Detail

Blog Image

PARTISIPASI PERWAKLIAN RSJRW DALAM ADIC 2018

Kesenian adalah ekspresi dari identitas masyarakat, cara hidup, dan perspektif. Kesenian menjadi media komunikasi yang melampaui bahasa, kesenian mempunyai suatu kekuatan untuk menghubungkan antar individu, komunitas, menjembatani pemikiran, dan bahkan menghempaskan berbagai penghalang. Hal inilah yang dilakukan Singapore International Foundation (SIF), untuk berbaur dengan berbagai komunitas di dunia untuk dapat saling berbagi pemikiran tentang nilai-nilai budaya, inovasi, dan mempelajari sebuah sudut pandang baru dari berbagai belahan dunia.

Pada tahun 2016, SIF menginisiasi sebuah program Arts for Good, untuk memanfaatkan kekuatan transformasi dari kesenian untuk mempersatukan banyak orang dan memberi dampak baik bagi kehidupan sosial. Bersama dengan para artist dan praktisi berbagai profesi, SIF berupaya membangkitkan kesadaran masyarakat akan isu - isu sosial, berbagi praktik-praktik terbaik, serta menggembleng keterlibatan komunitas yang lebih besar dalam perubahan berkelanjutan. Hingga saat ini SIF konsisten dalam misi menghubungkan berbagai komunitas, mengoptimalkan kolaborasi, dan mengefektifkan perubahan.

Tahun ini komitmen tersebut diwujudkan dalam Art & Disability International Conference 2018 (ADIC, 2018) yang terselenggara dengan indah di bulan Maret yang lalu. Konferensi Inagurasi yang berfokus pada pendekatan inovatif dalam praktik seni dari komunitas inklusif ini, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan organisasi dengan berbagai hubungan multisektorial. Pada gelaran ADIC 2018, para penyandang disabilitas berkesempatan menunjukkan berbagai kemampuannya dalam berkreasi di panggung seni yang telah dipersiapkan. Inovasi dan Inisiasi dalam kebebasan berkarya seni merupakan tema inti dari Art & Disability International Conference tahun ini.

 

ADIC 2018 merupakan persembahan dari UNESCO,The Nippon Foundation, British Council dan Singapore International Foundation. Konferensi pertama di area ASEAN ini, menghadirkan pembicara-pembicara international dan grup-grup seni dari Australia, Kamboja, Kanada, Jepang, Singapura, dan UK. Tidak ketinggalan juga berbagai praktisi seni, organisasi, profesional, dan agen komunitas turut meramaikan suasana networking dan bertukar wawasan seputar seni dan disabilitas.

Kegiatan yang diselenggarakan di Begonia Ballroom, Marina Bay Sands Expo & Convention Centre Singapore ini menghadirkan Mr. Baey Yam Keng, Sekertaris Parlemen dari Kementerian Kebudayaaan, Masyarakat, & Pemuda; Mr. Ichiro Kabasawa, Direkur Eksekutif dari The Nippon Foundation; dan Dr. Indrajit Banerjee, Direktur Divisi Pendidikan Masyarakat UNESCO.

Berbagai pembicara yang dihadirkan diantaranya Ms. Kate Hood, Artistic Director dari Raspberry Ripple Production Australia; Ms. Kris Yoshie, Direktur SLOW LABEL Jepang; Ms. Sokny Onn, Wakil direktur Epic Arts Kamboja; Mr. Alirio Zavarce, Direktur No String Attached Australia; Mr. Pete Sparkes, Artistic Director Drake Music, Skotlandia; dan para Panelis luar biasa dari berbagai negara.

Turut berpartisipasi dalam berbagi ilmu dan pengalaman salah satu perawat berprestasi dari RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW), Anggi Ernata Sutiono S.Kep, Ners. Anggi merupakan Perawat Jiwa Anak & Remaja, yang telah terpilih oleh SIF menjadi salah satu dari dua peserta lain dari Indonesia yaitu Bali dan Bandung. Pada kesempatan tersebut Anggi diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil penelitian yaitu Effectiveness Art of Dance in Minimizing the Negative Impact of Hospitalization in Wijaya Kusuma Inpatient Ward dan juga menyampaikan laporan proyek dua tahun terakhir yang telah dikerjakan bersama pasien Anak & Remaja di Ruang Wijaya Kusuma maupun di Komunitas sebagai perwujudan program Community of Mental Health dari RSJRW.

Sesuai kecintaannya terhadap seni tari kontemporer, wanita berparas cantik ini dapat belajar banyak dengan mengikuti Workshop Tari dengan para Epic Arts Dancer dari Kamboja, sebagai program lanjutan dari Konferensi. Workshop bertemakan Every Person Counts ini berfokus tentang bagaimana setiap manusia dapat menggunakan manifestasi seni yang luar biasa untuk mengeksplorasi kesetaraan, penerimaan, penyesuaian, dan perbedaan di kehidupan inklusif dimana banyak masyarakat dunia yang masih memandang dengan sebelah mata. Workshop yang menggunakan gerakan tubuh secara kreatif ini bertugas untuk menyerukan prinsip Epic Arts yaitu memberikan motivasi kuat terhadap kelompok inklusif dan siapapun juga yang hidup didalamnya, entah itu kepada keluarga, praktisi kesehatan, masyarakat luas, dan bahkan pemerintahan.

Dalam workshop tersebut tidak hanya mempelajari tentang teknik menari, peserta juga dibawa untuk mengerti lebih dalam tentang bagaimana kehidupan inklusif para penarinya. Mulai dari ikut belajar Sign Language (Bahasa Isyarat), pengalaman dan perjuangan hidup sampai memenangkan berbagai penghargaan diantaranya Creative Leadership Programme with Cambodia Living Arts 2013 dan 2015, Serta prestasi mereka dalam memprakarsai The Social Change Through The Art di USA pada tahun 2017.

Setelah kegiatan konferensi dan workshop, rangkaian acara berikutnya adalah Berkunjung ke Enabling Village di Lengkok Bahru. Komunitas unik dengan asitektur bangunan yang indah dan berudara sejuk ini, melayani masyarakat disabilitas dengan pendekatan social bussiness. Disana penyandang disabilitas dapat menikmati berbagai fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya. Mulai dari lingkungan dengan tanda braille, teknologi ramah kursi roda, dan bantuan pendengaran dimana-mana termasuk ATM, minimarket, area gym, playground, restoran, auditorium; berbagai fasilitas sekolah autis hingga latihan kerja hingga penempatan tenaga kerja semua dalam layanannya. Di tempat tersebut juga dijumpai restoran, kafe, galeri seni, hingga toko souvenir yang dikelola dan dikerjakan bersama teman-teman difabel. Tak heran banyak anggota komunitas tersebut kini dapat berkiprah di dunia kerja seperti layaknya masyarakat lainnya.

True Colour Festivals Concert dan Pertunjukan Teater kelas dunia 24-25 Maret 2018, adalah rangkaian acara puncak yang diselenggarakan di Singapore Indor Stadium dan OCBC Square. Kegiatan ini menampilkan atraksi seni berkonsep multimedia unik yang memukau dari ratusan artist disabilitas dari seluruh kawasan Asia Pasifik. Adrian Yunan adalah musisi satu-satunya wakil Indonesia di festival tersebut. Beliau memainkan lagu-lagu folk karyanya sendiri yang telah diaransemen khusus untuk acara ini.

Menjadi harapan bagi semua peserta bahwa melalui festival ini siapapun juga jangan pernah menghentikan langkah untuk melakukan semua yang dicita-citakan, karena telah terbukti disabilitas bukanlah sebuah kekurangan melainkan sebuah keragaman. Semua orang pasti memiliki kekurangan dalam diri, namun jangan jadikan kekurangan tersebut sebagai penghambat, tapi jadikan sebagai motivasi untuk terbang lebih tinggi. Lakukan dan lakukan... ‘Connect, Collaborate, Champion !!!’ Berhubunganlah dengan banyak orang, Bekerjasamalah, dan Menanglah !!! Menang mengatasi kelemahan diri, berbagai tantangan, dan mengubahnya menjadi prestasi. Mengembangkan 3 C ini menjadi modal utama untuk memunculkan diri, menyuarakan aspirasi, dan menjadi berkat serta manfaat bagi diri sendiri, keluarga, orang lain, dan masyarakat luas (Anggi-RSJRW).

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials