Detail

Blog Image

Kehadiran Keluarga, Bantu Lansia jauh dari Pikun

Yuni Hermawaty

Psikolog di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Memperingati World Alzheimer Month di bulan September ini. Rasanya tidak ada satupun orang yang berniat jadi pikun, memiliki gejala tidak mampu mengingat hal-hal yang pernah ia alami. Sekalipun pikun atau lupa dapat dialami oleh semua orang, umumnya gejala ini di alami bersamaan dengan meningkatnya usia. Umumnya usia di atas usia 60 tahun. Bayangkan jika kakek atau nenek kita menjadi bingung ketika banyak hal yang ada dalam memorinya menjadi berkurang perlahan, termasuk lupa nama cucunya. Betapa menyedihkannya jika hal itu terjadi. Lantas apakah seseorang yang lanjut usia memiliki peluang untuk tetap memiliki ketajaman daya ingat pada usianya? Pakar gerontology Warner Schale menjelaskan jika masih memungkinkan seorang lanjut usia berada pada kategori sebagai berikut:

  1. Kondisi yang sehat
  2. Tinggal dalam lingkungan yang memiliki pendapatan memadai dan memiliki keluarga yang utuh.
  3. Memiliki kepribadian fleksibel (mudah menyesuaikan kondisi dan tidak mudah stress)
  4. Memiliki pasangan yang bijak dan mudah diajak bertukar pikiran
  5. Merasa puas dengan prestasi yang dicapai oleh para usia lanjut di usia produktifnya.
  6. Sering terlibat dalam kegiatan yang bersifat merangsang kemampuan kognitif/ pikir, seperti suka membaca, suka berpergian, gemar belajar, gemar berada dalam kelompok untuk bertukar pikiran, merupakan seseorang yang professional pada bidangnya sehingga rajin menggunakan kemampuan pikirnya.

Apa yang telah dipaparkan, menjelaskan bahwa jika seseorang menjaga apa yang diberikan Tuhan YME melalui kemampuan pikir dan kesehatannya, maka kemampuannya akan tetap bertahan sekalipun ia sudah berada pada usia lanjut. Usia yang bertambah tidak selalu membuat kemampuan kognitif akan hilang. Seseorang yang aktif dalam lingkungannya membuat ia memiliki peluang yang lebih baik untuk mempertahankan kemampuan kognitifnya. Seseorang yang pasif digambarkan sebagai seseorang yang tidak menggunakan peluang waktu untuk menggerakkan pikiran dan fisiknya. Hal ini akan memudahkan seseorang dekat dengan kelupaan bahkan menuju demensia. Seseorang yang pasif justru akan semakin dekat dengan berbagai penyakit.

Penelitian  lainnya juga membuktikan jika sebenarnya otak memiliki kebutuhan untuk bekerja. Bekerja yang dimaksud adalah bekerja untuk melatih otak. Kegiatan-kegiatan rutinpun dapat dijadikan media untuk latihan para lanjut usia. Tidak ada salahnya ketika seseorang gemar membaca maka tetaplah konsisten untuk melakukan kegiatan tersebut, menulis, mengisi teka-teki silang, ataupun bermain musik. Hobi yang dilakukan secara rutin ternyata memberikan asupan yang besar untuk mengurangi penurunan mental seseorang. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh jari, tangan, tubuh membuat motorik yang ada didalam tubuh tetap aktif, hal ini kemudian memicu kinerja otak. Hal ini menjauhkan para lanjut usia untuk terkena resiko demensia.

Ternyata mengurangi resiko demensia erat kaitannya dengan kondisi mental yang sehat. Individu dan keluarga perlu menjaga para lanjut usia untuk berada dalam kondisi mental yang kondusif, dengan menciptakan kasih dan sayang di lingkungan keluarga, berikan perhatian utuh pada mereka. Ini membuat mereka yang lanjut usia merasa bahagia. Ada dua kondisi mental yang perlu dijaga, pertama kondisi mental yang terlalu tegang dan kedua kondisi mental yang mengarah pada kesedihan. Kondisi tegang akan memudahkan seseorang terkena demensia. Kondisi ketegangan memicu meningkatkan tekanan darah dan kardivaskular. Di situasi keluarga yang memiliki banyak masalah, membuat para lanjut usia terlalu berpikir keras. Ini sangat riskan bagi para lanjut usia. Keluarga perlu memilah hal yang perlu diketahui oleh para lanjut usia, bukan menyimpan atau membohongi namun memilah. Kondisi kedua yang juga mengganggu kondisi mental seseorang adalah situasi yang dapat menimbulkan kesedihan. Salah satu contohnya adalah kesepian. Kesepian ternyata dapat membuat efek penurunan mental. Seseorang yang merasa sepi dan sendiri perlahan menciptakan situasi kesedihan yang ditekan. Tidak jarang situasi yang tercipta membuat mereka yang berusia lanjut merasa depresi (sedih berkepanjangan dan kurang motivasi). Resiko demensia akan lebih mudah diperoleh pada kondisi depresi. Menghindari hal ini, keluarga bisa  membuat sistim atau jadual rutin kunjungan bagi para lanjut usia. Ketika anak dan cucu memiliki kesibukan masing-masing maka perlu dibuatkan jadual rutin. Kehadiran anggota keluarga dapat meningkatkan kebahagiaan dari para lanjut usia. Mereka dapat mencurahkan kasih, berkeluh kesah atau mengungkapkan keberhasilannya akan suatu hal. Ingat, kehadiran yang diperlukan bukan sekedar kehadiran secara fisik. Tinggalkan kesenangan dan gadget sesaat agar relasi yang terjalin lebih berkualitas. Kondisi mental yang sehat memberikan porsi yang besar untuk terkena resiko demensia.

Beberapa alternatif cara yang dapat diusulkan untuk mencegah proses kemunduran kognitif (pikun) adalah:

  1. Lakukan komunikasi yang efektif, sosialisasi, ibadah (peningkatan spiritual), rekreasi pikiran (seperti berpergian, melakukan hobi, olahraga), dan melatih emosi. Ini cara yang dapat dilakukan lansia untuk meningkatkan fungsi kesehatan pikiran dasar.
  2. Tingkatkan daya ingat dengan selalu latihan, mengulang proses, beri perhatian pada hal sehari-hari seperti membuat jadwal harian, dan mencoba mengatifkan ingatan ketika lupa dengan cara asosiasi (mencoba mengkaitkan hal yang terlupa dengan hal lainnya/ jangan mudah menyerah dan mengatakan lupa).
  3. Beberapa alternatif latihan otak yang bisa dilakukan lansia secara intensif. Contoh :
    1. Latihan untuk melatih perhatian dan konsentrasi : dapat dilakukan dengan menjaga kontak mata ketika berkonsentrasi, bermain teka teki silang, membaca Koran, dll
    2. Latihan untuk melatih orientasi, contoh : lihat kalender setiap hari untuk mengingat hari, tanggal, bulan dan tahun. Bersosialisasi dan menyebutkan nama seseorang yang ditemui. Panggil nama anak dan cucu, serta berjalan-jalan sambil mengingat nama tempat terutama yang sering dilewati (dikunjungi). Dapat disebutkan pula kenangan-kenangan bersama waktu, tempat, atau orang tersebut.
    3. Latihan untuk mempertajam persepsi, contoh : mengenal suara, wajah, lokasi
    4. Latihan untuk mempertajam daya ingat jangka panjang :Mendengarkan/ bermain music kesukaan, hal ini juga akan meningkatkan memori melalui lirik lagu serta kenangan didalamnya.
    5. Latihan untuk menstimulasi fungsi otak dengan cara Senam otak, seperti gerakan menyilang yang umumnnya diajarkan pada gerakan senam lanjut usia.
    6. Latihan untuk menciptakan kondisi mental yang sehat, seperti melatih emosi, bersikap yang positif, bahagia dan toleransi.

Sekarang jadi tahu kan bahwa hidup sehat  secara fisik dan mental membuat kita terhindar dari resiko pikun/ demensia. Selanjutnya, Ayo katakan tidak untuk pikun!. 

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials