Detail

Blog Image

HARI TUBERKULOSIS SEDUNIA, 24 MARET 2019

ALEK GUGI GUSTAMAN, SKM

Catatan Sejarah

Tidak diketahu dengan pasti, sejak kapan manusia menyadari tentang penyakit tuberkulosis atau TBC. Penyakit tuberculosis, selanjutnya TBC, menurut sejumlah besar pakar kedokteran, telah hadir pada manusia sejak puluhan ribu tahun lalu. TBC, awalnya terdeteksi pada fosil bison yang berumur sekitar 17.000 tahun.  Diterangai, TBC kemudian tertransfer ke sapi, kemudian, dari sapi ke manusia. Tahun 460 SM, Hippocrates menyebut bahwa penyakit yang menyerang paru-paru sebagai penyakit yang paling luas yang ditandai dengan batuk darah dan demam, yang hampir selalu fatal.

Sampai abad 19, dunia kedokteran, belum berhasil menemukan virus atau basil penyebab TBC. Adalh Dr Robert Koch, yang abdikan diri untuk memberantas TBC. Robert Koch, yang dokter, juga seorang humanis, yang mempunyai perhatian  besar pada kesehatanan masyarakat, lingkungan, dan humaniora. Ia melihat bahwa, TBC, pada masa itu, adalah penyakit yang didap seseroang, namun dengan cepat bisa menyerang sesamanya, sehingga menjadi ancaman terhadap public. Karen itu, TBC harus dihentikan, jika tidak maka komunitas manusia akan lenyap.

Pengabdian Robert Koch terhadap pemberantas TBC tersebut, pada tanggal 24 Maret 1882, ia menermukan basil penyebab tuberculosis yaritu Mycobacterium Tuberculosis. [Note: Penemuan ini menjadikan Robert Koch menerima Penghargaan Nobel untuk bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1905]. Pada perkembangan berikutnya, para ahli kedokteran dari berhasil mengembangkan vaksin BCG pada tahun 1906. Vaksin BCG atau Bacillus Calmette dan Guerin (sesuai nama para penemunya) sebagai tindak preventif agatr manusia tidak terjangkit TBC atau Anti TBC. Vaksin BCG pertama kali digunakan pada manusia pada tahun 1921 di Perancis, kemudian merata di Eropa, dan di Amerika Serikat.

Tanggal penemuan virus Mycobacterium Tuberculosis itulah yang menjadi dasar penetapan HAri TBC Sedunia atau Hari Tuberkulosis Sedunia pada setiap 24 Maret. Hari TBB Sedunia diiperingati sebagai upaya membangun kesadaran umum tentang wabahTuberkulosis serta usaha-usaha untuk mengurangi penyebaran wabah TBC.

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun
dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi epidemic di dunia. Di Indonesia Tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor satu diantara penyakit menular lainnya.

Tahun ini Kementerian Kesehatan RI mengambil Tema : “Saatnya Indonesia Bebas TBC Mulai Dari Saya “

 

Tentang TBC

Tuberkulosis (TB atau TBC) yang juga sering disebut “flek paru” adalah gangguan pernapasan kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TBC merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia. Menurut WHO, setiap detik ada satu orang yang terinfeksi tuberkulosis di dunia. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Sekitar 33% dari total kasus penyakit TBC di dunia ditemukan di negara-negara Asia.

Saat ini Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak setelah India. Data terbaru dari Profil Kesehatan Indonesia keluaran Kemenkes melaporkan bahwa ada 351.893 kasus TBC di Indonesia per tahun 2016, meningkat dari tahun 2015 sebesar 330.729 kasus.

TB menjadi infeksi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Sayangnya, masih banyak yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu tentang bahaya TB dan bagaimana pengobatannya. Berikut informasi lengkap seputar penyakit TBC yang wajib Anda ketahui.

Bagaimana penyakit TBC menular?

Penyakit TBC menular ketika pengidap TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman M. tuberculosis ke udara — misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bahkan tertawa — dan kemudian dihirup oleh orang lain.

Kuman yang keluar dari batuknya pengidap TB dapat bertahan di udara lembap yang tidak terpapar sinar matahari selama berjam-jam. Akibatnya, setiap orang yang berdekatan dan berinteraksi dengan penderita TB secara langsung berpotensi menghirupnya sehingga akhirnya tertular.

Seberapa lama kuman TB dapat bertahan hidup di luar tubuh penderita?

Menurut data milik Kemenkes RI dalam Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, untuk satu kali batuk seseorang biasanya bisa menghasilkan sekitar 3.000 percikan air liur.

Kuman penyebab TB umumnya dapat bertahan hidup di udara bebas selama satu sampai dua jam, tergantung dari ada tidaknya paparan sinar matahari, kelembapan, dan ventilasi.

Kuman yang terpapar sinar ultraviolet langsung akan mati dalam beberapa menit. Namun, kuman dapat terus hidup hingga satu minggu jika tinggal di dahak yang berada pada suhu di antara 30-37 derajat celcius.

 

Pada kondisi gelap, lembap, dan dingin, kuman TB dapat bertahan berhari-hari — bahkan sampai berbulan-bulan.

Siapa saja yang paling berisiko tertular TBC?

Daya penularan TB dari pengidap ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru, yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan dahak. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, maka makin menular pasien tersebut.

Faktanya, kebanyakan orang telah terpapar kuman TB selama hidupnya, namun hanya 10% orang yang terinfeksi TB akan menderita penyakit ini. Salah satu faktor penentu seseorang bisa terkena TB atau tidak adalah sistem imun tubuhnya. Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil kemungkinannya untuk tertular TB.

Orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah biasanya cenderung lebih mudah terinfeksi. Lansia, orang dengan HIV atau AIDS, penderita kanker, diabetes, ginjal, dan penyakit autoimun lainnya berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi TBC karena sistem imunnya tidak mampu melawan pertumbuhan bakteri.

TBC lebih banyak terjadi pada laki-laki (60%) daripada perempuan (40%). Proporsi kasus tuberkulosis terbanyak tahun 2016 ditemukan pada kelompok usia produktif (25-34 tahun) yaitu sebesar 18,07%, diikuti kelompok umur 45-54 tahun sebesar 17,25 persen. Kasus TBC juga paling banyak ditemukan pada golongan penduduk yang tidak bekerja dan yang tidak sekolah.

Penderita TBC (Mungkin) Ada di Sekitar Kita

Bakteri penyebab TBC, Mycobacterium Tuberculosis, menyebar ketika penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman tersebut ke udara, misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, meludah, atau bahkan tertawa, dan kemudian dihirup oleh orang lain di sekitarnya.

Jadinya, kita atau setiap orang di antara kita, semua umur, bisa atau berpotensi tertular TBC. Apalagi, jika pada saat daya tahan tubuh lemah (misalnya sementara sakit) dan di sekitar (kita) ada penderita TBC (atau pembawa virus TBC), namun ia tak menyadari bahwa dirinya menderita TBC.

Salah satu faktor penentu seseorang bisa tertular TBC atau tidak adalah seberapa kuat sistem imun tubuhnya dan kebersihan dirinya. 

Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil kemungkinannya untuk tertular TB. Orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah cenderung lebih mudah terinfeksi. Itu sebabnya anak-anak, lansia, orang dengan HIV atau AIDS, penderita kanker, diabetes, ginjal, berisiko lebih tinggi terinfeksi TBC.

Di samping itu, seringkali, pada orang-orang dari kelompok msyarakat atau komunitas yang kurang memperhatikan kesehatan diri sendiri, misalnya di Indonesia, jika penyakitnya belum parah (sehingga tergelatak di ranjang), mereka tidak ke dokter atau minum obat. Sama halnya dengan penderita TBC, seringkali dianggap sebagai flu biasa atau penyakit ringan lainnya.

Oleh sebab itu, perlu memperhatikan beberapa gejal dan tanda, mungkin saja merupakan akibat serangan virus TBC. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain,

  • Batuk disertai dahak. Batuk berdahak yang terjadi dalam kurun waktu yang lama untuk kembali sembuh, umumnya lebih dari tiga minggu.
  • Batuk berdarah. Ini yang paling sering terjadi, sebab sudah tersebar pada paru-paru dan menyebabkan infeksi.
  • Nyeri di dada, ketika bernafas. Terjadi karena paru-paru yang sudah terinfeksi, sehingga geraknya lemah atau tidak normal pada waktu proses pernafasan
  • Demam dan menggigil. Demam dan disertai menggigil, diikuti batuk yang terus-menerus.
  • Nafsu makan menurun. Virus Mycobacterium Tuberculosis memicu penolakkan terhadap nafsu makan.
  • Penurunan berat badan. Akibat dari menurunnya nafsu makan, penderita TBC mengalami penurunan berat badan yang drastic
  • Infeksi pada bagian tulang. Terjadi karena virus Mycobacterium Tuberculosis sudah menyerang anggota tubuh lain, termasuk tulang.
  • Urin keruh atau berwarna merah. Terjadi karena Mycobacterium Tuberculosis sudah menyerang ginjal
  • Lelah dan lemah
  • Kejang-kejang
  • Keringat berlebih saat malam hari
  • Muncul benjolan yang semakin membesar pada tubuh

Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan?

Apabila Anda mengalami gejala di atas, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dasar yang dilanjutkan dengan beberapa pemeriksaan penunjang, yaitu:

Pemeriksaan darah, tidak memberikan hasil yang kurang sensitif dan spesifik untuk infeksi TB. Basanya ditemukan peningkatan sel darah putih (leukosit) dan laju endap darah.

 Pemeriksaan dahak, penting untuk menentukan adanya kuman TB, biasanya dilakukan dalam 3 waktu, Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS).

Tes tuberkulin, banyak dipakai untuk menegakkan TB pada anak, namun tes ini bisa  memberikan hasil negatif palsu dan positif palsu. Pemeriksaan ini kurang berarti untuk diagnosis pasien dewasa.

Pemeriksaan radiologi, merupakan cara yang praktis untuk diagnosis TB dan rutin dilakukan.

Masih banyak pemeriksaan lain yang bisa dilakukan. Di Indonesia sendiri, diagnosis penyakit TBC biasanya diresmikan dengan melihat gejala, hasil pemeriksaan radiologi, dan dahak SPS.

Kapan saya dinyatakan sembuh dari TB?

Pengobatan TB menggunakan kombinasi antibiotik yang terdiri dari 2 fase dan biasanya berlangsung selama 6-9 bulan. Evaluasi pengobatan TB terdiri atas evaluasi klinik, bakteriologik, radiologik, dan efek samping obat, serta evaluasi keteraturan berobat.

Pasien dinyatakan sembuh tidaknya dari TB di akhir masa pengobatan oleh dokter yang menangani. Setelah dinyatakan sembuh pasien tetap dievaluasi untuk kekambuhannya selama minimal 2 tahun.

Gaya Hidup agar Tidak Tertular TBC

Sekali lagi, saya setuju dengan pendapat banyak orang, bahwa gaya hidup (masing-masing) sehat bisa berdampak pada terjaga atau terhindar dari serangan penyakit. Dan, sebaliknya, gaya hidup tidak teratur, memudahkan seseorang tertular berbagai penyakit. Hal tersebut dengan TBC. Seseorang bisa (dengan mudah) tertular TBC, jika tidak menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa 'menolak' penyakit tersebut. Upaya agar terhindar dari TBC, bisa dilakukan oleh siapa pun, mudah dan harus terbiasa untuk itu. Misalnya

  • Vaksin BCG. Biasanya dilakukan pada masa balita. Namun, tidak salah, jika orang dewasa pun lakukan (ulang); apalagi jika ada kepastian bahwa kita pernah berdekatan (secara sengaja atau tidak) dengan penderita TB yan tidak berobat. Anak-anak serta orang dengan kondisi daya tahan tubuh lemah wajib melakukan vaksinasi Bacille Calmette-Guerin (BCG); juga unntuk mereka yang ingin bepergian ke daerah endemis yang tingkat penularannya masih tinggi.
  • Sebisa mungkin, memberi saran atau masukan kepada orang (atau teman, saudara, dan lain-lain) yang dari tanda-tandanya, ia mengidap TBC, agar melakukan pengobatan.
  • Jika ia (no 2, di atas), menolak dan tidak mau, maka berani menghindar atau tak berinteraksi dengannya. Ini pilihan terbaik. Seseorang penderita TB aktif dan harus menjalani pengobatan biasanya akan diisolasi selama kurang lebih 2 minggu. Kontak langsung harus dibatasi selama masa tersebut, sebab risiko penularan masih cukup tinggi.
  • Terbiasa di ruang terbuka dan langsung terkena sinar Matahari. Sebab kuman penyebab TB umumnya tidak ndapat bertahan hidup di udara bebas selama satu sampai dua jam. Tapi, pada kondisi gelap, lembap, dan dingin, kuman TB dapat bertahan berhari-hari hingga berbulan-bulan. Bakteri TB bisa langsung mati jika terpapar oleh sinar matahari langsung.
  • Makan makanan bergizi. TB adalah penyakit menular yang sebenarnya sangat sulit menular. Infeksi atau penularan hanya terjadi pada kondisi daya tahan tubuh yang lemah, sehingga makanan bergizi dan paparan sinar matahari akan sangat membantu mencegah penularan.

Lalu?

Pada hari ini, 24 Maret 2019, sebetulnya perlu menjadi perhatian dari segenap lapisan masyarakat dan kalangan yang peduli terhadap cara hidup dan kehidupan sehat; termasuk perhatian kepada masyarakat agar terhindar dari TBC. Sayangnya, gong dan gaung Hari TBC Sedunia tak terdengar hingga jauh ke mana-mana.

 Apa boleh buat.

Tugas kita adalah sampaikan kepada semua, agar mereka terhindar dari TBC dan lakukan Temukan Obati Sampai Sembuh ( TOSS TBC).

 

 

*disadur dari berbagai sumber

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials