Detail

Blog Image

PENGARUH DIGITAL SCREEN MEDIA TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK

 Anggita Jayasari Hadiyanti, Amd. OT

 

            Acara seminar bertajuk “Pengaruh Gadget Pada Postur dan Motorik Terhadap Masa Depan Anak” yang diadakan di Operation Room pada hari Sabtu tanggal 28 April 2018 lalu merupakan bagian dari serangkaian acara promosi pelayanan kesehatan yang ada RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang sebagai rumah sakit dengan pelayanan prima dan peduli terhadap kesehatan masyarakat. Acara tersebut merupakan hasil kerjasama antara Tim PKRS dengan Tim Poli Fisioterapi dengan memberdayakan sumber daya internal sebagai panitia dan narasumbernya. Target peserta adalah ibu rumah tangga, tenaga pendidik baik guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Taman Kanak-kanak (TK) dan tenaga kesehatan lain yang berada di area Lawang.

Saya adalah seorang okupasi terapis yang bertugas sebagai salah satu narasumber pada acara tersebut. Namun sebelumnya, tahukah anda apa OKUPASI TERAPI itu? Sesuai Permenkes RI Nomor 23 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Okupasi Terapis menyebutkan bahwa okupasi terapi merupakan bentuk  pelayanan  kesehatan kepada pasien/klien dengan kelainan/kecacatan fisik dan/atau mental  yang mempunyai  gangguan  pada  kinerja  okupasional,  dengan menggunakan  aktivitas  bermakna  (okupasi)  untuk  mengoptimalkan kemandirian  individu  pada  area  aktivitas  kehidupan  sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang. Gangguan komponen kinerja okupasional berupa fungsi sensorik, persepsi, motorik, kognitif, interpersonal dan spiritual. Yang berhak memberikan pelayanan adalah okupasi terapis dengan pendidikan minimal diploma tiga, memiliki surat izin praktek/kerja dan telah terdaftar dengan menunjukkan surat tanda registrasi yang sah. Layanan okupasi terapi dapat diterapkan pada segala lapisan usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, baik pada lembaga kesehatan (rumah sakit, klinik), lembaga pendidikan (umum maupun inklusi) maupun lembaga lain (yayasan, panti) yang bersifat promotif, preventif,  kuratif  maupun  rehabilitatif.

            Mengapa saya merasa perlu mengangkat digital screen media sebagai topik pembahasannya? Menilik 20 tahun lalu, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya membantu pekerjaan orang tua di rumah dan bermain bersama teman di luar baik bersepeda, permainan tradisional yang sederhana dan lekat dengan alam, permainan imajiner, serta aktivitas bermain lain yang sarat dengan stimuli dan gerakan anggota tubuh, sedangkan saat ini teknologi berkembang pesat dan tidak dapat terpisahkan, sebagai contohnya digital screen media. Pada dasarnya media tersebut secara positif diciptakan dan digunakan sebagai media hiburan, edukasi dan komunikasi namun tanpa disadari penggunaannya semakin meningkat dan berlebihan sehingga memberikan dampak negatif bagi penggunanya, khususnya pada perkembangan motorik anak.

            Masa bayi dan masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan dan perubahan yang dinamis serta masa emas untuk semua aspek perkembangan. Pertumbuhan fisik dan neurodevelopmental berjalan dalam pola sekuensial dan prediktif. Kemajuan kemampuan atau skill dari cephalo ke caudal; dari proksimal ke distal; dan dari refleks berbasis stimulus yang digeneralisasi ke spesifik dan reaksi berorientasi pada tujuan yang tepat. Hurlock (1996), perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerak ini secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Motorik kasar (gross motor) merupakan peningkatan ketrampilan dan kontrol pada otot-otot besar seperti kaki, lengan, punggung dan bahu yang digunakan saat berjalan, duduk, berlari, melompat, memanjat dan mengendarai sepeda. Sedangkan motorik halus (fine motor) adalah penggunaan otot kecil jari dan tangan-ekstremitas atas untuk aktivitas serta memanipulasi lingkungan (Bartolotta & Shulman, 2009). Karena pentingnya deteksi perkembangan motorik maka perlu adanya pemeriksaan atau skrining standar yang bisa dilakukan pada kunjungan pengawasan kesehatan 9 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan (atau 24 bulan). Salah satu skrining yang biasa digunakan untuk mengevaluasi perkembangan motorik adalah milestone development (American Academy of Pediatrics dan Bright Futures, 2006). Pemeriksaan tersebut bisa dilakukan oleh petugas kesehatan maupun kader yang ada pada posyandu balita. Tabel sederhana skrining perkembangan motorik :

            Apakah urgensi perkembangan motorik pada masa bayi dan anak-anak? Pentingnya perkembangan motorik yaitu : a) Anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang, misalnya memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola, dll; b) Anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent yang dapat menunjang perkembangan rasa percaya diri; c) Anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia awal sekolah dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris; d) Memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan akan dikucilkan/fringer (terpinggirkan); e) Perkembangan self-concept atau kepribadian anak.

            Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi digital screen media yang semakin meningkat dan pada dosis tinggi dimulai sejak awal kehidupan, meliputi kategori luas penggunaan media berhubungan dengan layar : TV, DVD, atau video; game media (termasuk komputer dan game seluler); dan gadget (smartphone, tablet, laptop). Pada usia 3 bulan sebesar 40% bayi adalah pemirsa tetap televisi, DVD atau video. Pada usia 2 tahun, jumlah meningkat secara dramatis hingga 90% (Zimmerman et al., 2007). Zero to Eight (2011), anak-anak di Amerika berusia kurang dari 8 tahun telah menghabiskan lebih banyak waktu daripada sebelumnya di depan layar. Hampir separuh bayi menonton TV atau DVD setiap hari selama hampir 2 jam dan 1 dari 3 bayi memiliki TV di kamar tidur mereka. The Asian Parent Insight (2014), sebanyak 2500 orang tua di Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Filipina menjadi responden pada survei ini. Hasilnya menunjukkan bahwa 98% anak mereka menggunakan mobile devices (67% menggunakan milik orang tua, 18% menggunakan shared family devices dan 14% menggunakan milik mereka sendiri). Waktu yang dibutuhkan anak-anak saat memainkan gadget sekali duduk : 41% sebesar 1 jam, 37% sebesar 30 menit hingga 1 jam, 21% sebesar 1-30 menit dan kurang dari 2% tidak sama sekali. Survei di Amerika pada 1400 responden representatif oleh The Common Sense Sensus, penggunaan seluler meningkat 3 kali lipat di 2017, anak kurang dari 8 tahun menghabiskan rata-rata sekitar 2 ¼ jam setiap hari dan usia 0-2 tahun menghabiskan 1 jam.

 

      Kemudian apakah pengaruh negatif dari konsumsi digital screen media yang semakin meningkat dan pada dosis tinggi dimulai sejak awal kehidupan? Menurut Cris Rowan (Bachelor of Science in Occupational Therapy) pada jurnalnya yang membahas pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana teknologi dapat menyebabkan perubahan dalam perkembangan, perilaku, dan kemampuan anak untuk belajar, memandang bahwa input sensorik (visual, auditori, olfactory, taktil,taste, vestibular, proprioseptif) merupakan bagian dasar perkembangan motorik anak seperti pada Piramyd of Learning. Dengan input sensorik yang  berlebihan hanya pada visual dan auditori menyebabkan ketidakseimbangan pada input sensori lain yang pada akhirnya berakibat penundaan dalam mencapai tonggak perkembangan motorik baik postur tubuh, koordinasi, keseimbangan, kecepatan, dan kekuatan. Dampak yang lebih luas yaitu :

  1. gangguan koordinasi & visuospasial akibat fiksasi visual yang berkepanjangan pada layar dua dimensi dengan jarak tetap sangat membatasi perkembangan okular;
  2. Kurangnya keterampilan dasar untuk menulis dan membaca;
  3. Gangguan self regulation dan atensi yang diperlukan untuk belajar akhirnya bermasalah pada manajemen perilaku
  4. Intensitas, frekuensi, durasi dari visual dan pendengaran yang cepat berdampak buruk pada kemampuan anak untuk membayangkan, hadir dan fokus pada tugas akademik
  5. Kurangnya kontak terutama pada masa bayi menyebabkan agitasi dan kecemasan
  6. Pembentukan identitas diri kurang, akhirnya anak menjadi pemalu dan kesepian

 

Bagaimana cara meminimalisir dampak negatif digital screen media? Ada beberapa hal yang bisa diterapkan pada buah hati anda :

Okupasi terapi memandang individu secara holistik, yaitu :

  • Anak adalah individu yang mempunyai kebutuhan. Kebutuhan utama anak adalah bermain, maka sesuaikan apa yang anak butuhkan bukan apa yang menjadi kebutuhan orang tua sehingga bukan alasan jika anak diberi digital screen media agar “anteng” sehingga orang tua dapat melakukan kesibukan yang lain.
  • Orangtua/caregiver :
  1. Informasi tepat mengenai manfaat dan dampak negatif dari masing-masing digital screen media sebelum memberikannya kepada anak.
  2. Perlu adanya pembatasan waktu, seperti yang dilansir oleh :
  • Departemen Kesehatan&Layanan Kemanusiaan AS (USDHHS, 2010)
  • Departemen Kesehatan Australia (2014)
  • American Academy of Pediatrics (2016)

Disimpulkan bahwa :

  • Anak usia 0-2 tahun : tidak disarankan terpapar screen media
  • Anak 2-6 tahun : maksimal 1 jam/hari
  • Anak 6-8 tahun : maksimal 2 jam/hari
  • Lingkungan/setting tempat, misalnya : hindari penempatan televisi di kamar tidur.
  • Bermain sesuai tonggak perkembangan dan stimuli multisensori serta perlu adanya waktu khusus aktivitas fisik.

 

Dengan bertambahnya wawasan mengenai dampak negatif digital screen media, semoga orang tua/caregiver lebih waspada dan bijak dalam penggunaannya. Sayangi buah hati anda dan dukung tumbuh kembang maksimal agar menjadi generasi sehat dan cerdas masa depan.

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials