Detail

Blog Image

BIMBINGAN TEKNIS PENDAMPINGAN EKS-PSIKOTIK PASUNG BERBASIS KELUARGA

Perkuat jejaring kesehatan jiwa, Jumat 10 Agustus 2018 yang lalu Psikiater RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW) menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pendampingan Eks-Psikotik Pasung Berbasis Keluarga yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Bertempat di UPT Pengembangan Tenaga Kesejahteraan Sosial Malang dr. Anna Purnamasari Sugijanti Sp.KJ memberikan materi “Perawatan ODGJ Pasung dan Pasca Perawatan Pembebasan ODGJ Pasung” di hadapan 40 pendamping pasung dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Minimnya informasi yang dimiliki masyarakat mengenai deteksi dini, penanganan awal gangguan jiwa, disertai dengan tingginya stigma gangguan jiwa menjadi penyebab mata rantai penanganan gangguan jiwa tidak pernah tuntas. Melalui materi yang disampaikan diharapkan pendamping pasung dapat meningkatkan pemahaman penanganan gangguan jiwa di masyarakat secara menyeluruh. Seperti diketahui bersama pendamping pasung memiliki peran strategis untuk menekan angka pasung sekaligus re-pasung di masyarakat.

Pada materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut terdapat tiga poin penting dalam tatalaksana penanganan ODGJ di masyarakat

  1. Pencegahan, pada poin ini pendamping pasung diedukasi untuk dapat melakukan deteksi dini gangguan jiwa. Pemahaman mengenai deteksi dini gangguan jiwa diharapkan dapat ditularkan kepada kader kesehatan jiwa dan masyarakat daerah binaannya. Semakin dini gangguan jiwa terdeteksi semakin besar pula kesempatan untuk kembali pulih seperti sedia kala. Hingga saat ini realita yang terjadi di masyarakat adalah penderita gangguan jiwa baru mendapatkan penanganan medis saat telah mengalami gangguan jiwa berat.
  2. Pemasungan, terjadi karena kurangnya pemahaman keluarga dan masyarakat mengenai penanganan dini gangguan jiwa. Pesan yang ditekankan pada poin ini adalah pemasungan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) baik menggunakan rantai, mengisolasi di dalam ruangan, maupun media lain yang bertujuan untuk membatasi kebebasan adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang dapat dituntut secara pidana.
  3. Pasca-Pasung, kehidupan ODGJ saat mereka selesai menjalani perawatan menjadi fase penting yang membutuhkan perhatian lebih dari berbagai instansi terkait. Setelah ODGJ mendapatkan perawatan dan siap kembali ke masyarakat kerap mendapatkan penolakan dari keluarga atau masyarakat. Mereka sering kali dianggap sebagai ancaman atau beban. Tingginya ekspektasi keluarga dan masyarakat saat dibebaskan dari pasung kemudian mendapatkan perawatan maka ODGJ tersebut akan sembuh seperti manusia normal pada umumnya sementara saat kembali ke masyarakat ex-ODGJ belum sepenuhnya pulih seperti yang diharapkan. Rata-rata ODGJ ex-pasung telah mengalami pemasungan bertahun-tahun dan baru mendapatkan perawatan medis dalam kondisi mengalami gangguan jiwa berat, tentu untuk pulih membutuhkan waktu. Beberapa fenomena di atas menjadi penyebab terjadinya re-pasung pada ODGJ.

Sebagai penutup materi ditambahkan bahwa berbeda dengan penyakit lainnya umumnya ketika setelah menjalani masa perawatan membutuhkan waktu untuk mengembalikan kondisi tubuh. Bagi ex-ODGJ saat dinyatakan dapat kembali ke masyarakat maka pada saat itulah segala kemampuannya harus mulai diaktifkan dan  diberdayakan. Karena beraktivitas secara teratur dan kembali bersosialisasi dengan lingkungan dapat mengurangi kekambuhan sekaligus mempercepat proses recovery ex-ODGJ (hukormas & pkrs rsjrw 0341 426015).

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials