Detail

Blog Image

WASPADA SINDROMA TOURRETE PADA ANAK

WASPADA SINDROMA TOURRETE PADA ANAK

Liliefna Anthony Y

Miris rasanya jika kita melihat anak-anak di sekitar kita, yang notabene adalah generasi penerus, berada di jalanan. Kerasnya hidup di jalanan memaksa mereka mengenal hidup yang keras pula. Dari jalanan mereka mengenal hidup ala kadarnya, hidup yang jauh dari kehidupan ideal yang harus ditempuh anak dalam masa bermain dan belajar. Kita sering melihat anak-anak di jalanan atau di sekitar kita mengumpat, mengucapkan kata-kata kotor. Bagi sebagian orang, hal semacam itu mungkin masih dianggap bisa dimaklumi karena memang anak-anak hidup di jalanan atau di lingkungan yang akrab dengan kata-kata umpatan. Namun, perlu diingat bahwa anak yang suka mengumpat barangkali bisa disebabkan oleh kelainan yang disebut sindroma tourrete.

Sindroma tourrete, menurut sejarahnya, berasal dari nama seorang ahli saraf asal Perancis, George Gilles de la Tourrete, yang pada tahun 1885 menemukan 9 (sembilan) pasien anak dengan tic atau melakukan gerakan yang tidak disadari (mengedipkan mata dan menyeringai) dan ketidakmampuan untuk mengontrol suaranya atau sering mengumpat dan mengucapkan kata-kata kotor. Sindroma tourrete muncul pertama kali pada usia 5-10 tahun. Anak laki-laki lebih sering mengalami sindroma tourrete daripada anak perempuan.

Berbagai gangguan lain yang menyertai sindroma tourrete misalnya depresi, kecemasan, mengamuk, perilaku melukai diri sendiri, kesulitan belajar, gangguan tidur, dan lain-lain. Faktor genetik diduga berperan dalam terjadinya sindroma tourrete. Bagaimana bila anak mengalami gejala-gejala menyerupai sindroma tourrete yaitu suka mengumpat dan sering melakukan gerakan-gerakan yang tidak disadari?

Langkah pertama pengobatan pada penderita sindroma tourrete adalah memberikan penjelasan pada anak, anggota keluarga, guru, dan orang lain yang banyak terlibat dengannya. Orang tua, guru, dan dokter harus bekerjasama sebagai satu tim sehingga bisa terbentuk lingkungan pendidikan yang baik bagi penderita sindroma tourrete, bukan lingkungan yang cenderung mengacuhkan dan menjauhinya karena dianggap sulit diatur. Pengobatan perilaku tidak akan berhasil bila hanya dilakukan secara berkala tanpa kesinambungan. Gerakan  yang tidak disadari yang ringan, tidak memerlukan pengobatan, sebagian besar akan hilang sendiri dalam waktu 12 bulan. Pasien sindroma tourrete yang tidak mengalami gangguan psikososial maupun fisik juga belum memerlukan terapi. Pengobatan tentang sindroma tourrete melibatkan dokter anak dan psikiater anak.

Mudah-mudahan mulai sekarang kita lebih peduli dengan anak-anak di sekitar kita yang mempunyai hobi mengumpat karena bisa saja anak tersebut mengalami kelainan sindroma tourrete.

(Disarikan dari buku: Mengetahui Problem Kesehatan Anak, karangan dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, Sp.A., M. Biomed., penerbit Era Baru Pressindo Yogyakarta, tahun 2013 dan beberapa sumber lainnya)

 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials