,

          pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).

  1. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein

          hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning

          telur, kulit ayam).

  1. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco

         serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandunggaram natrium.

  1. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

 

 

  • Disadur dari berbagai sumber

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials