Detail

Blog Image

WORLD BIPOLAR DAY

“a celebration of the human spirit”

Meskipun terlambat, namun saya ingin tetap menulis ini sebagai momen untuk memperingati Hari Bipolar Sedunia, yang jatuh pada tanggal 30 Maret. Bipolar, seperti yang kita ketahui, adalah suatu penyakit mental dimana penderitanya mengalami ledakan emosi yang ekstrim. Sebenarnya kita semua pasti pernah mengalami penghayatan emosi yang kuat, namun bagi orang Bipolar itu beda lagi. Emosi itu bisa berlangsung lama , intens dan bahkan sangat tiba-tiba sehingga membuat aktivitas dan kehidupan sosialnya terganggu. Sebagian membenci diri sendiri, dan menyalahkan dirinya atas hal-hal yang mereka persepsikan sebagai kegagalan dalam hidupnya. Sebagian merasakan konflik yang hebat dengan keluarga atau teman-temannya. Sebagian tidak dapat mempertahankan pekerjaan ataupun hubungannya. Hal itu tidak lain disebabkan. karena perilaku emosionalnya yang dahsyat, berubah-ubah sehingga sulit diterima orang di sekitarnya.

Tidak perlu bicara tentang artis-artis yang mengalami Bipolar. Orang-orang dengan Bipolar yang pernah bekerja sama dengan saya, mereka punya kecerdasan diatas rata-rata. Mereka adalah orang-orang yang super kreatif. Mereka itu, sebut saja, ada yang pintar melukis, padahal belajarnya justru pas waktu rawat inap di RSJ. Ada yang piawai masak dan bisa membuat kue tart berbentuk piano, persis seperti Adi karya chef Jepang yang di acara lomba-lombaan di TV. Ada yang sudah pameran fotografi dan pameran lain-lain. Ada yang bisa mencari nafkah dari lukisannya yang laris di luar negeri sebagai gambar kaos dan sampul album Indie. Banyak juga yang berstatus mahasiswa di universitas ternama. Sebagian bilang, waktu SD-SMP mereka selalu juara kelas. Sampai suatu ketika mereka menemukan “absurditas” pada diri mereka dan tidak bisa mengendalikannya. Biasanya muncul waktu SMA, atau menjelang dewasa.

Meskipun belum pernah belajar di rumahnya Nur Sugik yang saat ini viral, tapi saya terusik untuk berpikir-pikir ala Cocoklogi. Mungkin ini tidak ada hubungannya. Tapi ternyata dalam otak kita ada neuron bipolar. Baru tahu kalau bipolar ternyata mewakili banyak nama. Ada neuron bipolar, transistor bipolar, macem-macem. Neuron bipolar sendiri, adalah sel syaraf yang punya peran penting dalam sistem syaraf umumnya. Fungsinya mendeteksi dan menafsirkan sinyal, misalnya sinyal retina dari mata dan kemudian menghantarkan ini dari sistem syaraf ke pusat pengolahan yang sesuai di otak. Jadi sensasi dikirim bolak balik dari syaraf ke otak dimana mereka dapat diterjemahkan dan diproses. Oleh sebab itu neuron dengan ekstensi bipolar hampir selalu terlibat dalam respon sensori.

Sekali lagi, saya tidak yakin ini berhubungan atau tidak, benar atau tidak. Tapi kenyataan bahwa orang-orang bipolar punya kepekaan terhadap hal-hal yang ada di lingkungan. Mereka melihat warna dengan lebih tajam, mendengar lebih jernih, peka terhadap bau-bauan, juga perubahan cuaca. Mereka punya kekuatan untuk bisa merasakan suatu “rasa”, pengalaman emosi yang kuat dan intens. Mereka memberikan kedalaman makna pada setiap peristiwa yang dilalui dan menyimpannya dengan rapat di balik bayang-bayang.

Masalahnya adalah juga karena kebanyakan mereka cerdas, jadi lemari memori mereka terisi dengan banyak ingatan, yang celakanya kebanyakan hal-hal tidak menyenangkan yang banyak dialami di masa lalu. Susahnya juga, aktivitas emosional di otak mereka seringkali memproses informasi beberapa milidetik lebih dulu dibandingkan aktivitas rasional. Ini tentu saja amygdala, sang pusat emosi di dalam otak yang bertanggung jawab. Singkatnya, ketika terjadi suatu peristiwa saat ini, amygdala akan secara cepat menafsirkannya secara cocoklogi. Artinya, amygdala menemukan kecocokan dengan pengalaman buruk masa lalu sudah terekam. Selanjutnya, respon amygdala adalah merasakan ancaman dan emosi yang intens, berupa kemarahan, kekecewaan atau ketakutan. Walhasil, aktivitas sekejab di otak ini berakhir dengan munculnya perilaku yang mengagetkan, tidak masuk akal, merugikan bahkan bisa destruktif.

Menurut saya, yang diperlukan orang dengan bipolar adalah konsistensi dan kontrol. Sehingga mereka perlu “living day by day” untuk dapat melewati segala macam episode yang dialami. Tentu saja obat tetap menjadi hal yang wajib untuk stabilisasi emosi dan perasaannya. Namun selain itu mereka juga perlu melakukan isi ulang pada “lemari ingatan” mereka dengan hal-hal yang membahagiakan. Seberapa pun sederhananya. Axon-axon dalam otak selalu berhubungan satu sama lain. Dan satu kejadian yang membahagiakan akan mengarah pada kejadian bahagia lainnya. Demikian, selayaknya jangan pernah lupa menyediakan waktu untuk bergerak dan bersukacita dalam aktivitas yang positif, sampai akhirnya tidak ada tempat bagi suara, bayang-bayang dan mimpi buruk. Almarhum Stephen Hawking berujar, “remember to look up at the stars and not down at your feet. Try to make sense of what you see and wonder about what makes the universe exist. Be curious. And however difficult life may seem, there is always something you can do and succeed at. It matters that you don’t just give up.”.

Jadi, di akhir tulisan saya ini, saya ucapkan selamat Hari Bipolar Sedunia. Semoga teman-teman dapat memperingati hari ini sebagai hitungan mundur menuju kesembuhan. Gangguan Bipolar yang sekarang masih disandang tidaklah menentukan siapa diri kalian sebenarnya. Namun keberanian dan kekuatanlah yang akan membentuk kalian jadi pribadi yang hebat. This world was never meant for one as beautiful as you. Salam sehat jiwa – Daisy Prawitasari S.Psi, M.Psi RSJRW-  

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials