Detail

Blog Image

ANAK DAN KECANDUAN GADGET

Nurul Firdausi

 “Ibu,ayo main sama adek”

Ibu hanya melirik, tersenyum dan kembali melihat smartphone-nya.

Beberapa waktu kemudian..

“Adek, kalau diajak ngomong dengerin dong!”

Anak tidak peduli dan asyik main tablet-nya.

Saat ini kita hidup dengan segala kemudahan yang kita dapat dari teknologi. Bagi kita gadget adalah benda yang berharga, bisa diandalkan serta tidak terpisahkan. Hal yang sama terjadi pada anak-anak. Mereka melihat gadget sebagai suatu dunia baru yang ajaib yang menawarkan berbagai  kesenangan dan keseruan. Namun dibalik hiburan dan informasi yang ditawarkan, banyak efek negatif dari penggunaan gadget pada anak.

Penelitian dari Yale University School of Medicine and California Pacific Medical Center  (UCLA) terhadap  173 studi menunjukkan bahwa 80 persen media memiliki efek negatif terhadap kesehatan (Jong, 2017).  Efek negatifnya yaitu :

  1. Perkembangan otak yang kurang sempurna

Menurut  dr.Amir Zuhdi (Founder Neuroparenting Indonesia)  penggunaan gadget baru efektif untuk anak ketika anak berusia diatas 12 tahun. Dibawah usia 12 tahun, gadget lebih banyak merusak piranti-piranti otak pembentuk kecerdasan (pre frontal cortex, cingulatis, amygdala, basal ganglia, cerebellum dan daerah lainnya).

  1. Masalah kesehatan pada anak, baik kesehatan fisik maupun mental

Permasalahan kesehatan  yang banyak dialami yaitu kesehatan mata, tulang serta gangguan tidur. Sinar yang dipancarkan oleh layar dapat berpengaruh pada ritme tubuh, cahaya tersebut dapat mencegah dihasilkannya melatonin (hormon yang penting untuk menjaga kesehatan sel tubuh).

Selain masalah kesehatan fisik, menurut Douglas A. Gentile (Iowa State University), menghabiskan terlalu banyak waktu bermain video games dapat meningkatkan kemungkinan depresi pada anak remaja.

  1. Resiko kegemukan pada usia anak-anak semakin meningkat.

Saat anak bermain gadget maka anak kurang bergerak dan tidak beraktivitas di luar rumah. Data menunjukkan sekitar 45 menit setelah menjalani aktivitas kurang gerak  akan makan lebih banyak dibandingkan anak yang beraktivitas fisik (kompas.com).

  1. Masalah perilaku pada anak

Gadget yang berisi permainan dengan unsur kekerasan menyebabkan anak menjadi lebih agresif, kurang peka terhadap penderitaan orang lain, atau membuat anak menjadi lebih takut dengan lingkungan sekelilingnya. Selain itu bermain gadget juga membuat anak memiliki sifat mudah menyerah dan bertindak impulsif. Hal ini dikarenakan ketika bermain gadget anak dapat dengan mudah dan cepat mendapatkan prestasi  sedangkan dalam dunia nyata anak harus berusaha untuk mencapai apa yang ia inginkan dan bisa membutuhkan waktu yang lama.

  1. Keterlambatan perkembangan bahasa

Gadget memberikan banyak informasi namun dapat menyebabkan anak terlambat bicara dikarenakan minimnya berkomunikasi  dengan orang lain

 

Selain beberapa efek negatif diatas, penggunaan gadget yang berlebihan pada anak dapat menyebabkan anak kecanduan. Seperti yang terjadi pada dua pelajar di Bondowoso yang dibawa oleh orangtuanya karena mengalami perubahan perilaku secara drastis,  tidak mau sekolah, menjadi pemurung, mengurung diri dalam kamar, dan menghabiskan hampir seluruh waktu memegang smartphone. Kedua anak tersebut bisa marah sampai membanting-banting benda atau menyakiti diri sendiri jika diminta melepaskan smartphone dari tangannya (Liputan6.com)

 

Melihat dari kasus tersebut, orangtua mulai harus berkomitmen menjaga anak dari efek buruk gadget dengan cara :

  • Jadilah contoh karena anak adalah peniru yang baik dan anak akan mencontoh perilaku orangtua. Jika anak melihat orangtua membaca buku maka anak akan lebih senang membaca. Begitupun juga ketika orangtua lebih senang bermain gadget.
  • Buatlah keputusan untuk anak-anak tentang pola hidup yang sehat tanpa gadget dengan penjelasan kenapa keputusan tersebut dibuat.
  • Memberi batasan dalam penggunaan gadget

The American Academy of Pediatrics (2016) merekomendasikan bahwa :

  • anak usia kurang dari 18 bulan sebaiknya menghindari penggunaan media digital (tv maupun gadget)
  • Orangtua dengan anak usia 18 bulan sampai 2 tahun yang ingin memperkenalkan media digital harus memilih program yang memiliki kualitas baik dan menontonnya bersama anak untuk menjelaskan apa yang mereka lihat.
  • Bagi anak usia 2 sampai 5 tahun, batasan untuk penggunaan media digital adalah 1 jam tiap hari untuk program dengan kualitas yang baik, dan orangtua tetap menemani untuk menjelaskan apa yang mereka lihat dan mempraktekkannya bersama.
  • Bagi anak usia 6 tahun dan usia yang lebih tua, berikan batasan yang konsisten dalam penggunaan media digital dan memastikan tidak mengganggu jam tidur, aktivitas fisik serta aktivitas lain yang baik untuk kesehatan.
  • Mendesain zona bebas media digital saat berkumpul bersama, seperti saat makan, berkendara serta meniadakan gadget atau TV  di kamar tidur.
  • Mengganti dengan aktivitas yang lain. Orang tua menyediakan bahan-bahan untuk belajar dan bermain, seperti buku cerita, papan permainan (ular tangga, monopoli, halma, scrable), peralatan seni (kuas, cat air, kertas gambar, kanvas,alat musik), peralatan olah raga, sehingga anak memiliki banyak pilihan untuk berkegiatan.
  • Bermain dengan anak, habiskan waktu dengan anak (berdiskusi dan membacakan buku cerita) karena berdasarkan penelitian, anak yang kesepian lebih senang ditemani oleh gadget-nya.
  • Orangtua terlibat dalam kehidupan anak. Saat ini banyak orangtua lebih memilih menyalakan televisi  atau memberikan gadget  supaya anak diam dan tidak mengganggu kesenangan orangtua. Hal ini menyebabkan orangtua tidak memahami anak  sehingga komunikasi keduanya menjadi semakin buruk.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials