Detail

Blog Image

Menjawab Ancaman Ekonomi Akibat Kepikunan

dr. Yuniar Sunarko, SpKJ

Psikiater di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dan Anggota ALZI (Alzheimer Indonesia)-Malang Chapter

Bulan September adalah momen World alzheimer Month. Ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah demensia atau pikun. Disini, saya ingin menyampaikan opini saya terkait bagaimana menghadapi ancaman ekonomi dari kepikunan.

Berbagai keberhasilan di bidang kesehatan membuat lebih banyak orang di Indonesia hidup lebih panjang. Ini sesuatu yang sangat menggembirakan, karena warga senior dengan berbagai kemampuan dan pengalamannya dapat menjadi kontributor dalam pembangunan. Namun bagai keping uang bermata dua, kita juga harus menerima konsekuensi bahwa berbagai penyakit degeneratif juga meningkat seiring bertambah panjangnya usia harapan hidup. Demensia (kepikunan) adalah salah satu di antaranya.

Di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 900 juta orang berusia lebih dari 60 tahun, dan jumlah tersebut akan terus meningkat. Dalam World Azheimer’s Report 2015 yang dilansir oleh Alzheimer Disease International dinyatakan bahwa antara tahun 2015-2050 di negara berpenghasilan tinggi akan terdapat peningkatan jumlah warga senior sebesar 56%, sementara di negara berpenghasilan menengah diperkirakan peningkatan berada di kisaran 138 – 185 %. Sementara di negara berpenghasilan rendah – di mana sumberdaya untuk mengantisipasi berbagai konsekuensi penuaan populasi sangat terbatas – penduduk berusia lanjut diperkirakan akan meningkat sebesar 239% dalam periode tersebut. Kelompok negara yang disebut terakhir ini memikul beban ganda (double burden), di mana masalah kesehatan ibu dan akan serta penyakit infeksi masih menuntut perhatian besar sementara masalah penyakit degeneratif terus meningkat berlipat kali.

46,8 juta orang diperkirakan mengalami Demensia di seluruh dunia, dan 58% di antaranya berada di negara berpenghasilan menengah ke bawah. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun. Saat ini setiap 3 detik – bersamaan dengan setiap tarikan nafas kita - di seluruh dunia bertambah satu pasien yang di diagnosis mengalami  Demensia.

Setelah mencermati angka-angka tersebut, bersama-sama coba kita memahami bahwa dampak Demensia dapat dilihat pada tiga tingkatan yang saling berhubungan. Pertama yaitu Orang Dengan Demensia (ODD), kedua adalah keluarganya, dan  yang ketiga adalah masyarakat luas.  Demensia berkaitan dengan menurunnya usia harapan hidup, yang lebih memerlukan perhatian adalah kualitas hidup ODD sendiri dan keluarganya. Dibandingkan pendampingan pada penyakit lain, ODD memerlukan lebih banyak bantuan. Di tahap lanjut, mereka memerlukan bantuan hampir di semua aspek kehidupannya : makan, toileting, berpakaian, berpindah tempat, menjaga diri, dan sebagainya. Tentu ini bukan kualitas hidup yang diinginkan oleh semua orang yang berharap dianugerahi umur panjang. Sementara bagi keluarga / caregiver – nya, kelelahan bertubi-tubi yang timbul selama mendampingi ODD menambah berat beban sehari-hari mereka sendiri. Anggota keluarga yang 24 jam melakukan pendampingan tentu lama kelamaan akan tiba pada titik terbawah kekuatan fisik dan mentalnya. Konsekuensi lebih lanjutnya adalah penurunan produktivitas dan kualitas pekerjaan keluarga/ caregiver di luar kegiatan pendampingan ODD, karena setiap hari mereka akan berangkat kuliah atau bekerja dalam kondisi tidak prima. Ini disebut Informal Care Cost, yang belum pernah dapat dihitung secara pasti, namun diperkirakan proporsinya sebesar 40% dari beban ekonomi akibat Demensia. Global cost akibat Demensia di Amerika Serikat meningkat dari US$ 600 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 818 miliar atau 1,09% dari GDP pada tahun 2015. Angka pasti untuk Indonesia belum diperoleh, namun pasti tidak terlalu jauh dari angka tersebut, atau bahkan lebih besar.

Nah, bagaimanakah kita dapat menghadapi tantangan ekonomi akibat Demensia ini? Perlu diketahui bahwa negara-negara yang tergabung dalam G7 telah merilis Global Action Against Dementia. Aksi yang meliputi awareness raising (peningkatan kesadaran), komunitas ramah Demensia/ lansia, serta peningkatan kualitas pelayanan ini direkomendasikan untuk diikuti pula oleh negara- negara G20, di mana Indonesia termasuk di dalamnya.  Disebabkan karena peningkatan beban ekonomi akibat Demensia lebih tinggi di kelompok ini.

Kita harus mulai bahu membahu merancang strategi untuk meminimalkan dampak ekonomi akibat transisi demografi ini dengan segala sumberdaya yang kita miliki sekarang. Mulailah dari sekarang untuk memasyarakatkan gaya hidup sehat sejak dini agar tidak menambah populasi penyandang Demensia di masa depan. Bersediakah Anda? Dengan lantang, saya akan menjawab, “saya Bersedia”.

Kategori

Terkini

Tags

Testimonials