Detail

Blog Image

RESUME PENELITIAN

KURNIA DUSA AGUSTINA

Perawat Psikogeriatri RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Teknik personal manajemen stress pada caregiver orang dengan dementia

  1. PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Definisi demensia menurut WHO adalah sindrom neurodegeneratif yang timbul karena adanya kelainan yang bersifat kronis dan progesifitas disertai dengan gangguan fungsi luhur multiple seperti kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan mengambil keputusan. Kesadaran pada demensia tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif biasanya disertai dengan perburukan kontrol emosi, perilaku, dan motivasi.

Gangguan fungsi-fungsi tersebut menyebabkan munculnya perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari orang dengan demensia (ODD). Sehingga menimbulkan situasi yang tidak nyaman bagi orang-orang disekitarnya, terutama keluarga sebagai pemberi perawatan atau caregiver bagi ODD tersebut. Tak jarang pelayanan dan perawatan yang diberikan keluarga kepada ODD diterima sebagai hal yang negatif oleh ODD karena menurunnya kemampuan mereka dalam mengolah stimulasi. Situasi ini adalah tantangan tersendiri bagi caregiver yang terlibat langsung dalam perawatan ODD setiap hari. Salah satu tantangan tersebut adalah tantangan emosional yang berresiko menyebabkan stress emosional dan kelelahan fisik pada caregiver akibat sering mendapatkan feedback negatif dari ODD atas perlakuan yang diberikan. Resiko stress dan kelelahan fisik mungkin akan muncul apabila keluarga sebagai caregiver utama tidak memiliki manajemen stress yang efektif untuk mengurangi tekanan emosional dan memulihkan kondisi fisiknya sendiri. Pada caregiver yang mengalami stress tentunya akan berpengaruh pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada ODD.

Sepanjang pertengahan tahun 2017 ada sejumlah pasien demensia yang dirawat di Instalasi psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, baik di unit rawat jalan maupun rawat inap.. Dari data kunjungan pasien demensia di instalasi psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang  selama bulan Januari- Juli tahun 2017, saat perawat melakukan pengkajian keperawatan yang melibatkan keluarga didapatkan dari rata-rata 17 caregiver ODD dalam per hari , 80% diantaranya mengeluh stress dan kelelahan fisik selama merawat ODD. Sebagian dari caregiver mengatakan bahwa mereka kelelahan secara fisik karena ODD yang dirawat memerlukan perawatan total. Sebagian lain dari caregiver mengeluhkan tentang bagaimana mereka kesulitan mengatasi emosinya sendiri saat menerima respon negatif dari ODD yang dirawat. Namun disaat yang sama para keluarga juga menyatakan pernah melakukan beberapa hal sebagai bentuk manajemen stress untuk mengatasi tekanan emosional dan kelelahan fisik sehingga mereka tetap bisa memberikan perawatan kepada keluarga mereka yang mengalami demensia. Berdasarkan wawancara tersebut peneliti akan meneliti tentang gambaran teknik personal manajemen stress pada keluarga sebagai caregiver dalam merawat ODD.

Rumusan Masalah

Bagaimana teknik personal manajemen stress pada caregiver selama merawat orang dengan dementia.

Tujuan Penelitian

  1. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui teknik personal manajemen stress para caregiver selama merawat ODD.
  2. Mengetahui gambaran fenomena caregiver burden pada caregiver ODD di Instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
  3. Melaksanakan program penelitian kesehatan jiwa di Instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru, harapan dan semangat bagi keluarga lain yang juga merawat ODD, untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam memberikan perawatan dan pelayanan yang terbaik bagi keluarga mereka yang mengalami demensia agar mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Bagi Instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dapat dijadikan bahan dan sumber pada program penelitian berkelanjutan di tahun berikutnya.

Bagi proses pelayanan kesehatan diharapkan hasil penelitian ini dapat jadi bahan  pertimbangan dalam memberikan terapi, pengobatan atau bentuk pelayanan kesehatan lain yang lebih komprehensif.

  1. TINJAUAN PUSTAKA
  2. Demensia

Menurut WHO, demensia adalah sindrom neurodegeneratif yang timbul karena adanya kelainan yang bersifat kronis dan progresif disertai dengan gangguan fungsi luhur multipel seperti kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan mengambil keputusan. Kesadaran pada demensia tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif biasanya disertai dengan perburukan control emosi, perilaku dan motivasi. Merosotnya fungsi kognitif ini harus cukup berat sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan individu.

  1. Tahapan Demensia

Tahapan-tahapan pada demensia, tanda dan gejalanya adalah:

  1. Stadium I / awal

Berlangsung 2-4 tahun dan disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun.” Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang di alami,” dan tidak menggangu aktivitas rutin dalam keluarga.

  1. Stadium II / pertengahan

Berlangsung 2-10 tahun dan di sebut pase demensia. Gejalanya antara lain, disorientasi, gangguan bahasa (afasia). Penderita mudah bingung, penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, Gangguan kemampuan merawat diri yang sangat besar, Gangguan siklus tidur ganguan, Mulai terjadi inkontensia, tidak mengenal anggota keluarganya, tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi ” Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungan ”.

  1. Stadium III / akhir

Berlangsung 6-12 tahun. ” Penderita menjadi vegetatif, tidak bergerak dangangguan komunikasi yang parah (membisu), ketidakmampuan untuk mengenali keluarga dan teman-teman, gangguan mobilisasi dengan hilangnya kemampuan untuk berjalan, kaku otot, gangguan siklus tidur-bangun, dengan peningkatan waktu tidur, tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain dan kematian terjadi akibat infeksi atau trauma (Stanley, 2007 dalam (http://repository.usu.ac.id)

  1. Caregiver

Pengertian caregiver adalah seorang Individu yang secara umum merawat dan mendukung individu lain (pasien) dalam kehidupannya merupakan caregiver (Awad dan Voruganti, 2008 : 87). Caregiver mempunyai tugas sebagai emotional support, merawat pasien (memandikan, memakaikan baju, menyiapkan makan, mempersiapkan obat), mengatur keuangan, membuat keputusan tentang perawatan dan berkomunikasi dengan pelayanan kesehatan formal (Kung, 2003: 3). Caregiver terdiri dari formal dan tidak formal. Caregiver formal merupakan perawatan yang disediakan oleh rumah sakit, psikiater, pusat perawatan ataupun tenaga profesional lainnya yang diberikan dan melakukan pembayaran. Sedangkan caregiver yang tidak formal merupakan perawatan yang dilakukan di rumah dan tidak profesional dan tanpa melakukan pembayaran seperti keluarga penderita yaitu istri/suami, anak perempuan/laki-laki, dan anggota keluarga lainnya. (Sarafino,2006 : 55) Caregiver dan carer adalah istilah yang sering digunakan untuk mengambarkan orang yang melakukan perawatan pada orang yang mengalami keterbatasan. Caregiver pada masyarakat Indonesia umumnya adalah keluarga, dalam hal ini adalah pasangan, anak, menantu, cucu atau saudara yang tinggal satu rumah. Suatu keluarga terdiri dari dua individuatau lebih yang berbagi tempat tinggal atau berdekatan satu dengan lainnya; memiliki ikatan emosi, terlibat dalam posisi sosial; peran dan tugas-tugas yang saling berhubungan; serta adanya rasa saling menyayangi dan memiliki ( Murray & Zentner, 1997 da, 1998 dalam Allender & Spradley, 2001 :85).

 

  1. Manajemen Stres

Istilah manajemen stres merujuk pada identifikasi dan analisis terhadap permasalahan yang terkait dengan stres dan aplikasi berbagai alat teraupetik untuk mengubah sumber stres atau pengalaman stres (Cotton dalam Intan, 2012). Berbeda dengan Cotton, Smith (dalam Riskha 2012) mendefinisikan manajemen stres sebagai suatu keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola dan memulihkan diri dari stres yang dirasakan karena adanya ancaman dan ketidakmampuan dalam coping yang dilakukan. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Margiati (1999)  bahwa manajemen stres adalah membuat perubahan dalam cara anda berpikir dan merasa, dalam cara anda berperilaku, dan sangat mungkin dalam lingkungan anda. Fadli (dalam Arum 2006) menambahkan bahwa manajemen stres juga sebagai kecakapan menghadapi tantangan dengan cara mengendalikan tanggapan secara proporsional. 

Teknik Manajemen Stress

Menurut Munandar (2001), ada beberapa teknik yang digunakan dalam manajemen stres yaitu:  

1.Kerekayasaan Organisasi 

. Dalam perawatan pada ODD kerekayasaan organisasi dapat berupa membagi tanggungjawab perawatan dengan anggota keluarga lain, atau dapat juga dengan mendelagasikan tugas kepada caegiver formal.

  1. Kerekayasaan Kepribadian

Dalam perawatan ODD caregiver memerlukan pelatihan sehingga mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan merawat ODD dengan baik. Dengan ketrampilan dan pengetahuan tersebut caregiver akan merasa lebih percaya diri saat merawat ODD. Caregiver yang percaya diri tidak akan mudah stress dan cemas karena mereka yakin mampu merawat ODD mereka dengan baik.

  1. Teknik Penenangan pikiran

Tujuan teknik-teknik penenangan pikiran ialah untuk mengurangi kegiatan pikiran,yaitu proses berpikir dalam bentuk merencana, mengingat, berkhayal, menalar yang secara bersinambung kita lakukan dalam keadaan bangun, dalam keadaan sadar. Jika berhasil mengurangi kegiatan pikiran, rasa cemas dan khawatir akan berkurang, kesigapan umum (general arousal) untuk beraksi akan berkurang, sehingga pikiran menjadi tenang, stres berkurang.

Teknik-teknik penenangan pikiran meliputi: meditasi, pelatihan relaksasi autogenik, dan pelatihan relaksasi neuromuscular. 

  1. Meditasi

Meditasi dapat dianggap sebagai teknik, dapat pula dianggap sebagai suatu keadaan pikiran (mind), keadaan mental. Berbagai teknik seperti yoga, berfikir, relaksasi progresif, dapat menuju tercapainya keadaan mental tersebut.konsentrasi merupakan aspek utama dari teknik-teknik meditasi.  Penelitian menunjukan bahwa selama meditasi aktivitas dari kebanyakan sistem fisik berkurang. Meditasi menyebabkan adanya relaksasi fisik. Pada saat yang sama meditator mengendalikansecara penuh penghayatannya dan mengendalikan emosi, perasaan dan ingatan. Pikiran menjadi tenang, badan berada dalam keseimbangan. Ritual keagamaan merupakan salah satu meditasi yang efektif bagi orang yang memiliki spritualitas dan keyakinan kepada Tuhan yang tinggi.

 

  1. Pelatihan Relaksasi Autogenik

Relaksasi autogenik adalah relaksasi yang ditimbulkan sendiri (auto-genis = ditimbulkan sendiri). Teknik ini berpusat pada gambaran-gambaran berperasaan tertentu yang dihayati bersama dengan terjadinya peristiwa tertentu yang kemudian terkait kuat dalam ingatan, sehingga timbulnya kenangan tentang peristiwa akan menimbulkan pula penghayatan dari gambaran perasaan yang sama. Pelatihan relaksasi autogenik berusaha mengaitkan penghayatan yang menenangkan dengan peristiwa yang menimbulkan ketegangan, sehingga badan kita terkondisi untuk memberikan penghayatan yang tetap menenangkan meskipun menghadapi peristiwa yang sebelumnya menimbulkan ketegangan. 

  1. Pelatihan Relaksasi Neuromuscular

Pelatihan relaksasi neuromuscular adalah satu program yang terdiri dari latihan-latihan sistematis yang melatih otot dan komponen-komponen sistem saraf yang mengendalikan aktivitas otot. Sasarannya ialah mengurangi ketegangan dalam otot. Karena otot merupakan bagian yang begitu besar dari badan kita, maka pengurangan ketegangan pada otot berarti pengurangan ketegangan yang nyata dari seluruh badan kita. Individu diajari untuk secara sadar mampu merelakskan otot sesuai dengan kemauannya setiap saat. 

  1. Teknik Penenangan Melalui Aktivitas Fisik

Tujuan utama penggunaan teknik penenangan melalui aktivitas fisik ialah untuk menghamburkan atau untuk menggunakan sampai habis hasil-hasil stres yang diproduksi oleh ketakutan dan ancaman, atau yang mengubah sistem hormon dan saraf kita kedalam sikap mempertahankan. Kita dapat melakukan aktivitas fisik sebelum dan sesudah stres. Kita semua merasakan bahwa, dalam menghadapi situasi yang kita rasakan sebagai penuh stres, timbul satu kesigapan umum untuk melakukan sesuatu, timbul tambahan tenaga (untuk ‘melarikan diri’ atau untuk ‘melawan’) yang timbul sebagai akibat perubahan-perubahan dalam sistem hormon dan sistem saraf kita. Aktivitas yang sesuai dalam hal ini ialah latihan keseluruhan badan, seperti berenang, lari, menari, bersepedaatau olahraga lain selama kurang lebih satu jam. 

 

 

  1. METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian Non-Eksperimental karena tidak ada intervensi atau rekayasa dari peneliti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang merupakan metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas Sugiyono (2005: 21). Variabel yang digunakan adalah manajemen stress individu, dengan derajat Caregiver Burden sebagai variabel penunjang. Rencana penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga sebagai caregiver pasien demensia yang mendapatkan pelayanan rawat jalan di instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dimana pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia selama 2 minggu pada September yang ada di unit rawat jalan instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

  1. HASIL PENELITIAN

Proses Penelitian

No.

Proses Penelitian

Jadwal Pelaksanaan

Tempat Pelaksanaan

1.

Studi Pendahuluan 

Januari – Agustus 2017

Instalasi Psikogeriatri

2.

Pengajuan Proposal

September 2017

-

3.

Pengambilan data

3,4,10,11,17,18,24,15,31 Oktober 2017

Unit Day Care Instalasi Psikogeriatri

4.

Pengolahan data

Minggu ke 4 Oktober 2017

Instalasi Psikogeriatri

5.

Presentasi / Publikasi

4-5 November 2017

Konferensi Internasional Alzheimer ke 20 di Jakarta

 

Pembahasan

  1. Teknik Manajemen Stress

Pada penelitian didapatkan 17 responden selama masa pengambilan data. Data diambil pada saat caregiver mendampingi ODD melakukan kunjungan rawat jalan di unit daycare instalasi psikogeriatri. Responden diperoleh lebih sedikit karena hanya 17 orang yang memenuhi kriteria inklusi dari 20 kunjungan pada bulan Oktober 2017.

Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data teknik personal manajemen stres menggunakan alat kuesioner terbuka. Dari kuesioner tersebut ditemukan data sebagai berikut, 4 ( 23%) orang menyatakan berdoa sebagai bentuk meditasi untuk mengurangi stress, 2 (12%)  orang menyatakan melakukan komunikasi dengan ODD sebagai cara mengurangi stress, 6 (35%)  orang menyatakan melakukan aktifitas fisik lain selain merawat ODD, 2 (12%) orang menyatakan mencari bantuan orang lain atau saudara untuk merawat ODD, 1 (6%) orang menyatakan menghindar saat ODD mulai marah, dan  2 (12%) orang tidak menjawab pertanyaan.

Dari data diatas diperoleh 5 bentuk perilaku yang merupakan  teknik manajemen stress sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan masing-masing individu responden. Teknik tersebut antara lain berdoa, aktifitas fisik, mencari bantuan, komunikasi dan menghindari masalah.

Pada teknik manajemen stress berupa berdoa sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Munandar ( 2001) bahwa salah satu teknik manajemen stress adalah dengan teknik penenangan pikiran memalui meditasi. Dalam hal ini berdoa merupakan ritual keagamaan yang merupakan bentuk meditasi yang efektif bagi orang dengan spiritualitas yang tinggi. Hawari (2001) juga menungkapkan bahwa manusia adalah makhluk fitrah berketuhanan dan karenanya memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar spiritual yang diantaranya adalah berdoa dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai penelitian membuktikan bahwa tingkat keimanan seseorang erat hubungannya dengan kekebalan fisik maupun mental.

Pada penelitian diperoleh data bahwa aktifitas fisik merupakan manajemen stress yang paling banyak dilakukan oleh responden yaitu 35 % dari 17 responden. Aktifitas fisik yang dilakukan bervariasi sesuai minat masing-masing responden diantaranya berkebun, beternak, memasak , berbelanja, bermain dengan gawai ( smartphone, televisi), mendengaran musik, dan merenovasi rumah secara secara berkala dan bahkan juga tidur. Pada teknik manajemen stress berupa aktifitas fisik juga sesuai dengan pendapat Munandar (2001) menajemen stress dengan teknik penenangan pikiran melaui aktifitas fisik. Selama melakukan aktivitas fisik seluruh sistem badan dirangsang untuk beraksi,bergerak. Setelah kegiatan, sistem-sistemnya memantul dengan cara makin melambat (by slowing down), dengan demikian mendorong ke relaksasi dan ketenangan . Munandar (2001). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hawari ( 2001) bahwa olah raga juga merupakan salah satu upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress. Selain itu Hawari juga menyampaikan bahwa tidur cukup juga dapat meningkatkan daya tahan terhadap stress. Tidur adalah obat alamiah yang dapat memulihkan segala keletihan fisik dan mental. Priyoto (2014) juga menyampaikan bahwa melakukan hal yang menyenangkan juga bagian dari merawat dan menjaga diri untuk membangun daya tahan diri dari stress dan depresi.

Pada teknik manajemen stress mencari bantuan sesuai dengan teori manajemen stress kerekayasaan organisasi yang diungkapkan oleh Munandar ( 2001). Pada perawatan ODD kerekayasaan organisasi adalah membagi tugas dan tanggungjawab perawatan kepada anggota keluarga lain atau kepada caregiver formal. Dengan demikian caregiver utama dapat mengambil waktu bagi dirinya sendiri untuk menghindari kelelahan fisik dan mental.

Teknik manajemen stress dengan cara berkomunikasi yang dimaksudkan adalah dengan cara bercerita kepada orang lain tentang situasi dan kondisi yang dihadapi caregiver selama merawat ODD atau biasanya disebut dengan “curhat” yang berarti curahan hati. Teknik ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Priyoto (2014) tentang membangun hubungan yang mendukung. Dalam bukunya dikatakan bahwa dengan adanya keluarga, sudara atau teman dimana kita bisa “curhat” sangat penting untuk mencegah dan mengatasi stress yang mungkin dapat berujung depresi. Hawari (2001) juga menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk social , sesorang tidak dapat hidup sendiri atau menyendiri. Untuk meningkatkan daya tahan terhadap stress hendaknya banyak bergaul atau dengan kata lain memperbanyak tali silaturahmi antar sesama yang serasi, selaras dan seimbang. Dalam hidupnya manusia memerlukan orang lain yang dapat dipercaya kepada siapa ia dapat mengeluarkan segala macam persoalan yang menimbulkan stress, kecemasan dan atau depresi.

Pada penelitian ini diperoleh 1 dari 17 orang menjawab menghindar saat ODD marah untuk menghindari stress. Perilaku menghindar ini dimaksudkan agar responden tidak mendengar kata-kata yang tidak nyaman didengar dari ODD sehingga responden tidak ikut marah dan memberikan feedback negatif kepada ODD. Perilaku ini sesuai dengan penatalaksaan ODD oleh Turana (2007) bahwa caregiver sebaiknya menghindari konfrontasi dengan pasien demensia. Pergi menenangkan diri  dan berpikir jernih dengan menjauhi masalah yang dapat menimbulkan kemarahan merupakan salah satu manajemen marah. (id.wikihow.com/Menenangkan-Diri-saat-Marah). Hal ini berhubungan dengan manajemen stress karena pada anger in atau marah implisit yang berkepanjangan yang tidak diatasi dengan baik dapat menimbulkan stress yang dapat memunculkan depresi dan kebencian. ( Suhanda, 2017)

Pada penelitian ini didapatkan 2 orang responden yang tidak menjawab pertanyaan mengenai manajemen stress. Hal ini dapat disebabkan karena pada saat mengisi kuesioner responden juga sedang sibuk mengurus keperluan ODD yang sedang melakukan pemeriksaan sehingga ada pertanyaan yang terlewat.  Hal ini juga dapat terjadi karena saat sedang mengisi kuesioner responden sedang dalam kondisi tidak sehat atau lelah sehingga tidak dapat fokus menjawab pertanyaan.

  1. Caregiver Burden Assesment

Pada penelitian ini dilakukan penilaian derajat burden atau dampak yang dialami caregiver akibat merawat  ODD. Penilaian ini dilakukan menggunakan alat ukur berupa Caregiver Burden Assesment. Data menunjukan bahwa dari 17 responden didapati responden yang mengalami burden derajat sangat rendah 2 orang ( 12%), derajat rendah 3 orang ( 18%), derajat sedang 4 orang ( 35% ), derajat tinggi 3  orang (23%), derajat sangat tinggi 2 orang (12 %). Pada kelompok responden ini diketahui mayoritas mengalami caregiver derajat sedang dengan kecenderungan derajat tinggi dan sangat tinggi lebih banyak daripada derajat rendah dan sangat rendah. Fenomena ini dapat berhubungan dengan durasi atau lama pengalaman responden dalam merawat ODD. Pada data menununjukan bahwa dari 17 responden  telah merawat ODD  ≤ 1 tahun sebanyak 12 orang ( 70 %) ,  > 1-  ≤ 2 tahun sebanyak 2 orang ( 12%),  > 3- ≤ 4 tahun sebanyak 1 orang (6%) , > 5 tahun sebanyak 2 orang ( 12 %). Mayoritas responden telah merawat ODD kurang dari atau sama dengan 1 tahun. Pada masa ini responden sedang dalam masa adaptasi dalam merawat ODD. Situasi dan pola hidup responden berubah ketika mulai merawat ODD, baik yang merawat mulai awal keluarga didiagnosa dementia maupun yang merawat saat ODD sudah menderita dementia sejak lama. Perubahan tersebut membuat responden harus menyesuaikan diri dengan tugasnya merawat dan mendampingi ODD. Tanggungjawab dan tugas merawat ODD juga menimbulkan perbedaan cara seseorang dalam hal ini caregiver dalam menentukan sebuah keputusan. Perubahan dan perbedaan tersebut yang akhirnya menuntut setiap orang beradaptasi jika hal itu dapat dilakukan dengan baik maka akan tercipta keseimbangan. Namun jika hal tersebut tidak dapat dilakukan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin jika orang tersebut akan mengalami stress. (www.ilmukeperawatan.info). Pada fenomena ini dapat dilakukan penelitian yang lebih spesifik dan mendalam mengenai hubungan durasi merawat ODD dengan kejadian caregiver burden. 

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  • Pada penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
  • Teknik personal manajemen stress pada caregiver ODD di Unit Day Care Intstalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodingrat Lawang sebagai berikut :
    • Melakukan aktifitas fisik
    • Berdoa sebagai meditasi
    • Komunikasi
    • Mencari bantuan
    • Menghindari masalah untuk mengontrol marah
  • Teknik personal manajemen stress yang paling banyak digunakan adalah melakukan aktifitas fisik yaitu sebanyak 35 % dari 17 responden.
  • Proporsi caregiver burden pada caregiver ODD di Unit Day Care Intstalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodingrat Lawang adalah caregiver burden derajat sangat rendah 12 % , derajat rendah 18 %, derajat sedang 35 %, derajat tinggi 23 %, derajat sangat tingi 12 %.
  • Terdapat kecenderungan caregiver ODD Unit Day Care Intstalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodingrat Lawang mengalami burden derajat sedang hingga sangat tinggi.

Saran

  • Caregiver ODD di Unit Day Care Instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodingrat Lawang cenderung mengalami burden derajat sedang hingga sangat tinggi. Hal ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi seluruh praktisi kesehatan di Instalasi Psikogeriatri untuk dapat memberikan pelayanan holistik, tidak hanya bagi ODD yang bersangkutan tetapi juga lingkungan dan keluarganya termasuk caregiver.
  • Hasil penelitian mengenai teknik personal manajemen stress dapat dijadikan bahan masukan dalam memberikan KIE kepada ODD dan keluarga.
  • Teknik personal manajemen stress dapat dijadikan materi pada pelatihan caregiver di Instalasi Psikogeriatri.
  • Dapat dikembangkan sebagai bahan penelitian berkelanjutan di Instalasi Psikogeriatri RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials