Detail

Blog Image

MELEWATI BATAS KOMUNIKASI MELALUI SENI

Seni sebagai bahasa universal dapat menjembatani hambatan komunikasi verbal yang kerap dialami oleh disabilitas. Menyikapi hal tersebut RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW) menyambut baik kegiatan Lokakarya Pameran Pendamping Festival Bebas Batas (FBB) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 28-30 Mei 2018 yang lalu. Pameran Pendamping merupakan rangkaian dari acara FBB  yang akan diselenggarakan di Galeri Nasional pada 12-29 Oktober 2018 mendatang.

            FBB sendiri merupakan kegiatan yang akan menampilkan karya disabilitas dari lima rumah sakit jiwa di Indonesia. Sebelum menyelenggarakan Lokakarya Pameran Pendamping FBB di RSJRW sebelumnya Tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan seleksi karya di RSJ Bandar Lampung, RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta, dan RSJ Provinsi Bali. Kegiatan FBB ditujukan untuk menurunkan stigma kepada para disabilitas dan menumbuhkan apresiasi publik kepada karya disabilitas tanpa melihat keterbatasan penciptanya.

            Di RSJRW kegiatan dilakukan di Gedung Latihan Kerja Instalasi Rehabilitasi Fisik dan Psikososial. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Medik dan Keperawatan dr. Yuniar Sp.KJ dan dihadiri oleh Direktur Kesenian Jenderal Kebudayaan Kemendikbud dr. Restu Gunawan. Dalam sambutannya dr. Yuniar Sp.KJ menyampaikan bahwa RSJRW menyambut baik dan berterimakasih telah dilibatkan dalam FBB. Kegiatan melukis telah menjadi agenda rutin proses rehabilitasi di RSJRW tapi memberikan jalan kepada rehabilitan untuk mengaktualisasikan karya di skala nasional adalah kesempatan yang jarang mereka dapatkan. Lebih jauh disampaikan di dunia kesehatan jiwa pada umumnya mereka yang mengalami gangguan jiwa sulit untuk mengkomunikasikan keinginan, perasaan, dan pesan lainnya. Melukis bisa menjadi solusi atas kebuntuan komunikasi yang mereka alami, melalui pemaknaan karya lukis kita dapat mencoba mengerti pesan apa yang hendak mereka sampaikan kepada kita.  

            Kegiatan diikuti oleh 32 rehabilitan yang terdiri dari 25 rehabilitan dari ruang rawat inap dewasa, dan 7 rehabilitan dari ruang rawat inap psikogeriatri. Dibawah arahan dua kurator Sudjud Dartanto dan Hendromasto Prasetyo, proses lokakarya berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama rehabilitan diajak untuk mengekspresikan bakat dan imajinasi dalam sebuah kertas dan cat warna.  Selanjutnya pada tahap kedua, kurator memilih karya karya terbaik untuk diangkat dalam sebuah karya pada media kanvas.

            Kegiatan Lokakarya Pameran Pendamping juga disambut antusias oleh rehabilitan, mereka bersemangat mengaktualisasikan imajinasi dalam sebuah karya. AS (38) salah satu rehabilitan menggambar lilin, AS memberi judul karya tersebut “ Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ketika ditanyai lebih jauh AS mengungkapkan bahwa lilin menjadi gambaran kondisinya saat ini, lilin menjadi sebuah harapan. Harapan untuk dapat segera sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarga (asw hukormas rsjrw 0341 426016).

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials